PAMEKASAN, RadarMadura.id – Bengkel kerja Lapas Kelas II-A Pamekasan bukan sekadar ruang berisi alat dan bahan. Di sanalah warga binaan belajar menata ulang hidupnya melalui keterampilan. Program ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang dirancang agar narapidana memiliki bekal nyata saat kembali ke masyarakat.
Suara ketukan palu terdengar ritmis dari sebuah bengkel di pojok Lapas Kelas II-A Pamekasan. Di antara tumpukan kayu jati dan serbuk yang beterbangan, Hasan tampak sibuk mengukur dan memotong papan.
Tangannya yang dulu gemetar karena pengaruh narkotika, kini justru mantap menggenggam gergaji. Dari tangannya lahir lemari, kursi, hingga meja kayu buatan sendiri. Sebuah karya para warga binaan dari balik jeruji besi Lapas Kelas II-A Pamekasan.
Hasan bukan siapa-siapa di luar penjara. Hidupnya berantakan karena terjerat narkoba. Dunia seakan menutup peluang baginya untuk memperbaiki diri. Namun, sejak mengenal program bengkel kerja di Lapas Kelas II-A Pamekasan, hidupnya berubah arah.
”Saya sadar, kalau terus menyesali masa lalu, maka saya nggak akan ke mana-mana. Di bengkel ini saya belajar mulai dari nol. Belajar bersama rekan-rekan narapidana yang lain agar bisa lebih produktif lagi,” ungkap narapidana (napi) asal Kecamatan Larangan itu.
Setiap hari, Hasan dan rekan-rekan warga binaan yang lain mengolah kayu di bawah bimbingan petugas. Mereka membuat berbagai perabot rumah tangga, dari lemari hingga kursi makan. Juga miniatur perahu dan monumen kecil yang sering dijadikan suvenir.
Bagi Hasan, bengkel itu bukan sekadar tempat kerja, tetapi ruang belajar tentang tanggung jawab dan ketekunan. ”Kalau salah potong, hasilnya rusak. Jadi harus sabar dan teliti. Sama kayak hidup, kalau kita ceroboh, akibatnya bisa panjang,” ungkap Hasan.
Dia percaya bahwa setiap pukulan palu adalah doa yang tak diucapkan. Dia tak lagi menghitung hari kebebasan, karena setiap hasil kerja membuatnya merasa hidup kembali. Dari balik tembok dan seragam oranye itu, Hasan menemukan arti kemerdekaan yang sebenarnya.
Hasan memang masih menjalani hukuman pidana atas perbuatannya. Tetapi, pikirannya sudah bebas dari masa lalu. Di bengkel kerja itu, dia tak hanya menempa kayu. Namun, juga menata ulang hidupnya dan membangun jati diri yang baru secara bertahap.
Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan Syukron Hamdani menyebut, bengkel kerja sebagai bentuk nyata pembinaan kemandirian warga binaan. Menurutnya, program itu bukan hanya untuk mengisi waktu luang, melainkan untuk menyiapkan masa depan.
”Kami ingin ketika warga binaan bebas nanti, mereka sudah punya keahlian dan mental wirausaha saat kembali ke masyarakat. Tujuan utamanya hanya satu, jangan sampai mereka kembali ke jalan yang salah dan kembali lagi ke lapas,” sambungnya.
Produk yang dihasilkan beragam. Selain kerajinan kayu, warga binaan juga dilatih membuat olahan kuliner dan menjalankan jasa cuci kendaraan. Semua kegiatan dilakukan dengan sistem gotong royong. Mulai dari perencanaan hingga pengemasan.
”Di situ mereka belajar tentang kerja tim dan disiplin. Dua hal yang sering hilang ketika hidup di luar dulu. Dengan program bengkel kerja itu, kami menaruh harapan banyak pada warga binaan agar lebih baik lagi setelah kembali ke masyarakat,” ucap Syukron.
Plh Kasi Kegiatan Kerja Lapas Kelas II-A Pamekasan Fariz menambahkan, hasil karya warga binaan mulai dipasarkan secara digital. Bahkan, telah diajukan masuk e-katalog LKPP. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan mitra swasta agar hasil produksi bisa bersaing di pasar luar. (afg/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti