Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Impian Guru Honorer

Hera Marylia Damayanti • Sabtu, 15 November 2025 | 14:47 WIB
Nurul Jannah, guru SDN Pagendingan 2, Kecamatan Galis, Pamekasan
Nurul Jannah, guru SDN Pagendingan 2, Kecamatan Galis, Pamekasan

Oleh NURUL JANNAH

 

MERAIH mimpi itu memang tidaklah mudah, dibutuhkan perjuangan yang sangat, doa yang istiqamah serta usaha yang gigih dan sungguh-sungguh. Salah satu profesi yang paling banyak diidamkan adalah menjadi ASN, di luar sana ada banyak orang yang mengimpikan diri menjadi seorang ASN. Pasalnya, dengan berprofesi sebagai ASN, setidaknya akan bisa mengangkat harkat dan martabat diri. Di samping itu, dengan menjadi ASN, seseorang akan mendapatkan bisyarah yang layak dan rutin di setiap bulannya guna bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Hilmiya Nailal Husna, kerap dipanggil bu Naila, perempuan kelahiran Sumenep, 03 Januari 1989 yang silam. Seorang guru honorer di sebuah madrasah swasta di kota Sumenep, bertahun-tahun dia mengabdi, dengan bisyarah sekadarnya yang dia dapatkan. 

Orang kecil kerap kali dipandang sebelah mata, begitulah yang dialami bu Hilna, utang-utang kedua orang tua yang tak kunjung terlunasi, kebutuhan hidup yang sering kali belum bisa terpenuhi, membuat dia dan keluarga bertahun-tahun harus bersabar menerima sindiran dan cacian dari orang-orang sekitar karena kondisi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk di kala itu.

Di tengah kebutuhan ekonomi keluarga yang semakin sarat, hari demi hari bu Hilna jalani dengan penuh semangat dan kesabaran, berharap suatu saat nanti akan ada jalan hidup yang lebih mudah dan barokah. Dukungan dari suami dan kehadiran seorang buah hati yang dia miliki membuatnya semakin kuat untuk bertahan dan semakin gigih untuk berusaha, berbagai upaya dia lakukan sebagai jalan untuk menjemput rezeki Tuhan, mulai dari mengambil jadwal les privat untuk anak-anak hingga berjualan pernak-pernik kerajinan tangan homemade yang dibuatnya dari bahan-bahan yang murah dan sederhana, lalu dia pasarkan di kantin-kantin sekolah dan toko-toko terdekat, dan hasilnya alhamdulillah lumayan untuk tambahan pemasukan keluarga.

September 2017, bu Hilna mendapatkan surprise yang luar biasa, notifikasi email dia dapatkan, rupanya dia terpanggil untuk melanjutkan studi di pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dengan jalur beasiswa, beasiswa guru Kemenag namanya. Syukur yang tak terhingga dia panjatkan, seorang anak petani yang dulu seakan hanya mimpi untuk bisa menuntaskan kuliah S-1-nya, kini bisa mengenyam studi di sebuah universitas ternama di Surabaya, pun dengan jalur beasiswa, di mana selain free biaya studi, dalam beasiswa ini mahasiswa juga mendapatkan uang pembinaan sebesar 21 juta per tahun. Kebahagiaan terpancar dari mata bu Hilna, uang pembinaan yang dia peroleh sebagian dia sisihkan untuk kebutuhan studi, sebagian untuk kebutuhan keluarga dan sebagian lagi dia tabung untuk mewujudkan impiannya membangun rumah masa depan.   

Hari demi hari bu Hilna lalui, meski kadang lelah dan letih, perjalanan Madura-Surabaya terus ditempanya, waktu seakan berjalan begitu cepat, tanpa terasa dua tahun studi pascasarjana telah dia jalani, berbagai ujian akhir pun telah dia tuntaskan, puncak kebahagiaan dia rasakan pada 21 September 2019 yang lalu, dia diwisuda dan resmi menyandang gelar magister. Terima kasih Yaa Rabb, ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Hari dan bulan pun silih berganti, bu Hilna kembali melanjutkan hari-harinya di almamater tercinta, di madrasah tempat dia mengabdi, melanjutkan kewajibannya sebagai pendidik yang sempat terhenti di saat sedang melanjutkan studi di UINSA Surabaya. Allah Mahabaik, dalam firman-Nya Allah berjanji: 

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 

Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. 

Lika-liku perjuangan sebagai guru honorer sudah bertahun-tahun bu Hilna jalani, suka-duka pun kerap menghiasi setiap langkahnya. Namun, ada yang tak biasa dengan bu Hilna pada 05 Oktober 2020 yang lalu, berbagai rasa dia alami saat itu, rasa tak percaya, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu, hingga tangis pun pecah tatkala tangannya menggenggam selembar SK, satu per satu impiannya mulai terwujud, Allah kembali mengijabah doanya, sejak saat itu dia resmi dilantik sebagai seorang abdi negara, sebagai guru pegawai negeri sipil (PNS). Sujud syukur pun dia lakukan, air mata haru dan bahagia membasahi kedua pipinya. Tak ada kata yang bisa kuucap selain Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahi, betapa besar nikmat yang Engkau berikan pada kami, terima kasih Yaa Rabb, ungkapnya.

Sejak saat itu, perlahan kehidupan bu Hilna dan keluarga mulai berubah, kondisi ekonomi semakin membaik, utang-utang kedua orang tuanya bisa terlunasi, impiannya untuk membangun rumah masa depan juga bisa terwujud, dan yang penting lagi adalah kini tak ditemukan lagi orang-orang yang kerap memandang sebelah mata kepadanya, entah apa sebabnya, namun yang pasti Hamdan wa Syukran Lillaahi, Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahi. (*)

*)Guru SDN Pagendingan 2, Kecamatan Galis, Pamekasan

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Kesabaran #menjadi ASN #Anak Petani #Mimpi #perjuangan #dipandang sebelah mata #beasiswa #guru honorer