Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ketum PBNU Ingatkan Pengurus Siap Susah Payah

Hera Marylia Damayanti • Senin, 18 Mei 2026 | 05:40 WIB
TEGAS: Ketua Umum (Ketum) PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan sambutan dalam pelantikan pengurus PCNU Pamekasan di Pondok Pesantren Matsaratul Huda Panempan, Pamekasan, Sabtu (16/5) malam. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
TEGAS: Ketua Umum (Ketum) PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan sambutan dalam pelantikan pengurus PCNU Pamekasan di Pondok Pesantren Matsaratul Huda Panempan, Pamekasan, Sabtu (16/5) malam. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU) disebut tidak pernah lepas dari fase perjuangan dan kesulitan.

Para pengurus diingatkan agar tidak terlena dengan kondisi yang serba nyaman pada era sekarang.

Sebaliknya, pengurus diminta kembali meneguhkan semangat khidmat dan perjuangan untuk umat.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menghadiri pelantikan pengurus PCNU Pamekasan di Pondok Pesantren Matsaratul Huda pada Sabtu (16/5) malam.

Baca Juga: Laptop Bisnis Makin Canggih, Asus ExpertBook Ultra B4906 Usung Teknologi AI, Baterai Tahan Lama, dan Bodi Premium Super Ringkas

Dalam pidatonya, Gus Yahya menegaskan bahwa cita-cita para muassis NU sejak awal bukan hanya memikirkan kalangan santri maupun warga nahdliyin.

Para pendiri NU memiliki ikhtiar besar membangun peradaban yang lebih mulia bagi seluruh umat manusia.

Hal itu dibuktikan saat para pendiri NU ikut terlibat mendirikan NKRI dengan menegaskan cita-cita kemanusiaan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

”Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” ujarnya.

Menurut Gus Yahya, besarnya cita-cita tersebut membuat jamiyah NU terus berkembang. Dia menyebut, ketika NU berdiri hanya diikuti sekitar 30 ulama.

Namun, pada sekitar 1950 jumlah pengikut NU sudah mencapai sekitar 18 persen dari populasi penduduk Indonesia.

Perkembangan itu terus meningkat. Pada 2005, warga yang mengaku sebagai pengikut NU mencapai sekitar 27 persen dari populasi Indonesia.

Bahkan, berdasarkan hasil survei terbaru pada 2024, sebanyak 57,2 persen masyarakat Indonesia mengaku sebagai pengikut NU.

Baca Juga: Vivo Y31d Pro Resmi Meluncur dengan Harga Kompetitif dan Spesifikasi Andal yang Disebut Cocok untuk Pengguna Harian Modern

Meski demikian, Gus Yahya mengingatkan bahwa sejarah NU selalu diwarnai pasang surut.

Para masyayikh dan pendahulu NU pernah menghadapi masa sulit mulai dari kolonialisme penjajah, konflik antarkelompok, pemberontakan PKI hingga tekanan pada era Orde Baru.

Karena itu, dia meminta para pengurus NU tidak terlena dengan kondisi reformasi yang dinilai serba nyaman.

”Jangan sampai kita terbuai dengan yang enak-enak itu. Mari kembali kita ingat bahwa kita ada di NU untuk berkhidmat, bahwa kita ada di sini untuk berjuang,” katanya.

Gus Yahya menegaskan, menjadi pengurus NU bukan untuk mencari kenyamanan maupun keuntungan pribadi.

Sebaliknya, pengurus harus siap menghadapi kesulitan dalam menjalankan amanah organisasi.

”Tadi pengurus sudah dibaiat, kok berani. Ini jihad, bukan nagih uang hibah. Pengurus NU itu juga harus mau susah. Kalau tidak mau susah, berhenti jadi pengurus. Jihad dalam organisasi berarti siap bersusah payah demi mencapai tujuan besar yang bermakna,” ingatnya.

Dia juga menyampaikan wasiat pamannya, KH Mustofa Bisri, bahwa pengurus NU tidak berhak mengeluh.

Justru pengurus harus siap menerima keluhan warga dan mencarikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga: MPV Listrik Paling Laku Tahun 2026 Resmi Kuasai Pasar Indonesia, Ini Harga BYD, Wuling, Xpeng dan Maxus Terbaru

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya turut menyinggung kondisi ekonomi dan situasi global yang tengah memicu kegelisahan masyarakat, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga konflik perang di Iran.

Namun, dia mengajak warga NU tetap berhusnuzan kepada Allah SWT.

Mengutip dawuh KH Hasyim Asyari, dia menyebut berbagai cobaan, musibah, dan kesempitan hidup merupakan ujian untuk membuktikan kualitas keimanan seseorang.

”Apa pun kesulitan yang kita hadapi, kita tidak akan mengeluh dan terus berjuang untuk menjemput kehidupan yang gemilang,” imbuhnya.

Gus Yahya menitipkan pesan agar warga NU terus menghidupkan gairah ruhaniyah dan kecintaan kepada ulama, salah satunya dengan rutin menghadiahkan Surah Al-Fatihah kepada para ulama NU.

Sementara itu, Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir menyampaikan bahwa sinergi antarelemen NU tidak bisa dikesampingkan untuk menyambung berkah jamiyah.

Menurut dia, kepengurusan PCNU Pamekasan hasil konfercab tidak sekadar menjadi struktur organisasi, melainkan memiliki tanggung jawab merawat dan membesarkan NU.

Dia menjelaskan, kepengurusan yang dibentuk berupaya mengakomodasi seluruh unsur, mulai dari kalangan pesantren, akademisi hingga profesional.

Sebab, tantangan organisasi saat ini dinilai semakin kompleks dan beragam.

”NU harus diperkuat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kondisi ideologi masyarakat yang plural, maka NU harus hadir dengan cara yang bijak,” sambungnya.

Muchlis menambahkan, seluruh elemen NU harus saling memperkuat satu sama lain demi menjaga soliditas organisasi.

Dia juga memohon doa dan dukungan seluruh pihak agar kepengurusan yang baru dilantik dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik. (afg/yan)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Ketua Umum PBNU #pengurus PCNU Pamekasan #pelantikan