Oleh MOHAMAD FATHOLLAH*
DUA pekan terakhir ada dua kabar menarik dari Negeri Singa, Singapura. Negara ini dinobatkan sebagai kota wisata terbersih di dunia. Ini menurut laporan Eagle Dumpster Rental, sebuah perusahaan pengelolaan sampah berbasis di Amerika Serikat. Satu lagi, ternyata negara yang tak seluas Pulau Madura ini menyumbang investasi terbesar di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia Rosan Roeslani, dalam rilis YouTube Sekretariat Presiden (23/4/2025), mengatakan bahwa Singapura memberikan kontribusi besar investasi dalam negeri. Selama satu dekade terakhir, Singapura menjadi investor terbesar di Indonesia. Sebesar 4,6 miliar dolar US atau sekitar Rp 77,60 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.870 per dolar US.
Sementara itu, negara kecil ini dinobatkan sebagai kota wisata terbersih di dunia. Mengacu pada ketidakpuasan yang rendah para penduduknya terhadap layanan sampah di negara tersebut. Selain Singapura, ada beberapa negara lain yang dirilis sebagai wilayah yang bersih dan baik pengelolaan sampahnya. Di posisi puncak setelah Singapura adalah Kopenhagen, Denmark; Praha, Republik Ceko. Tak ada nama Indonesia yang memuncaki daftar sebagai negara terbersih.
Tim dari Eagle Dumpster Rental, dilansir Travel+Leisure (16/4/2025), membuat penilaian terhadap kebersihan dan pengelolaan sampah di lokasi wisata populer di seluruh dunia. Sederhananya, lokasi wisata yang dikunjungi wisatawan dari lintas negara adalah tempat berkumpulnya banyak orang. Seberapa jauh kesadaran pengunjung membuang sampah, para penduduk mengelola sampah mereka, persepsi kebersihan publik, produksi sampah per kapita, dan proses pengelolaan sampah yang dikelola pemerintah. Pun kebersihan jalan menjadi prasyarat utama.
Hampir tak ada sampah berserak di sepanjang jalan Singapura. Tak ada orang yang merokok di dalam gedung, kolam renang, atau di jalanan. Bila mau merokok kita harus jalan jauh ke tempat khusus yang tersedia. Kalau tidak, siap menanggung denda di tempat. Menyusuri jalanan Singapura, baik saat malam atau siang hari, begitu menyenangkan. Atau pergi ke berbagai macam lokasi wisatanya dengan berjalan kaki dan menggunakan kereta bawah tanah yang terintegrasi membuat kita tak lelah berjalan. Siapa yang tak suka menyusuri kota metropolitan dengan rasa aman, ditambah lingkungan yang nyaman? Fakta ini yang saya rasakan beberapa kali berkunjung ke Singapura. Mungkin juga Anda yang pernah melancong ke sana.
Tak Ada yang Kebal Hukum
Kali pertama mengunjungi Singapura kita akan dibuat takjub. Pengelolaan infrastruktur modern, sistem keamanan yang terintegrasi, serta pemandangan masyarakatnya yang tertib adalah potret Singapura. Setibanya di Bandara Internasional Changi misalnya, kita akan disuguhi infrastruktur modern yang menakjubkan. Para pengunjung akan betah berlama-lama sembari menikmati air terjun indoor buatan tertinggi di dunia, HSBC Rain Vortex di Jewel Changi Airport. Air mengalir dari ketinggian 40 meter melalui okulus di atas gedung Jewel. Banyak orang tak melewatkan swafoto di lokasi ini.
Sistem keamanan canggih dan terintegrasi juga telah diterapkan di seantero penjuru negeri. Tak hanya di perumahan publik, kita dengan mudah mendapati kamera CCTV (closed circuit television) di setiap pojok jalan Singapura. Tiap detik gerak langkah terawasi oleh kamera. Fasilitas ini mungkin yang membuat masyarakat Singapura merasa aman. Awalnya mungkin merasa tak nyaman. Tapi, kebiasaan akan menjadi hukum. Kebiasaan-kebiasaan positif telah membentuk pola pikir warganya. Mereka telah nyaman ngantre saat naik eskalator, membuang dan mengelola sampah sesuai tempatnya, memanfaatkan transportasi publik dengan baik, dan menikmati atmosfer di lingkungan kerja dan pendidikan yang disiplin dan kompetitif.
