PAMEKASAN, RadarMadura.id – Cabai jawa atau disebut juga cabai jamu sangat prospek.
Cabai ini tidak mengenal musim. Perawatan tidak terlalu ribet. Harga juga selalu tinggi.
Cabai jamu terkenal dengan berbagai khasiatnya yang oleh masyarakat dijadikan campuran bahan untuk membuat jamu.
Tak sedikit yang menanam tanaman ini. Salah satunya Moh. Agus, warga Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan.
Dia sudah puluhan tahun menanam tanaman yang termasuk keluarga piperaceae itu.
Agus memiliki sekitar 200 pohon cabai jawa yang tidak hanya ditanam di satu kebun. Hal ini menjadi ladang bisnis usahanya dari pertanian.
”Bersyukur saja, di daerah sini tergolong banyak yang mulai menanam cabai jawa ini,” ungkapnya.
Cara tanam cabai jamu juga tergolong mudah. Petani biasa menyiapkan lubang sedalam 10 sentimeter dan tunas muda siap ditanam.
Petani juga menyiapkan batang pohon kelor sebagai tempat menjalar. Jarak antara tanaman yang satu dengan lainnya antara 1 meter hingga 1,5 meter untuk memberikan ruang saat mulai panen.
Semua tanah bisa ditanami cabai jawa ini. Namun, yang lebih bagus yang tergolong tanah gembur.
Penyiraman hanya dilakukan sehari sekali saat sore. Bahkan, pada musim hujan tidak dilakukan penyiraman.
”Untuk pohon sebagai tempat menjalar itu sebenarnya bebas mau menggunakan apa saja. Tapi, ini saya memakai pohon kelor agar hasilnya dobel,” ucap Agus.
Yang dimaksud Agus, cabai jamu menghasilkan buah untuk dijual. Sementara pohon kelor menghasilkan daun untuk dibuat sayur dan olahan lain.
Kualitas produksi cabai jamu ini lebih bagus saat musim hujan. Sebab, saat musim hujan itu berbuah lebat.
Beda halnya dengan musim kemarau yang produksinya berkurang dan kualitasnya kurang optimal meski tetap berbuah.
Maka, musim yang paling bagus untuk menanam cabai jamu yakni saat musim hujan. Dalam setahun Agus bisa memanen cabai beberapa kali.
”Musim hujan itu hasil produksinya banyak. Sampai sekarang ini sudah dua kali,” kata Agus pada pertengahan Maret (16/3).
Dia mengungkapkan, meskipun musim hujan termasuk waktu yang cocok saat panen, namun hama harus diperhatikan.
Sebab, pada musim hujan biasa terjadi pembusukan pada pangkal batang akibat kutu daun dan juga kutu kebul.
Untuk pupuk, Agus lebih memilih menggunakan pupuk kandang. Meskipun, terkadang dia tetap menggunakan pupuk urea dengan takaran yang sedikit.
”Pupuk kimia tetap pakai, tapi tetap lebih bagus pupuk kandang ini,” jelas Agus.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Madura (Unira) Moh. Zali mengatakan, tanaman cabai jawa diyakini memiliki banyak manfaat.
Dia juga menyatakan bahwa penggunaan pupuk kandang lebih bagus. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti