Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sinergi Guru dan Orang Tua dalam Mempersiapkan Karakter Positif Anak di Era Gadget

Hera Marylia Damayanti • Sabtu, 22 November 2025 | 21:10 WIB
Juwairiyah, M.Pd., Pendidik dan Aktivis Gender
Juwairiyah, M.Pd., Pendidik dan Aktivis Gender

Oleh JUWAIRIYAH, M.PD.

 

USIA berapakah anak-anak dianggap bukan lagi anak-anak oleh kita? Kategori anak secara umum kisaran usia sekolah dasar hingga usia 12 tahun (lulus SD). Pasca fase itu masuk kategori remaja awal hingga usia 15 tahun jelas masuk SMA.

Di tanah Madura, sebutan na’-kana bahkan diarahkan pada usia dewasa yang sudah masa kuliah. Sebutan na’-kana’ diasosiasikan karena secara sosial belum berumah tangga.

Pada dasarnya, sebutan anak-anak yang sejati itu antara pasca usia golden age (0–5 tahun) hingga mereka lulus SD. Di masa inilah para orang tua selayaknya menanamkan pembiasaan positif di lingkungan rumah dan keluarga. Lingkungan sekolah menggenapinya sebagai penyempurna. Sebab, secara waktu, dalam 24 jam kesehariannya, keberadaan seorang anak terbatas waktu untuk bersama gurunya. Di sekolah hanyalah kurang lebih 7 jam jika di lembaga sekolahnya tidak menerapkan full day. Selebihnya, anak berada di rumah dalam pengawasan orang tua/keluarga.

Sebelum anak-anak memasuki jenjang sekolah formal seperti SD dan MI, tentu mereka melewati masa prasekolah di PAUD/ Playgroup dan Taman Kanak-Kanak (TK). Masa prasekolah ini pun, keterikatan kebersamaan seorang anak dengan orang tuanya sangat rapat dan padat.

Usia prasekolah adalah usia saat ketergantungan anak pada orang tuanya sangat kuat. Mulai dari bangun tidur hingga mau tidur kembali, segala sesuatu diurus, dipersiapkan, dan diarahkan oleh orang tua. Barulah di usia SD, anak-anak mulai lebih mandiri mengurus teknis kesehariannya sendiri. Saat usia SD inilah anak-anak mulai bertemu dengan pengaruh pertemanan.

Bagaimana dengan gadget?

Keterikatan anak-anak sejak dini pada gadget dibentuk dari pola pengasuhan orang tua di rumah. Bermain gadget tanpa kejelasan waktu, tanpa ada monitor tentang apa pun yang diakses anak, membuat anak kecanduan bermain gadget dan terikat secara emosional dengan benda pipih supercanggih itu.

Dapat dikatakan bahwa sebagian besar anak di rumah bermain gadget tanpa kontrol waktu. Dan hal ini dinormalisasi oleh orang tua dengan persepsi bahwa hal itu sudah biasa di masa sekarang.

Kebiasaan buruk jika dianggap biasa maka lama-lama akan dianggap sebuah kebenaran. Maka, kemudian akan dianggap aneh jika anak zaman sekarang tak terikat dengan gadget.

Sebagian orang tua mengalami kesulitan memondokkan anak karena sang anak tak mau mondok sebab takut berjauhan dengan HP. Sebagian orang tua mengeluh tentang minat belajar anak yang turun dan tidak mengalami peningkatan akibat terlalu sering bermain HP.

Di sisi lain, para guru pun kewalahan memantik kesukaan anak pada minat baca. Kesukaan pada buku selalu dicita-citakan banyak orang tua dan guru. Tetapi, hal itu tak mudah diwujudkan karena berhadapan dengan keterikatan pada gadget ini. Hal apakah yang perlu dilakukan?

Alangkah baiknya sejak dini orang tua menerapkan disiplin waktu dalam bermain gadget. Ada beberapa opsi. Misalnya, dalam sehari boleh bermain HP usai jam sekolah selama 1 jam dan malamnya setengah jam sebelum tidur seusai belajar dan mengerjakan PR (pekerjaan rumah).

Atau opsi lain, hanya boleh bermain gadget jika hari libur. Itu pun hanya sekian jam. Dan seterusnya opsi yang mungkin lebih sesuai untuk diterapkan pada anak.

Di sekolah, sudah masanya sekolah memfasilitasi belajar siswa dengan menonton video pembelajaran, membuat TikTok edukatif bersama guru, melakukan perekaman kegiatan belajar di luar ruang kelas, dan bentuk kegiatan belajar lainnya yang memanfaatkan kecanggihan teknologi. Hal ini akan membuat anak-anak lambat laun berpikir bahwa HP bukan semata untuk permainan dan kesenangan, melainkan juga untuk sarana belajar dan membuat diri menjadi pintar.

Terkait hal semacam ini, keterlibatan musyawarah dengan orang tua perlu dilakukan oleh guru. Ruang komunikasi guru dan orang tua dapat memanfaatkan grup WA untuk sirkulasi kemajuan belajar anak secara umum. Kedekatan komunikasi ini akan menyehatkan hubungan sosial antara guru dan orang tua murid. Imbasnya tentu positif pada anak-anak di sekolah.

Karakter anak-anak bukan sesuatu yang muncul secara instan. Tetapi, dibentuk oleh didikan, keadaan keluarga, pembiasaan, dan keteladanan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah. Karena itulah, guru tak mungkin membentuk karakter siswanya tanpa ditunjang oleh bentukan orang tua dalam keluarga. Dan sebaliknya, apa yang sudah ditata di rumah dalam sebuah keluarga, tidak boleh dirusak oleh lingkungan dan pergaulan sekolah yang kurang representatif.

Di masa depan dan hingga kapan pun, anak-anak di usia tertentu akan tetap sangat bergantung pada didikan orang tua dan gurunya. (*/han)

*)Pendidik dan Aktivis Gender

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kegiatan belajar #gadget #karakter anak #pembelajaran #bermain gadget #komunikasi #orang tua #disiplin waktu #pembiasaan positif