Pemerataan pembangunan, fasilitas publik yang baik dan terjangkau, serta peningkatan standar hidup masyarakatnya adalah tujuan utama pengelolaan pemerintahan di Singapura. Di Singapura tak ada perkampungan seperti umumnya negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Lahan yang terbatas dan rencana kota yang terpusat mempermudah pengelolaan masyarakatnya. Hampir tak ada warga negara Singapura memiliki lahan lebih dari 90 tahun. Selebihnya dikembalikan ke negara.
Implementasi hukum di negara ini juga kuat. Tak ada tebang pilih. Semua tunduk di bawah hukum. Menciptakan masyarakat disiplin diawali dengan implementasi hukum yang kuat dan tidak memihak. Paling tidak, ini yang saya dengar dari seorang teman WNI yang telah menetap dan menjadi penduduk di sana.
Sebelum bulan Ramadan kemarin, saya bertamu ke keluarga Ibu Endang (48 tahun) di daerah Boon Lay, Singapura. Dia telah menjadi warga negara Singapura lebih 10 tahun. Selain faktor ekonomi, seperti upah yang tinggi, atmosfer kerja di negara ini mendukung dirinya dan keluarganya mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Ibu Endang bekerja di sektor ekspedisi. Gaji yang tinggi membuat hidupnya ”aman” dari siklus ketidakpastian ekonomi.
Di negara ini tak membatasi usia seseorang mengakses peluang kerja. Walau pajak juga tinggi, tapi Ibu Endang dan keluarganya saban tahun bisa jalan-jalan ke luar negeri. Maklum, selain gaji tinggi, warga negara Singapura dapat menikmati akses bebas visa ke 194 destinasi di seluruh dunia. Sebagai ”kelas pekerja” Ibu Endang kini juga mulai berinvestasi kecil-kecilan di Indonesia, negara asalnya.
Fasilitas hidup yang ”mapan” seperti dialami Ibu Endang, barangkali menjadi jawaban para WNI usia produktif pindah menjadi warga negara ke Singapura. Satu tahun terakhir ada sekitar 1.000 WNI memilih pindah warga negara ke Singapura. Selama 2019 hingga 2022, ada 3.912 WNI beralih menjadi warga negara Singapura. Begitu rilis data dari Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Sebagai sebuah negara, memperbandingkan Singapura dengan Indonesia barangkali tak seimbang. Tapi, tak ada salahnya kita menelaah lebih jauh bagaimana negara dengan luas wilayah 735,7 kilometer ini mengelola pemerintahannya? Bagaimana masyarakatnya yang multietnik bisa ”tunduk” dengan sistem hukum yang dibangun tak lebih dulu dari kita Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah ada di benak saya sejak dulu, mungkin juga Anda.
Singapura dalam banyak hal dapat menjadi negara dan kota percontohan. Tak ada salahnya kita belajar dari warga Singapura. Kebiasaan dan disiplin warganya membentuk ekosistem dan tata kelola negara yang baik. Tapi, Singapura sebagai ”kota di taman”, bukanlah percontohan bila kita belum siap menjadi warga negara yang taat hukum, belum biasa membuang dan mengelola sampah dengan baik, tak sabar mengantre, dan kesenjangan pendapatan ekonomi masyarakat yang makin meluas. Sistem sosial-ekonomi kita dapat melampaui warga Singapura dan juga dunia, bila hukum, integritas, dan kedisiplinan dapat menjadi napas setiap warga, utamanya dimulai dari para elite. (*)
*)Esais, sekretaris Dewan Kesenian Sumenep
Editor : Ina Herdiyana