Oleh ALI IBNU ANWAR
ALLAH memberi kita waktu –kesempatan, kehidupan, kesehatan– untuk kita pergunakan dengan sebaik mungkin. Kewajiban kita adalah mengisinya dengan hal-hal positif dan produktif. Bahkan, Allah bersumpah di dalam Al-Qur’an bahwa orang yang menyia-nyiakan waktu tergolong orang yang merugi.
Ada satu waktu, yang di dalamnya Allah tetapkan keistimewaan dan keutamaannya. Ya, Ramadan. Di antara keistimewaannya, Allah lipatgandakan ganjaran ibadah seorang hamba; Allah turunkan Al-Qur'an, yang hingga saat ini menjadi pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia. Satu lagi, di bulan ini pula Allah memerintahkan hambanya untuk melaksanakan syariat puasa.
Puasa Ramadan, bukan hanya semata-mata ibadah menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang membatalkan pahala puasa. Banyak sekali hadis yang menyinggung aktivitas puasa seorang hamba dengan menisbatkannya pada perbuatan yang sia-sia. Misalnya, yang masyhur, hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, yang berbunyi: betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, selain rasa lapar dan dahaga.
Baca Juga: Makna Suci dalam Ramadan
Tentu hadis ini mengingatkan kita bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga harus diiringi dengan ketulusan hati dan kebaikan akhlak. Sebab, seburuk-buruk puasa seseorang, yakni ketika mereka hanya sampai pada tingkatan menahan lapar dan dahaga saja, sementara, maksiat masih terus ia lakukan. Itulah yang oleh Ibnu Rojab Al-Hambali, dalam kitab Lathā’if al-Ma’ārif, dikatakan sebagai tingkatan puasa yang paling
Ketika seseorang menjalankan ibadah puasa, paling tidak ia harus mengetahui dua dimensi penting dalam syariat tersebut: puasa lahir dan puasa batin. Keduanya harus saling melengkapi untuk mencapai kesempurnaan makna puasa yang sesungguhnya, yaitu membersihkan diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
Puasa lahir bisa juga disebut sebagai aspek fisik atau lahiriah dari ibadah puasa. Ini mencakup kemampuan seseorang menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain itu, puasa lahir juga menuntut seseorang untuk mengendalikan perilaku seperti tidak berkata kotor, tidak berbohong, tidak bergunjing, serta menjauhi perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa.
Orientasi dari puasa lahir, pertama, membentuk karakter disiplin dalam diri seorang yang menjalankannya. Sebab, karakter disiplin hanya bisa terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan melakukan sesuatu atau menahan untuk tidak melakukan sesuatu dalam waktu tertentu. Tentu saja, ini tidak mudah. Dan dengan puasa, seseorang sangat memungkinkan untuk membangun perilaku disiplin dalam dirinya.
Kedua, puasa lahir juga dapat membentuk karakter sabar. Latihannya dengan menahan untuk tidak selalu menuruti hawa nafsu. Pendek kata, jika seseorang berhasil melewati ”puasa lahir” dengan baik, maka ia akan menjadi pribadi yang disiplin dan sabar.
Selain puasa lahir, seseorang dapat menyempurnakan puasanya dengan puasa batin. Puasa batin merupakan perilaku hati dan pikiran. Maka, seorang yang berpuasa harus menjaga hati dan pikirannya agar tetap bersih dari hal-hal negatif. Ini mencakup menghindari rasa iri, dengki, sombong, dendam, serta berbagai penyakit hati lainnya. Selain itu, puasa batin berarti menjaga niat agar ibadah yang dilakukan benar-benar karena Allah semata. Bukan sekadar rutinitas atau untuk mencari pujian dari orang lain.
Puasa lahir dan puasa batin harus berjalan beriringan. Jika seseorang hanya menahan lapar tanpa menjaga hatinya dari keburukan, puasanya bisa kehilangan nilai spiritual. Sebaliknya, menjaga kebersihan hati tetapi tidak menjalankan puasa fisik, juga tidak memenuhi syarat ibadah yang sempurna.
Selayaknya, puasa seseorang harus melibatkan tubuh, pikiran, dan hati. Dengan menjalankan puasa lahir dan batin secara bersamaan, seseorang tidak hanya mendapatkan pahala di sisi Allah, tetapi juga memperoleh manfaat bagi dirinya sendiri, baik secara fisik maupun spiritual. Dengan demikian, puasa benar-benar menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Saya ingin menutup tulisan ini, dengan mengutip nasihat yang disampaikan oleh Jabir bin ‘Abdillah: seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu turut berpuasa dari dusta. Janganlah kamu jadikan hari-hari puasamu dan hari-hari tidak berpuasamu, levelnya sama saja. Semoga Allah meridai. (*)
*) Budayawan dan Guru di TMI Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura
Editor : Ina Herdiyana