Oleh IPUNK BUNGKOS
Kemajuan teknologi seperti kapak di tangan penjahat
Dan guru hebat melahirkan siswa yang beradab
PENDIDIKAN sejatinya untuk menyiapkan generasi masa depan agar adaptif pada zamannya, tanpa harus kehilangan jati diri dan ciri khas sebagai bangsa. Namun, perubahan penyesuaian kurikulum demi kemajuan dalam pendidikan bukan semata-mata ”kejar program” tetapi harus berlandaskan pendidikan yang menjunjung moralitas anak yang berkepribadian, sehingga menjadi anak yang betul-betul merdeka dari segala aspek perbudakan dan penjajahan dunia digital. Anak tidak harus terjebak dalam permainan-permainan online yang mendunia dan digandrungi sebagian anak-anak, baik tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah. Namun, problematikanya yang terjadi secara empiris di lapangan bahwa anak-anak, khususnya siswa, masih terjebak dalam hegemoni digital yang kebablasan.
Pendidikan seharusnya melahirkan peradaban yang religius, disiplin dan berintegritas, namun modernitas teknologi melahirkan sikap tidak beradab dengan tidak menjunjung value dan/atau etika yang baik. Hari ini, banyak anak-anak yang berinterkasi dengan dunianya sendiri dengan mengesampingkan moralitas kesopanan, adat ketimuran. Contohnya, banyak anak-anak yang memilih untuk berkomunikasi dengan gadgetnya, dengan permainan yang menyita segala waktunya. Bahkan, meluapkan segala emosinya untuk dicurahkan kepada permainannya. Sampai akhirnya tidak memedulikan panggilan atau komunikasi dengan orang lain, karena sudah asyik dengan permainannya. Kalau pada akhirnya semua anak terjerumus dan terpasung dalam permainan atau game, maka tidak mungkin tujuan pendidikan nasional akan senantiasa skeptis keberlanjutannya. Dan, pendidikan hari ini telah lama mengalami disorientasi, cenderung berorientasi memenuhi keinginan para politisi ketimbang proses pencerdasan generasi yang hakiki.
Pendidikan mengalami defisit menjadi sekadar ”persekolahan”. Padahal hakikat pendidikan adalah pembentukan pribadi anak yang utuh, tidak sekadar cerdas tetapi bermoral tinggi dan berdaya saing. Sementara persekolahan sarat dengan transfer pengetahuan, dan target nilai yang pada praktiknya cenderung minus kebajikan. Mereka sejak kecil akrab dan lekat dengan teknologi digital. Bahkan, dalam kalimat yang ekstrem, ”mereka adalah hasil asuhan dunia digital”. Dampak dari interaksi ini, satu sisi perkembangan pengetahuan anak cukup pesat, namun di sisi lain cukup banyak anak terjerembak dengan perilaku sosial menyimpang, akibat dari interaksi yang tak terkontrol.
Melihat dari sejarah itu, seharusnya pendidikan di sekolah sarat dengan paradigma pengasuhan. Kelekatan, kasih sayang, dan kesabaran menjiwai dalam proses pengasuhan agar fisik, mental, spiritual, dan sosial siswa dapat tumbuh optimal dan menjauhi perkara yang merugikan masa depannya. Meski demikian, faktanya sekolah masih dihadapkan dengan berbagai ragam masalah, banyak anak-anak menggunakan gadgetnya hanya untuk bermain game online bukan digunakan sebagai sarana media pembelajaran. Jika anak-anak ditanya oleh gurunya terkait pembelajaran dengan menggunakan media gadget untuk permainan dalam pembelajaran, mereka mesti menjawab tidak punya paket data, sementara kalau dipakai untuk permainan game online, lancar-lancar saja. Permasalahan seperti ini masih sulit dicegah.
Melihat praktik yang demikian rasanya belum menemukan kembali konsep penyelenggaraan pendidikan yang mampu menyiapkan generasi emas pada zamannya dan merupakan keharusan. Inilah reinventing masa depan pendidikan untuk menjawab fakta kondisi terkini. Diakui banyak perubahan yang telah dilakukan negara dalam pendidikan, namun masih ditemukan pula sisi-sisi lain yang perlu pembenahan dan penyempurnaan. Memang, paradigma Kurikulum Merdeka cukup positif. Namun, penguatan sekolah dalam penerapannya masih perlu terus ditingkatkan. Setiap perubahan pendidikan memerlukan proses, sehingga membutuhkan desainer andal sekaligus tantangannya, tidak semua orang peduli bisa diajak berubah. Karena sering kali perubahan dipandang sebagai ancaman, bukan peluang. Terutama bagi kelompok mapan yang sudah cukup lama menikmati kondisi dan keadaan sekarang, mereka tidak mau bergerak untuk menerima perubahan, bahkan pada perencanaan kurikulum yang baru.
Di bulan Mei ini, Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum dan sebagai bulan merdeka belajar yang tampaknya penting untuk direnungkan kembali paradigma pendidikan Ki Hadjar Dewantoro yang dikenal dengan ”Konsep Trisakti Jiwa” yaitu cipta, rasa, dan karsa. Kombinasi sinergis antara hasil olah pikir (cipta), hasil olah rasa (rasa), dan motivasi yang kuat di dalam dirinya (karsa) harus mewarnai konsep pendidikan, mulai dari aspek yuridis, penguatan sistem agar kelak anak-anak yang menjadi penikmat digital menggunakan sesuai peruntukkannya yang adaptif dan berkemajuan untuk hidup yang lebih bermanfaat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan akan selalu menjadi tombak dari proses humanisasi manusia yang akan menjadi pintu masuk terwujudnya suatu kebudayaan dengan terus bergerak bersama melanjutkan Merdeka Belajar, dengan mengunakan teknologi digital secara tepat dan benar. (*)
*)Guru di SMA Negeri 1 Waru Pamekasan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti