BELUM terbilang seminggu, arus balik para pemudik sudah membanjiri jalanan menuju kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Semarang, dan Bandung. Arus balik ini karena sebagian warga desa yang merantau di kota-kota harus kembali berkarya, bekerja sebagaimana biasanya. Dan saat ini, kesibukan di kota-kota besar telah kembali berjalan seperti biasanya.
Namun, perayaan Lebaran belum usai di kampung-kampung, terutama di Jawa dan Madura. Seminggu setelah Lebaran, kita di Madura merayakan Lebaran Ketupat. Tradisi memasak ketupat. Lebaran Ketupat seperti ”perayaan pemungkas” dari rangkaian Idul Fitri.
Tradisi ini muncul pada masa Sunan Kalijaga syiar Islam di tanah Jawa. Ciri khas dakwah Islam Sunan Kalijaga menggunakan jalan kebudayaan. Wali dari Tuban itu menyerap berbagai tradisi dan kebudayaan pra Islam untuk diberi bentuk dan makna baru sebagai jalan dakwah.
Sunan Kalijaga memiliki jalan pembaruan kebudayaan melalui Islam yang akulturatif. Ketupatan seminggu setelah Idul Fitri merupakan ”adopsi” dari tradisi slametan yang telah berkembang sejak lama sebelum datangnya Islam. Nenek moyang kita dahulu, setiap peristiwa penting yang akan dan telah dilaluinya ditandai dengan slametan.
Slametan merupakan ritus memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa yang disertai dengan pemberian sesaji atau pemberian makanan kepada warga sekitar. Oleh Sunan Kalijaga pemberian sesajinya yang ditujukan kepada para danyang (roh gaib) dihilangkan, digantikan dengan panjatan dan doa syukur kepada Allah, Zat Yang Maha Tunggal. Sementara berbagai makanan dengan para tetangga sekitar tetap diadopsi sebagai konsep berbagi sebagai amalan sosial.
Demikian halnya dengan Lebaran Ketupat. Berdasarkan cerita para kiai sepuh yang saya dapatkan, Lebaran Ketupat mengambil dari tradisi slametan. Namun oleh Sunan Kalijaga sebagai sosok yang jenius secara kultural, ditandai dengan membuat ketupat, yang sesungguhnya bentuk lain dari lontong, hanya beda kemasan dan bentuknya. Lontong sudah ada sejak era Majapahit sebagai salah satu kuliner keraton.
Adakah terkandung maksud Sunan Kalijaga membuat kreasi budaya, kemasan lontong menjadi ketupat? Sebagai orang Jawa, Sunan Kalijaga menghadirkan ketupat pada Lebaran Ketupat dimaksudkan agar kita semua bersedia ngaku lepat (mengaku salah). Sebab, manusia tempatnya salah dan lupa. Lebaran Ketupat seolah menegaskan kembali, mengingatkan kepada kita semua untuk masih ada waktu, merendahkan hati, saling memaafkan, terutama kepada orang tua.
Semarak Ketupatan
Di Sumenep kampung halaman saya, kita mengenal tellasan topa’, istilah lain dari perayaan ketupatan. Tradisi ini makin menguatkan syiar Islam yang fondasinya telah ditanamkan kuat secara kultural oleh Sunan Kalijaga.
Tellasan topa’ bukan sekadar berbagi ketupat, opor ayam, dan kuahnya seperti tradisi ter-ater saat hendak memasuki bulan Ramadan. Saat merayakan tellasan topa’, warga berbondong-bondong membawa ketupat, opor ayam, atau lauk dan kuah lainnya, disandingkan dengan kue suguhan Lebaran ke masjid.
Acara ditandai dengan memanjatkan doa, biasanya dengan doa istighotsah. Sebab, orang-orang Madura mayoritas adalah nahdliyin. Acara istighotsah dipimpin oleh kiai atau ulama setempat. Istighotsah ini dimaksudkan untuk meminta keselamatan, keberkahan, serta mengirimkan doa buat sesepuh atau warga kampung yang telah ke alam baka.
Hal ini menegaskan, kemenangan fitri adalah ruang penyucian diri dengan saling memaafkan dan berbagi secara sosial, tetapi juga tidak melupakan hubungan batiniah dengan kerabat yang telah meninggal dunia. Dalam Islam, mengirimkan amalan doa bagi kerabat yang meninggal membantu menambahkan amalan baik bagi yang telah meninggal agar Allah Azza Wa Jalla memberikan pengampunan.
Momen berkumpulnya warga desa saat tellasan topa’ sekaligus memberikan kesempatan kembali kepada sesama warga yang belum sempat bertemu saat Idul Fitri karena harus berkunjung ke sanak keluarga di luar kota. Maka saat tellasan topa’, warga dapat memanfaatkan acara itu untuk saling memaafkan.
Hal penting dari tradisi tellasan topa’ adalah pemberian penghormatan terhadap para kiai, ulama yang selama ini menjadi guru spiritual dan moral, dan warga sekampung. Menjadi ekspresi kebahagiaan bagi warga bila bisa berbagi, memberikan suguhan ketupat sayur kepada para kiai atau ulama di kampung. Sebab bagi warga Madura, kiai dan ulama adalah sandaran etis-moral spiritual, sosok tempat berlabuhnya warga saat menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi.
Saat Lebaran Ketupat dirayakan, warga desa yang rata-rata menjadi petani atau nelayan, mereka memilih rehat dari pekerjaan sehari-hari. Itu sebabnya seusai istighotsah dan berbagi ketupat dijalankan, warga desa mengisi kegiatan lanjutan dengan berlibur sejenak bersama-sama dengan keluarga dekat. Sehingga saat Lebaran Ketupat, kita bisa saksikan banyak tempat wisata di Madura ramai didatangi oleh para pengunjung.
Seusai perayaan ketupatan inilah umumnya warga Madura baru kembali ke rantau. Karena itu, arus balik dari Madura umumnya memuncak setelah Lebaran Ketupat. Selanjutnya, warga Madura kembali berdiaspora, melanjutkan jalan hidupnya masing masing. Karena itulah Lebaran Ketupat menjadi momen penting bagi keluarga di Madura sebelum mereka berpisah untuk pergi ke rantau. (*)
*)Plt Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Editor : Abdul Basri