Ponpes Al-Haramain Tetap Pertahankan Tradisi Salaf

Amin Bashiri • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 20:10 WIB
SALAF: Pengasuh Ponpes Al-Haramain Duwa’ Pote, Sampang Vivin Maimunah Hasan Iraqie membaca kitab yang biasa diajarkan pada santri, di kediamannya, di Kelurahan Gunung Sekar, Sampang.
SALAF: Pengasuh Ponpes Al-Haramain Duwa’ Pote, Sampang Vivin Maimunah Hasan Iraqie membaca kitab yang biasa diajarkan pada santri, di kediamannya, di Kelurahan Gunung Sekar, Sampang.

SAMPANG, RadarMadura.id - Ditengah gempuran teknologi informasi yang sangat pesat, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Haramain Duwa’ Pote, Sampang, tetap mempertahankan tradisi pendidikan salaf berbasis kitab kuning.

Bagi pengasuh, tradisi tersebut merupakan warisan pendahulu yang harus dijaga di tengah perkembangan pendidikan formal.

Perwakilan keluarga pengasuh Ponpes Al-Haramain, Vivin Maimunah Hasan Iraqie, mengatakan, pesantren yang berdiri sejak 1942 itu mulai menerapkan pendidikan formal jenjang SMP pada 2005 dan SMA pada 2007. Namun, kitab kuning tetap menjadi fokus utama pembelajaran.

”Walaupun sudah ada kurikulum formal, kami tetap memfokuskan santri pada kurikulum salaf berupa kitab kuning,” katanya.

Sebagai generasi ketiga, Vivin bersama kakaknya, KH Izzat Hasan Iraqie, melanjutkan pengelolaan pesantren tersebut. Pembelajaran salaf tetap menggunakan metode sorogan dan madrasah diniyah.

”Kami mempertahankan tradisi salaf karena tidak akan menghilangkan sesuatu yang menjadi asal muasal dan sejarah berdirinya pondok ini. Kami hanya melengkapi kurikulum agar lebih baik dengan adanya pendidikan formal,” jelasnya.

Menurut Vivin, perpaduan pendidikan salaf dan formal diharapkan mampu mencetak alumni yang siap menghadapi kehidupan bermasyarakat, baik dari segi keagamaan maupun sosial.

Meski demikian, menjaga tradisi salaf memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya, santri kini lebih mudah bosan. Karena itu, pengajar dituntut kreatif agar materi kitab kuning mudah dipahami.

Dia berpesan agar para alumni tidak melupakan ilmu yang diperoleh selama mondok dan menjadikannya pedoman hidup.

”Jadikanlah sebagai pegangan hidup seorang santri. Santri selamanya tetap santri di mana pun berada,” tandasnya. (bai/han)

Editor : Amin Bashiri
ponpes Al-Haramain tradisi salaf