Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ibadah Kurban Supremasi Kemanusiaan

Amin Basiri • Minggu, 24 Mei 2026 | 17:20 WIB
SYAFIUDDIN SYARIF
SYAFIUDDIN SYARIF

Oleh SYAFIUDDIN SYARIF*

CINTA tidak hanya kata-kata, tapi butuh pembuktian. Membuktikan cinta harus melalui sebuah ujian. Inilah ujian cinta yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS.

Bukan hanya bukti cinta, di dalamnya terdapat ajaran supremasi kemanusiaan.

Ibrahim adalah nabi sekaligus rasul. Beliau salah satu nabi yang sangat dicintai oleh Allah. Saking dicintainya, dia diberi gelar khalilullah, kekasih Allah.

Diberi julukan demikian karena beliau mendahulukan atau mengutamakan perintah Allah di atas segalanya. Selain itu, beliau sabar menghadapi ujian serta memiliki tauhid yang murni.

Nabi Ibrahim memiliki istri bernama Sarah. Sekian tahun membina keluarga tidak memperoleh anak keturunan.

Beliau sangat mengharapkan kehadiran keturunan sebagai penyemangat dalam hidup sekaligus penerus perjuangan dakwah risalah kenabian.

Karena tak kunjung memiliki keturunan, beliau memutuskan menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hajar.

Tak lama menikah dengan Hajar, akhirnya Nabi Ibrahim dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Anak yang sangat diharapkan dan dinantikan kehadirannya.

Ismail adalah anak semata wayang. Ia sangat dicintai dan disayangi. Kehadirannya menjadikan hari-hari Nabi Ibrahim penuh dengan kebahagiaan dan semakin semangat menjalani hidup. Ismail sering diajak bermain dan jalan seperti layaknya anak kecil.

Pada sebuah malam ujian cinta datang. Dalam tidurnya, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya, Ismail. Nabi Ibrahim bimbang sekaligus ragu.

Mimpi ini adalah wahyu perintah atau hanya bunga tidur? Hari-hari Nabi Ibrahim penuh dengan kegalauan.

Beliau tidak yakin harus menyembelih anak semata wayang yang sangat ia cintai. 

Pada malam kedua, Nabi Ibrahim bermimpi hal yang sama. Beliau semakin galau. Hingga malam ketiga, mimpi itu hadir dan terulang lagi.

Akhirnya, Nabi Ibrahim berkesimpulan bahwa mimpi yang sama berturut-turut selama tiga bukan sekadar bunga tidur, melainkan wahyu berisi perintah dari Allah SWT menyembelih satu-satunya anak yang sangat ia cintai.

Untuk melaksanakan perintah yang sangat berat dan sangat tidak masuk akal, Nabi Ibrahim mencoba mengajak anaknya berdiskusi.

Beliau sampaikan bahwa telah mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa perintah menyembelih Ismail. Sungguh di luar dugaan jawaban anak kecil bernama Ismail.

Ia katakan, ”Kalau itu perintah Allah SWT, laksanakanlah. Insyaallah saya sabar menghadapinya”. Buka kata-kata penolakan atau bahkan memberangkatkan. 

Sehingga Nabi Ibrahim akan melaksanakan perintah itu dengan ikhlas sebagai pembuktian cinta kepada Allah SWT.

Hingga pada suatu pagi, Nabi Ibrahim meminta Hajar memandikan Ismail sampai betul-betul bersih.

Kemudian, Ismail dikenakan pakaian baru, rapi, dan indah. Lalu, Nabi Ibrahim mengajak Ismail pergi keluar rumah atau jalan-jalan menuju sebuah tempat.

Tiba di sebuah tempat, Nabi Ibrahim mengajak Ismail duduk. Secara pelan dan halus dikatakan bahwa saat ini dan di tempat ini dirinya akan melaksanakan perintah Allah, menyembelih Ismail.

Ismail tidak berontak, bahkan sabar mengatur posisi nyaman tidur secara telentang dengan bagian leher sedikit lebih tinggi. 

Harapannya, Nabi Ibrahim akan leluasa saat menggorok lehernya serta sebisa mungkin dilakukan dengan cepat menghindari rasa kasihan.

Namun, sungguh ajaib. Ketika Nabi Ibrahim menempelkan mata pisau tajam ke leher Ismail dan siap menggoroknya, seketika itu Allah SWT mengganti dengan seekor domba (kambing).

Maka yang terpotong bukan leher Ismail, melainkan leher seekor domba. Kisah ini merupakan awal mula diwajibkannya perintah ibadah kurban.

Nabi Ibrahim AS telah membuktikan cintanya kepada Allah SWT. Ujian cinta berupa perintah menyembelih anak semata wayangnya dilakukan dengan penuh kesabaran dan keyakinan.

