Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jejak Perjuangan Suparmin, Perantau Wonogiri Penggagas Brand Pentol Asyik Roni, Dulu Ngontel dan Diremehkan, Kini Membawa Berkah

Hera Marylia Damayanti • Senin, 30 Desember 2024 | 04:37 WIB
PERINTIS: Karyawan Suparmin, perintis Pentol Asyik Roni, melayani pembeli di Jalan Jokotole, Pamekasan, Rabu (25/12). (FAHMI JALIL/JPRM)
PERINTIS: Karyawan Suparmin, perintis Pentol Asyik Roni, melayani pembeli di Jalan Jokotole, Pamekasan, Rabu (25/12). (FAHMI JALIL/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pencinta kuliner di Madura mungkin tidak asing dengan Pentol Asyik Roni.

Para pemburu pentol tidak kesulitan untuk mendapatkan kuliner yang satu ini. Di empat kabupaten Pulau Garam ada yang menjual ini.

Pentol Asyik Roni merupakan brand yang dikembangkan Suparmin, seorang perantau dari Wonogiri, Jawa Tengah.

Saat ini dia tinggal di Perumahan Jokotole Indah, Pamekasan. Suparmin menceritakan kisah perjalanannya membangun usaha pentol kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) pada Rabu (25/12).

Suparmin memulai usaha menggunakan sepeda ontel pada 2000. Saat ini memiliki tiga lapak di Bumi Pamelingan.

”Awal perjalanan saya sangat susah, pernah diremehkan banyak orang. Rasanya tidak mungkin orang lain mau menjalaninya,” kenangnya.

Dia memilih membuka usaha pentol karena tidak butuh biaya besar.

Sebagai perantau yang sudah berkeluarga dan punya anak satu, Suparmin tidak punya cukup modal untuk membuka usaha lain saat itu.

Suparmin masuk Madura tahun 1999. Sebelum buka usaha pentol, dia bekerja kepada orang lain jualan nasi goreng.

Setelah enam bulan bekerja, dia bertekad untuk membuka usaha sendiri. ”Dipilihlah usaha pentol yang tidak banyak biaya,” tuturnya.

Selama enam tahun pertama, Suparmin menjajakan pentol menggunakan sepeda ontel.

Setiap hari berkeliling di wilayah Kota Gerbang Salam supaya dagangannya laku dan habis. Meskipun, untung yang didapat tidak seberapa.

Pendapatannya saat itu hanya cukup untuk menghidupi keluarga, bayar kontrakan, dan listrik.

Makan saat itu sekadar kenyang. Tidak ada tabungan. Perjalanan itu dia jalani dari 2000 sampai 2006.

Baru di 2006 akhir, Suparmin mulai berjualan menggunakan kendaraan bermotor roda dua (R2).

Keliling dengan motor itu dilakukan selama tiga tahun hingga akhir 2008. Sejak itu, brand Pentol Asyik Roni mulai dikenal dan omzetnya naik.

”Akhir 2008 saya mulai jualan pakai rombong di Jalan Jokotole. Sampai sekarang sudah ada tiga lapak dengan empat karyawan. Semuanya saudara sendiri,” tegasnya.

Brand Pentol Asyik Roni meledak antara 2009 hingga 2013. Saat itu, omzet dari jualan satu rombong bisa mencapai Rp 7 juta setiap hari.

Namun setelah itu hingga sekarang, omzet usahanya berjalan seperti pedagang lain.

”Saat itu Pentol Asyik Roni memang jaya, seakan-akan menjadi bintang. Tapi setelah 2013 sampai sekarang biasa saja. Rata-rata omzetnya Rp 1 juta, kalau ramai bisa lebih,” teranganya.

Varian Pentol Asyik Roni tidak banyak berubah sejak pertama buka.

Yakni, pentol kecil Rp 1.000 tiga butir, pentol isi daging Rp 1.000 sebutir, harga pentol isi daging besar Rp 5.000, dan pentol isi telur puyuh Rp 2.000 serta pentol tahu Rp 1.000 dapat tiga butir.

”Tambahan menunya hanya pentol pangsit dan gorengan itu, Rp 500 per biji. Dulu, kali pertama buka, modalnya Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu. Kalau sekarang sekitar tiga jutaan dalam satu usaha. Tapi saya bersyukur, sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. (lil/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#buka usaha pentol #sepeda ontel #Diremehkan #empat kabupaten #Suparmin #wonogiri #perantau #brand #Perjalanan #Pentol Asyik Roni