Oleh SUHAIRI*
SEJAK beberapa bulan terakhir, nama Valen Akbar, pemuda asal Pamekasan, Jawa Timur, menjadi perbincangan banyak kalangan. Valen—demikian ia lebih akrab disapa—berhasil mengalahkan ribuan peserta audisi Dangdut Academy 7 Indosiar. Ribuan peserta itu tentu bukan peserta biasa, melainkan para penyanyi dengan talenta dan mental yang teruji untuk tampil di panggung nasional.
Valen mampu menembus berbagai rintangan hingga akhirnya bersaing ketat dengan Tasya (Tangerang Selatan) pada malam grand final beberapa waktu lalu. Sebagian publik bahkan menilai kualitas Valen dalam berdangdut melebihi Tasya yang keluar sebagai pemenang. Valen adalah aset multitalenta yang dikagumi banyak orang. Namun karena sistem virtual gift sangat menentukan posisi juara, Valen harus puas berada di peringkat kedua.
Sistem kompetisi seperti ini justru menghadirkan proses yang—dalam istilah saya—menggemaskan. Valen, dengan kemampuan vokal, warna suara yang khas, kemahiran memainkan alat musik, serta koreografi yang matang, memiliki modal artistik yang sangat berharga. Dan yang lebih menggemaskan lagi, Valen mampu menarik simpati Mila Nurwati (Bogor), peserta Dangdut Academy 7 yang tersenggol pada babak Top 5.
Ter-Valen-Valen
Keikutsertaan Valen dalam kontestasi Dangdut Academy 7 memberi keuntungan tersendiri. Selama berbulan-bulan, ia digembleng untuk menjadi bintang yang siap bertahan di industri dangdut. Sebagai pendatang baru, Valen harus berhadapan dengan banyak pesaing, bukan hanya pedangdut junior, tetapi juga pedangdut senior yang telah kenyang asam garam dunia hiburan.
Dari proses panjang itu, Valen memperoleh banyak bekal penting yang harus terus dipertahankan dan dikembangkan agar tetap eksis di panggung dangdut nasional.
Valen kini memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya. Bahkan, muncul istilah ”Ter-Valen-Valen” yang menjadi ikon kedekatan emosional antara Valen dan dunia dangdut. Secara morfologis, istilah ini terdiri atas dua morfem: ter- sebagai morfem terikat dan Valen sebagai morfem bebas. Secara semantis, ”Ter-Valen-Valen” setidaknya memuat dua makna: pertama, terkagum-kagum kepada Valen; kedua, tergila-gila kepada Valen.
Makna pertama lebih merujuk pada penggemar Valen secara umum. Selama Dangdut Academy 7 berlangsung, para penggemar setia menanti penampilan Valen dengan penuh harap. Mereka rela duduk berjam-jam di depan televisi, bahkan sebagian datang langsung ke studio Indosiar demi memberi dukungan moral kepada pemuda asal Madura tersebut.
Di sisi lain, ada pula penggemar yang rela mengorbankan materi hingga ratusan juta—bahkan miliaran—rupiah. Dukungan itu disalurkan melalui virtual gift. Nominal kecil dikenal dengan sebutan D’Bos, sedangkan dukungan bernilai sangat besar disebut D’Sultan.
Makna kedua dari ”Ter-Valen-Valen” adalah tergila-gila kepada Valen. Penggemar tipe ini memang tidak sebanyak tipe pertama, tetapi hadir lintas usia—anak muda, orang dewasa, bahkan orang tua. Namun karena peluang dan ruang untuk menjadi pasangan Valen sangat kecil, perasaan itu sering kali hanya dipendam, lalu dilepaskan perlahan. Lantas, bagaimana dengan Mila?
Baca Juga: Ketika Ilmu Mencari Ruh: Rekonstruksi Makna Guru Besar dari Simbol Akademik menuju Mursyid Peradaban
Mila dan Jarak Emosional
Mila Nurwati tampaknya mampu memikat hati Valen. Berdasarkan pengamatan saya, Mila termasuk sosok yang ”tergila-gila” kepada Valen. Beberapa fakta mengarah ke sana. Salah satunya terlihat saat Valen menyanyikan lagu dengan penari latar yang memeluknya di akhir penampilan. Ekspresi wajah Mila tampak menyiratkan kecemburuan—sesuatu yang juga ditangkap penonton hingga memicu tepuk tangan gemuruh ketika kamera menyorot wajahnya.
Fakta lain muncul saat Mila tersenggol pada babak Top 5. Valen masih bertahan di atas panggung, sementara Mila harus turun dan menjadi penonton. Secara fisik, keduanya masih berada di satu area—Indosiar. Namun, Mila mengalami apa yang dalam psikologi disebut emotional distance, yakni kondisi ketika seseorang merasa terpisah secara emosional meskipun berada di ruang yang sama.
Valen di atas panggung, Mila di depan panggung. Komunikasi intens tak lagi leluasa. Meski demikian, jarak ini tidak serta-merta memutus keterhubungan emosional mereka. Ada cara unik untuk tetap merawat kedekatan itu.
Valen, dengan posisinya, memiliki peluang besar: menyampaikan perasaan melalui lagu. Pilihan lagu ”Yang Tersayang” karya Imam S. Arifin menjadi sangat tepat. Meski lagu itu ditulis puluhan tahun silam dan dapat ditujukan kepada siapa pun, secara psikologis Mila bisa merasakan bahwa syair lagu tersebut dialamatkan kepadanya.
Hal ini wajar bagi seseorang yang ”tergila-gila”. Dan patut disyukuri, Mila menjadi sosok yang mampu merebut hati Valen di tengah banyaknya penggemar yang merasakan hal serupa.
Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya mengucapkan doa untuk Milen (Mila–Valen): semoga kelak menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Inilah yang saya maksud bahwa kontestasi dangdut kali ini benar-benar menggemaskan. Bukan hanya karena virtual gift, tetapi juga karena narasi emosional ”Milen” yang berhasil memainkan perasaan para penggemar. (*)
*)Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Madura dan pencinta dangdut
Editor : Hera Marylia Damayanti