Puisi M.Lailul Mubarok

Amin Basiri • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 12:22 WIB
Ilustrasi puisi
Ilustrasi puisi

SOCRATES

Memahami segala kekuranganmu

Adalah bukti bahwa sunyi menatap sebelah mata.

 

Aku terpaksa melawan segerombolan lelah

Hanya ingin dapat meski tanpa semangat

Agar kelak tubuh tak berkelahi

Di tengah kesunyian hari.

 

Kedunguanmu yang tak sempat kubaca

Telah membawa lelah

Dalam ribuan tawa.

 

Dulu guraumu yang menghantarkan cemas

Kini jadi angan dalam kenangan.

 

Sesengguhnya tubuh tak tahan

Hanya saja aku terpaksa.

Pehas,2026

 

RAYUAN

Rayuan kata di kala senja mengumpulkan kening

Membuatmu tidak masih termenung

Kupeluk tidakmu agar dapat tertunduk

Sambil kulukai sekitar rumahnya tuhan.

 

Lalu kubungkamkan mulut

Agar mimpimu merangkai kisah angan.

 

Ketika tuhan memanggil segala 

Aku terbangun sebelumnya

Sambil kata kuteduhkan dalam anganmu

Agar tidak dapat membisu.

 

Lukman,2026

 

KELERENG

 

Di pinggir kesunyian pantai

Ia berdiri tangannya memanggil

Pada mereka yang melangkah

Dengan arah tak sampai tujuan.

 

Waktu telah memotong ribuan angan

Dan mereka nyerah sebagai pecundang

Tapi ia datang sebagai bara

Yang menyalakan segala cahaya.

 

Sunyi telah berkeliaran di alamatnya

Tanpa mengucap satu kata

Mereka bubar di kejauhan senja.

 

Lubtara,2026

 

KORAN

 

Tubuhmu terdampar di kesunyian jiwa

Tangannya yang berusaha menarik mata

Agar hati dapat menyapa.

 

Kini rumahku telah runtuh di kediaman waktu

Berdiri tegak sunyi memandangmu

Sebagian menjadi bara api

Yang mereka ingin tanpa angin.

 

Bukan lelah tak mau 

Memandang gembira di terik matahari

Tapi ini segala menerangkan kemampuan

Yang masih ingin tertidur dalam angan.

 

Perpustakaan, 2026

 

PESAN YANG TAK TERSAMPAIKAN

 

Kuapungkan kata melalui nyawa

Merapal hati yang ingin tersampaikan

Dan menghaturkan harap

Agar cepat sunyi dalam gelombang senyap.

 

Tubuhku memaksa ingatan untuk hilang

Serta paksa telah termakan oleh keadaan

Namun orang-orang menyapaku

Ketika setan menghilangkan kata mau.

 

Pertanyaan yang seharusnya memberi kata hura

Kini telah menjatuhkanku dalam kecewa.

 

Hilya,2026

 

HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

 

Angin masih bersemayam bersama sunyi

Mengelilingi segala aliran sepi

Akan mati

Jika ada kata tidak abadi.

 

Tapi kini kau abadi dalam puisi

Namun tak juga dengan hidupmu.

 

Teruslah lahap segala tubuh penyair

Hingga mati

Hingga hidup seribu tahun lagi.

 

Bingung,2026

 

BODOH

 

Sudah berapa kali kata kumuntahkan

Dari awal hingga ujung

Ingatanmu tak kunjung menyadari

Betapa baiknya kata di detik itu.

 

Namun tak dengan kini

Karena mulutku sudah terkunci

Oleh gerakanmu yang dimainkan dalam sepi.

 

Yana,2026

 

*)Alumnus Siratul Islam. Beberapa puisinya nangkring di pelbagai media cetak maupun online.

Editor : Amin Basiri
sastra puisi