Nabi Ibrahim berhasil melalui ujian iman dengan tulus ikhlas.

Peristiwa penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim merupakan sebuah afirmasi atas kepercayaan sesat umat terdahulu.

Akidah atau keyakinan salah menyebabkan mereka melakukan kebiasaan mengorbankan anak manusia.

Mereka membunuh anak manusia sebagai persembahan kepada dewa ataupun berhala yang diyakini sebagai Tuhan.

Persembahan satu jiwa anak manusia sebagai penebus atas kemurkaan Tuhan dewa atau berhala. Mereka menganggap Tuhan marah sehingga terjadi kemarau panjang.

Untuk itu, Tuhan perlu diberi servis dengan disajikan persembahan berupa seorang anak manusia. 

Serangan wabah dan penyakit yang membunuh ratusan hingga ribuan umat manusia diyakini sebagai akibat dari murka dewa. Kemurkaan dewa hanya bisa diredam dengan persembahan kurban satu nyawa manusia.

Sebuah pilihan keyakinan yang salah. Keyakinan sesat ini akibat tidak ada pembimbing atau tindakan penolakan atas petunjuk ke arah lurus dan benar.

Mereka tenggelam dalam persepsi dan khayalan terhadap zat maha penguasa kehidupan dengan ritual pengorbanan manusia. Sebuah keyakinan yang berakibat merendahkan, bahkan menihilkan nilai kemanusiaan. 

Menggantikan Ismail dengan seekor domba adalah sebuah negasi bahwa seorang anak manusia tidak bisa dan sangat tidak pantas dijadikan sebagai kurban untuk dipersembahkan kepada dewa atau berhala.

Manusia merupakan makhluk paling mulia daripada makhluk ciptaan lainnya. Saking mulianya, iblis dan malaikat pun diperintahkan bersujud pada awal ciptaannya. 

Hewan atau binatang derajatnya jauh di bawah manusia. Maka, makhluk inilah yang paling pantas dijadikan sebagai kurban persembahan.

Secara syariat, domba, kambing, unta, sapi, kerbau, dan lainnya adalah binatang yang direkomendasikan sebagai hewan kurban.

Selanjutnya, syariat itu disempurnakan pada masa kenabian Muhammad SAW. Kurban dilakukan dengan niat semata-mata karena Allah SWT.

Bukan untuk dipersembahkan kepada dewa, berhala, ataupun makhluk penunggu lainnya. 

Kemudian, daging hewan kurban diberikan kepada fakir miskin serta golongan lain yang berhak. Selain itu, ibadah kurban sunah bagi yang mampu.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa membunuh satu manusia sejatinya membunuh seluruh umat manusia.

Dan menjaga kehidupan seorang umat manusia, hakikatnya telah menjaga kehidupan semua umat manusia. 

Begitu mulianya kedudukan seorang manusia. Ia harus dijaga dan diselamatkan dari berbagai hal yang mengganggu terhadap keberlangsungan hidupnya.

Kemudian, jika peristiwa penggantian Ismail dengan domba kita tarik secara linier ke dalam ruang budaya (manusia dan kehidupannya), hal ini mengandung ajaran supaya kita konsisten menjaga dan menegakkan nilai kemanusiaan. Keselamatan jiwa harus dijamin, harga diri dan kehormatan harus ditegakkan, harta kekayaan harus aman, bahkan suasana batin kebahagiaan dan keceriaan seseorang harus diutamakan.

Jangan dirampas atau dirusak dengan berbagai tindakan apa pun. Sebab, hal itu berarti merusak dan menurunkan kemuliaan manusia.

Pun, kita tidak boleh mengorbankan orang lain demi tercapainya sebuah ambisi pribadi.

Nafsu sekadar memperoleh validasi dalam kehidupan sosial harus dibangun dengan kompetensi diri sehingga bermartabat dan berdaulat. 

Tindakan mengorbankan orang lain demi meraih ambisi sebuah cara hina dan merendahkan nilai kemanusiaan. 

Jangan sampai memakan daging saudara sendiri demi meraih ambisi atau nafsu pribadi.

Nabi Ibrahim diuji cintanya oleh Allah SWT dengan perintah menyembelih anak semata wayangnya.

Ismail diganti dengan seekor domba sebuah afirmasi bahwa manusia sangat tidak pantas dijadikan sebagai kurban persembahan. 

Manusia adalah makhluk paling mulia yang harus dijaga jiwa, raga, harta, harkat, martabat, hingga suasana hatinya. (*)

*)Guru SMA Negeri 1 Sumenep

Editor : Amin Basiri
#kemanusiaan #Qurban #ibadah