Puasa dan Self-Regulation dalam Membentuk Cara Berpikir Ilmiah

Oleh Fitriyah Ika Astutik, M.Pd.
RAMADAN sering dipahami sebagai ibadah yang berorientasi pada dimensi spiritual semata yaitu menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Namun, sebagai dosen yang mengampu Mata Kuliah Pembelajaran IPA sekaligus mahasiswa S-3 Pendidikan Sains, saya melihat puasa lebih dari sekadar ritual keagamaan.
Ia adalah proses pendidikan karakter yang sistematis, terutama dalam melatih pengendalian diri (self-regulation), yang justru menjadi fondasi penting dalam membangun cara berpikir ilmiah.
Dalam pengalaman saya mengajar Pembelajaran IPA, sering kali saya mendapati mahasiswa lebih berorientasi pada hasil akhir dibandingkan proses ilmiah itu sendiri.
Ketika melakukan simulasi praktikum atau merancang pembelajaran berbasis eksperimen, sebagian mahasiswa ingin segera mengetahui jawaban benar tanpa melalui tahapan pengamatan yang teliti.
Mereka cenderung tergesa-gesa menyimpulkan sebelum data benar-benar dianalisis secara mendalam. Padahal, dalam sains, proses adalah inti dari pembelajaran.
Berpikir ilmiah bukan sekadar kemampuan memahami teori atau menghafal konsep. Ia mencakup sikap objektif, kesabaran dalam menguji hipotesis, ketelitian dalam mengumpulkan data, serta keberanian merevisi kesimpulan ketika ditemukan bukti baru.
Semua itu membutuhkan pengendalian diri. Tanpa kemampuan mengatur dorongan untuk cepat selesai atau cepat benar, proses ilmiah dapat kehilangan maknanya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




