
SAMPANG, RadarMadura.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sampang menilai Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang kurang sigap mengatasi persoalan yang dialami satuan pendidikan. Indikasinya, tidak sigap memperbaiki kerusakan infrastruktur dan memilih mengalokasikan anggaran setengah miliar lebih untuk belanja makan dan minum (mamin).
Ketua Cabang HMI Kabupaten Sampang Hasyim mengatakan, sejak dulu telah menyoroti pengalokasian anggaran di dispendik. Apalagi, nominal anggaran untuk belanja mamin sangat fantastis. ”Kurang etis karena masih banyak hal dan persoalan yang lebih penting,” katanya.
Menurutnya, anggaran mamin Rp 604 juta itu secara tidak langsung mengabaikan program yang lebih diprioritaskan. Misalnya seperti infrastruktur sekolah yang mengalami banyak kerusakan, keterbatasan sarana prasarana dan sengketa lahan.
”Banyak kasus yang membutuhkan perhatian, temasuk sekolah yang terpaksa ditutup permanen,” tambahnya.
Dia menilai Dispendik Sampang terkesan menutup mata dan kurang sigap mencari solusi konkret terkait sengketa lahan. Misalnya memberikan pendampingan hukum untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
”SDN Sokobanah Tengah 2 ditutup permanen dan saat ini muridnya menumpang di PAUD. Itu belum termasuk sengketa lahan di Torjun dan Omben,” ungkapnya.
Hasyim memaparkan bahwa anggaran ratusan juta itu semestinya dimanfaatkan untuk program prioritas. Apalagi, saat ini sedang terjadi efisiensi anggaran. Termasuk pengurangan dana transfer ke daerah (TKD).
”PAD di Kabupaten Sampang belum maksimal. Seharusnya dispendik harus menghemat anggaran,” pungkasnya. (ay/yan)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




