PAMEKASAN, RadarMadura.id – Jurnalis perempuan di Indonesia mungkin tidak sebanyak laki-laki. Namun, soal kemampuan tidak ada beda. Sebab, berkarya bukanlah tentang jenis kelamin, melainkan setangguh dan setekun apa dalam menjalani proses. Itulah yang tergambar dari sosok perempuan tangguh Ugi Agustono, jurnalis perempuan yang kerap bertugas meliput perang internasional.
Di Indonesia, jurnalis perempuan sebenarnya cukup melimpah. Hanya, publik tidak banyak mengenal. Dalam catatan sejarah, kisaran 1911 sudah muncul jurnalis perempuan pertama, yakni Roehana Koeddoes. Ada pula SK Trimurti, Herawati Diah, dan Ani Idrus.
Empat sosok perempuan itu sangat dikenang dalam dunia jurnalistik tanah air. Dan, Ugi Agustono sebagai generasi mutakhir semakin menegaskan bahwa perempuan juga bisa mengambil peran dan berkarier dalam dunia jurnalistik.
Perempuan kelahiran Blitar 1967 itu berkunjung ke Sumenep dan Pamekasan beberapa waktu lalu. Kunjungan itu dia lakukan di dua tempat, yakni di Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, dan Universitas Madura (Unira) Pamekasan. Perempuan yang lebih dikenal dengan nama Arti Erst itu hendak berbagi kisah tentang pengalamannya menjadi jurnalis internasional.
Selain karena perempuan, jurnalistik yang ditekuni Arti justru sesuatu yang sangat berisiko. Dia menjadi jurnalis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang kerap mendapat tugas di negara-negara yang penuh konflik. Mulai dari belahan negara-negara Eropa hingga Afrika.
Pada mulanya, Arti memiliki keahlian dalam bidang ekonomi. Namun, dia tidak tumbuh sebagai seorang ekonom. Takdir menyeretnya ke dalam dunia jurnalistik. Dan, Arti sangat meminatinya.
Untuk itulah, dia mulai tekun belajar dan mengasah kemampuan bahasa asingnya. Kelak, dengan modal itu, Ugi mendapat kesempatan tampil di dunia internasional sebagai jurnalis perempuan.
Dia bekerja sebagai jurnalis sudah 18 tahun. Berbagai negara dikunjunginya dengan segala suka dukanya. Bahkan, negara yang bagi sebagian orang mustahil dikunjungi sekalipun. ”Dari semua tempat yang pernah saya singgahi, dari Eropa hingga Afrika, Kashmir adalah yang paling saya rindukan,” tuturnya ketika ditemui JPRM, Selasa (19/12).
Dia menuturkan, di Lembah Kashmir, para turis tidak bisa datang dan pergi sesuka hati. Dia bahkan sangsi akan sampai ke tempat yang dijuluki Surga Asia itu. Namun, perempuan yang menggilai avontur ini sangat berdikari. Buktinya, lembah yang bopeng mampu dia taklukkan.
Meski berulang kali berkunjung ke berbagai negara dari belahan benua yang berbeda, istri Eric Franklin Scott ini banyak sekali menyangga kesengsaraan hidup. Cerita kelamnya adalah ketika dia di Prancis—meskipun, kata perempuan ini, Prancis magis dan sangat menawan. Dia bercerita sangat panjang.
Ketika itu, Arti mengepak barang-barangnya di sebuah gudang. Ada lelaki gedibal di sekitar itu dengan senjata api yang dikoleksinya. Dengan rendah hati, perempuan itu mengingatkan agar si lelaki berhati-hati. Artinya, dia hendak mengatakan bahwa senjata itu jangan digunakan sembarangan.
Akan tetapi, peringatan itu diabaikan. Laki-laki uzur, bau tanah berusia sekitar 71 tahun itu menurut Arti sangat keras kepala. Benar saja, senjata itu berisi satu timah runcing dan mesiu. ”Ini pengalaman yang bagi saya sangat traumatik,” ucapnya.
Sebab, tidak lama dari peringatan yang disampaikannya, suara ledakan berbunyi, memekakkan telinga, dan meletus di sebuah apartemen di pinggiran Kota Bordeaux. Sebuah selongsong peluru melesat dari moncong revolver dan mengenai kursi. ”Kaki-kaki kursi itu tatal berkeping-keping,” kenangnya.
Beruntung, peluru itu tidak mengenainya. Dia selamat dari arus maut. Arti terdiam, terhentak kaget, tapi gendang telinganya membekas dengan bunyi senapan.
Pada detik itu, maut begitu dekat dengannya, hanya berjarak sejengkal. Meskipun, secara tidak sengaja, aki-aki Prancis, yang mudah terobsesi pada perempuan muda dan selalu melecehkan kaum perempuan, nyaris membunuh perempuan yang pernah memandangi pegunungan Pir Panjal dan Himalaya dari Lembah Kashmir itu.
Mirisnya, Arti juga kerap mengalami pelecehan seksual ketika menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. Bahkan, sepulang dari Prancis, dia harus berkonsultasi pada seorang psikiater untuk memulihkan kembali mentalnya.
”Dua bulan saya ditaruh di Trawas untuk memulihkan kondisi saya saat itu. Tapi, saya tidak mau menyerah,” tegasnya.
Dari kisah berbagai perjalanannya mengembara ke berbagai negara sebagai jurnalis, Arti selalu punya cara sendiri untuk merekamnya. Termasuk menuliskannya dalam bentuk novel berjudul Gendis Kembang Kuning.
Kisah Arti mengingatkan pada Annie Ernaux, perempuan Prancis, yang menulis buku masyhur berjudul Les Annees sekaligus penerima nobel 2022 itu. Dua perempuan ini sama-sama menulis kisah tentang tubuh dan perasaan sakitnya yang paling personal. Dari ingatan yang sangat privat itu, kedua perempuan ini sama-sama berupaya menyingkap kekangan yang berasal dari yang kolektif.
”Saya juga menulis novel. Ada yang difilmkan pada 2011 silam. Ya, novel terakhir saya berangkat dari kisah nyata di Prancis yang kelam,” tuturnya.
Dia mengajak kaum perempuan untuk tidak menganggap dirinya lemah. Sebab, dalam kehidupan ini sama-sama bisa mengambil peran masing-masing. Bagi dia, meskipun seorang perempuan, tugas menjadi jurnalis sangat menyenangkan. Yang dibutuhkan adalah belajar, belajar, dan belajar.
”Intinya, kita tidak boleh berhenti belajar. Harus membaca. Jurnalis, kalau berhenti membaca itu sudah selesai. Dan, yang paling penting, saya ingin mengajak perempuan untuk tangguh,” tegasnya. (*/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana