Oleh: Juwairiyah Mawardi, Ibu Rumah Tangga yang Penulis
SERING KALI kita temui pendapat seseorang terkait bakat menulis sebagai bawaan orok.
Tak jarang pula bakat menulis dianggap ”sudah dari sononya”. Dan yang lebih ekstrem, bakat menulis dianggap sebuah takdir.
Belum lagi asumsi bahwa bakat menulis disebabkan oleh faktor genetika (keturunan).
Benarkah pendapat tersebut? Kita tidak perlu melakukan sebuah survei atau riset secara khusus untuk menemukan kebenaran faktual terkait asumsi-asumsi ini.
Cukuplah sekadar observasi pribadi pada teman-teman kita sesama penulis.
Apakah mereka serta-merta menjadi penulis? Karena faktor bakat sebagai mukjizat dan juga faktor keturunan tadi?
Realitas secara umum yang terjadi adalah, bakat itu hanyalah sekian persen.
Katakanlah hanya 5%. Selebihnya adalah ketekunan, komitmen diri, perjuangan, dan kemudian keberuntungan.
Mari coba perinci 95% di luar bakat ini. Kita mulai dari ketekunan. Ketekunan identik dengan rajin dan fokus mengembangkan diri pada sesuatu yang ditekuni.
Seseorang memiliki kemauan keras untuk mengupayakan keinginannya. Seseorang yang menyukai dunia fashion, dia akan tekun mempelajari pola-pola sketsa untuk merancang model busana.
Dalam proses ini, ia akan belajar dengan cara melihat karya fashion orang lain, menghadiri, dan mengikuti ajang fashion tertentu yang bisa ia ikuti, memburu banyak literatur tentang dunia fashion, dan bisa jadi ia tidak sekolah khusus jurusan fashion.
Tetapi, ia terus mencoba membuat sketsa dari pola-pola model yang ia sukai. Ia terbuka pada masukan dan saran dari orang lain terkait kesukaannya pada fashion.
Ia tak tabu dikritik dan diapresiasi dalam karya fashion-nya.
Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan fashion, pastilah sangat ia perhatikan. Rasa interest dalam dirinya terbentuk sedemikian rupa terhadap apa pun yang berhubungan dengan dunia fashion. Dan ia memiliki pergaulan yang luas dengan sesama penyuka dunia fashion.
Ia tak pernah berpikir bagaimana nanti di masa depan. Bagaimana dirinya akan memiliki keahlian seperti orang-orang yang dikaguminya.
Ia hanya tekun belajar, terus mencoba, terus meningkatkan kemampuannya. Berlatih dan membangun kebiasaan yang disukainya itu.
Begitu pun dengan dunia menulis. Tak ada satu pun penulis yang langsung menjadi ahli menulis seusai mengikuti sebuah pelatihan menulis.
Seribu kali pun ia mengikuti pelatihan menulis, workshop, bahkan karantina menulis, ia tak akan menjadi penulis jika ia tak tekun menulis.
Jalan menulis dimulai dari jalan membaca. Seseorang yang di masa depan menjadi seorang penulis, pastilah ia memiliki rekam jejak sejarah masa lalu sebagai pembaca akut. Bisa jadi ia telah kutu buku sejak kecil.
Buku apa saja ia baca. Dan dalam perjalanan dunia membacanya yang terus-menerus berlangsung itu, ia mulai menulis, merangkai kata, dan kalimat, menjadi sebuah paragraf, menjadi sebuah gagasan, dan akhirnya menjadi kumpulan paragraf yang berbentuk tulisan utuh.
Ia menemukan dirinya bisa menulis. Kemudian, ia terus menulis, membaca, menulis lagi, membaca lagi, terus menulis, terus membaca.
Berputar-berporos sebagai dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan. Kemudian, ia benar-benar mampu menulis.
Komitmen diri. Jika menyebut komitmen, bayangan kita merambat pada seseorang di luar diri kita. Tentu saja bukan komitmen seperti itu yang dimaksud di sini.
Komitmen ini berorientasi pada keistikamahan diri. Ada sesuatu yang menjadi orientasi dan pusat perhatian utama kita, yaitu terus menulis tanpa berpikir siapa yang akan membaca tulisan kita, bagaimana tulisan kita akan sampai pada tangan pembaca, dan bagaimana pembaca akan menilai tulisan kita. Tak kita pikrkan hal itu. cukup fokus menulis.
Tanpa perlu berpikir apakah tulisan kita bagus atau buruk, kita terus menulis. Kita telah memilih jalan menulis ini dan tak akan keluar dari koridor ini.
Komitmen diri terhadap dunia menulis tidak dipengaruhi oleh hal-hal di luar menulis itu sendiri.
Misalnya; apakah saya akan memperoleh materi dengan terus menulis? Apa yang saya hasilkan dari menulis ini? Apakah ini akan menjadi profesi utama saya dan menjadi sumber mata pencaharian saya satu-satunya? Bagaimana kalau saya tak sukses jadi penulis? Bagaimana jika tulisan saya tak diterima oleh publik karena tidak bermutu? Pertanyaan dan kekhawatitan itu tidak akan bertumbuh dalam diri seseorang yang telah berkomitmen dengan dirinya sendiri untuk terus menulis.
Ia hanya akan menulis dan terus menulis. Dalam komitmennya, ia menemukan kebahagiaan dengan menulis. Karena itulah ia terus menulis.
Pada titik tertentu, ia mulai berpikir bahwa dalam dunia menulis pun butuh perjuangan. Kemudian, ia membaca-baca sendiri tulisannya. Ditemukannya kelemahan, ia perbaiki.
Ditemukannya banyak kekeliruan, ia perbaiki. Ia mulai menjadi editor dari tulisannya sendiri. Dari mana ia mendapatkan kemampuan ini? Tentu saja dari jam terbang membaca yang terus meninggi.
Ia membaca buku-buku yang baik untuk meneguhkan potensi dirinya. Jika ia menulis cerita pendek, maka akan ia baca karya-karya cerpen milik cerpenis terkemuka.
Jika ia menulis novel, ia akan menikmati novel-novel legendaris karya sastrawan dan penulis fiksi yang hebat.
Jika ia menyukai dunia puisi, ia akan melahap puisi-puisi karya penyair tersohor.
Terus membaca dan membaca tanpa memikirkan berapa banyak lagi yang harus ia baca. Itulah salah satu perjuangan seorang penulis. Imajinasinya kuat karena ia terus membaca, terus berpikir, terus belajar dari karya orang lain.
Terkadang ia mengikuti suatu perlombaan dan sayembara. Kalah. Ia cari karya pemenang, ia pelajari formulanya.
Ternyata formula itu memang tidak ada dalam karyanya yang kalah. Dan ia belajar dari pengalaman kekalahannya itu.
Mendapatkan ilmu baru, formula baru. Terkadang ia mengirim tulisan ke sebuah media, ditolak. Ia penasaran mengapa ditolak.
Mengapa penulis lain begitu mudah dan dirinya begitu sulit menembus media massa.
Ia membaca karya-karya yang dimuat di media-media itu. Ia temukan formulanya. Ia racik dalam karyanya berikutnya. Diterima. Itulah perjuangannya.
Terakhir, keberuntungan. Ada usaha ada doa. Usaha yang kuat bersambung dengan doa yang kuat. Doa juga membutuhkan keyakinan. Keyakinan bahwa doanya akan diterima.
Tentu saja doa yang dimaksud di sini bukanlah membacakan mantra dan jampi-jampi pada tulisannya agar diterima publik.
Doa adalah obat kuat paling rahasia yang dimiliki setiap orang yang sedang berusaha mencapai keinginannya. Berdoalah.
Dengan segala realitas yang tertulis ini, bakat menulis tak perlu menjadi prasyarat seseorang untuk menjadi penulis.
Bahkan bakat seseorang akan tenggelam jika tak diiringi dengan ketekunan dan perjuangan serta kemauan yang keras untuk terus menulis dan menulis.
Berhentilah menstigma diri sendiri sebagai orang yang tak bakat menulis. Dan berhentilah berpikir bahwa kemampuan menulis adalah mukjizat khusus hanya bagi manusia tertentu. Menulis sajalah.(*)
Editor : Amin Basiri