Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

MH Said Abdullah, Penggerak Partai sejak Muda yang Jadikan Rumah sebagai Kantor DPC

Dafir. • Selasa, 1 Juli 2025 | 20:07 WIB
Ketua Banggar DPR RI MH Said Abdullah bersama Ketua DPR RI Puan Maharani beserta pejabat lainnya dalam suatu kesempatan.
Ketua Banggar DPR RI MH Said Abdullah bersama Ketua DPR RI Puan Maharani beserta pejabat lainnya dalam suatu kesempatan.

RadarMadura.id – Ketertarikan MH Said Abdullah bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah ditunjukkan sejak muda. Itu sebabnya, saat mengenyam pendidikan SMP hingga SMA, dia rajin membaca buku-buku karangan Bung Karno.

Bahkan, saking kagumnya kepada presiden RI pertama itu, dia selalu hadir setiap ada kampanye yang dilaksanakan PDI. Tidak hanya itu, pada 1982–1985, dia dipercaya sebagai ketua DPC Banteng Muda Indonesia Kabupaten Sumenep.

”Saya masuk (PDI) mengalir saja. Karena waktu itu saya cari kantor PDI di Sumenep, susahnya minta ampun. Padahal, lokasinya ada di tengah kota,” kenangnya.

Politikus yang dikenal karena rekor perolehan suara tertinggi pada Pemilu 2024 itu menceritakan, sebenarnya pada saat menempuh pendidikan SMA, dari sisi usia belum memenuhi kriteria. Namun, partai kala itu mendapuk dirinya sebagai ketua Pemuda Demokrat-underbow PDIP.

”Saya enggak tahu prosesnya seperti apa, tapi saya diminta jadi ketua Pemuda Demokrat. Akhirnya, saya sering diajak rapat ke Surabaya,” ujarnya.

Dia menyampaikan, hadir rapat di Surabaya jangan dibayangkan seperti sekarang. Akan tetapi, pada era 1980-an, penerangan itu masih minim. Terutama, dari Sumenep menuju Surabaya. ”Dulu belum ada Jembatan Suramadu. Akses jalannya juga tidak sebagus sekarang,” katanya.

Menurut Said Abdullah, meski jarak tempuh cukup jauh, kala itu dirinya tidak pernah merasa lelah. Justru tambah semangat berorganisasi. Padahal, jika dihitung perjalanan dari Sumenep menuju Surabaya, itu bisa ditempuh 6–8 jam.

Photo
Photo

”Waktu itu naik sepeda motor. Enggak ada mobil seperti sekarang. Tapi, saya yakin saja bahwa kita perlu bintang penuntun sebagai ideologi kita,” tuturnya.

Artinya, sambung dia, apa pun yang didapat hari ini, tentu bukan hal instan. Akan tetapi, melalui proses dan pengabdian yang sangat panjang. ”Kita ini boleh kaya, tapi kerakyatan kita tidak boleh hilang,” pesannya.

Said Abdullah mengatakan, setelah bertahun-tahun bergabung ke PDIP, tiba-tiba sekretaris DPC PDIP Sumenep meninggal dunia karena serangan jantung. ”Pak Murat tiba-tiba serangan jantung. Lalu, saya ditetapkan sebagai sekretaris DPC PDIP Sumenep pada 1983 oleh Ketua DPD PDIP Jatim Marsusi. Saat itu ketua DPC-nya Pak Zakariyah,” sebutnya.

Dia menjelaskan, menjadi pengurus partai di usia muda tentu banyak tantangan. Apalagi, di Sumenep basisnya adalah Partai Golkar dan PPP. Namun, kegigihan untuk membesarkan partai tidak pernah surut.

”Hingga akhirnya suatu ketika Ibu Mega ke Sumenep, ke Pak Suryadi, terus ke rumah saya. Karena rumah saya itu sekretariat DPC PDIP Sumenep. Itulah pertemuan pertama saya dengan Bu Mega,” tuturnya. (daf)

Editor : Dafir.
#MH Said Abdullah