
Oleh: Ach. Jalaludin*)
Panamrin menabuh kendangnya dengan keras, sementara Mukrah terus memukul gamelan yang tak mengeluarkan suara. Di antara keduanya, hanya kesombongan yang terdengar paling nyaring.
”Tolong, jempol kananmu itu jangan kaku! Kendang bukan sekadar kayu dan kulit, ia adalah napas desa ini!”
Suara Panamrin memecah hening sore di sanggar. Beberapa pemuda desa menunduk, wajah mereka memucat.
Di pelosok Sumenep ini, orang tidak menyebutnya guru kesenian. Mereka menyebutnya panjha’ –penguasa ritme.
Saat ia memukul kendang, iramanya presisi seperti detak jantung yang diatur logika ketat.
Di sudut ruangan, saronen yang tergantung di dinding mengilap, saksi bisu masa kejayaannya sepuluh tahun silam, ketika grupnya, Sekar Anom, tampil di perayaan besar kabupaten dan gemuruh tepuk tangan ribuan orang membelah udara bersama lengkingan saronennya.
Kendang itu sendiri sudah menjadi bagian dari tubuhnya, kulitnya yang mengilap karena minyak telapak tangan, talinya yang selalu ia kencangkan sendiri setiap subuh sebelum orang lain bangun, retakan kecil di kayunya yang hanya ia hafal letaknya.
Bagi Panamrin, merawat kendang sama artinya dengan merawat dirinya sendiri: sesuatu yang tidak boleh disentuh sembarang tangan, apalagi diragukan kewibawaannya.
Baginya, panggung adalah tempat ia berhak menjadi satu-satunya pusat perhatian.
”Lihat!” seru Panamrin, memukul kendangnya sekali lagi hingga suaranya menggelegar memenuhi sanggar. ”Saronen tidak akan pernah terdengar megah tanpa kendang yang menuntunnya dengan tegas. Begitu pula orang-orang di desa ini, mereka tidak akan teratur tanpa aku yang mengatur nadanya.”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




