SAMPANG, RadarMadura.id – Madrasah berdiri berkat kepercayaan masyarakat kepada kiai. Cikal bakal pendirian madrasah itu biasanya berasal dari aktivitas mengaji anak-anak kepada kiai.
Mereka biasa menempati bangunan sederhana berupa surau atau langgar. Dalam perkembangannya, masyarakat menuntut dan mendukung lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal.
Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mambaul Ulum Kemuning merupakan salah satu lembaga yang dibangun berkat dukungan dan kebutuhan masyarakat.
Lembaga di Desa Karang Penang Oloh, Kecamatan Karang Penang, Sampang, ini didirikan oleh KH. Fauzi. Kini dipimpin oleh Lora Moh. Zakki.
Lora Zakki yang merupakan putra sulung Pengasuh KH. Muhyiddin Fauzi. Lora Zakki berinovasi dari tahun ke tahun.
”Beliau selalu berusaha melahirkan inovasi dan program untuk menyesuaikan dengan kondisi real semua peserta didik,” ujar Neng Zuyyinah selaku putri pengasuh.
Di antara berbagai program yang telah dilaksanakan yaitu manasik umrah. Kegiatan ini diikuti seluruh siswa dan santri di Mambaul Ulum Kemuning.
Pada tahun ajaran 2023–2024, ada program Bahagia Bersama Matematika (BBM) dan Educative Camp yang diikuti oleh semua peserta didik.
Khusus bulan puasa, digelar Dauroh Ramadan. Kegiatan itu diisi dengan kursus bahasa Arab selama kurang lebih dua puluh hari.
Dalam program ini, peserta yang merupakan siswa/siswi madrasah harus mengikuti semua jadwal kursus tiga kali sehari. Yaitu, taklim, muhafadhoh mufrodat, dan istima’.
”Kursus ini digelar agar siswa kami memiliki kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Arab,” jelas Neng Zuy.
Kemudian, ada program Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Seperti Tahun Baru Islam dan Maulid Nabi yang diisi oleh peserta didik. Kegiatan ini digelar agar siswa bisa mengambil ibrah dari berbagai peristiwa itu.
Madrasah ini juga memiliki program unggulan. Yaitu, baca kitab kuning khusus siswa/siswi kelas VI MI. Program itu dicetuskan untuk mencetak generasi-generasi yang tafaqquh fiddin.
”Mereka harus dibekali ilmu alatnya terlebih dahulu seperti nahwu-shorrof untuk membaca kitab kuning yang merupakan pintu pertama yang harus dilewati,” ucapnya.
Hasil dari program membaca kitab kuning bisa disaksikan oleh wali siswa/siswi pada acara wisuda purnasiswa. Pada saat itu, materi dan praktik membaca kitab didemonstrasikan di hadapan hadirin.
MI Mambaul Ulum Kemuning akan terus berupaya menunaikan kewajiban dengan memberikan pendidikan dan fasilitas sebaik-baiknya kepada peserta didik. Juga memenuhi hak suluruh tenaga pengajar.
”Hal ini terus diupayakan oleh pihak lembaga,” ujar alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta tersebut.
Neng Zuy mengakui ada kendala dalam mengembangkan lembaga. Di antaranya, kurangnya tenaga pengajar profesional di bidang keilmuan umum.
Salah satu penyebabnya adalah ketidaksanggupan lembaga karena kondisi ekonomi tidak stabil.
Hal itu berpengaruh terhadap jumlah peserta didik karena keilmuan umum juga penting. Adanya program BBM merupakan upaya dari pihak lembaga agar dapat memenuhi kebutuhan itu.
”Tahun ini lembaga bekerja sama dengan wali murid dan masyarakat sekitar guna membangun ekonomi mandiri madrasah,” tuturnya.
Saat ini yang baru digarap adalah bertani bersama. Jadi, lembaga menyediakan bibit, kemudian yang menanam wali murid dan masyarakat secara sukarela.
Hasilnya nanti masuk ke lembaga untuk pengadaan fasilitas dan pemenuhan pengembangan pendidikan siswa. (sin/luq)
Editor : Ina Herdiyana