RadarMadura.id - Apa jadinya kalau makanan diberi nama “telur kelelawar”? Reaksi pertama pasti antara penasaran dan heran. Tapi tunggu dulu—di Kalimantan Selatan, nama unik ini justru melambangkan salah satu bubur tradisional paling menggugah selera: Bubur Hintalu Karuang.
Aromanya adalah puisi. Ketika gula merah meleleh dalam air mendidih, disambut wangi daun pandan dan gurihnya santan kental, dapur seketika berubah menjadi ruang nostalgia.
Tak butuh alat canggih atau bahan mahal, hanya kehangatan tangan yang telaten menggulung adonan kecil-kecil dari tepung ketan dan tepung beras.
Tapi, siapa sangka kelezatan ini lahir dari bahan yang sangat sederhana? Lihat saja: 6 sendok makan tepung ketan, 3 sendok makan tepung beras, sedikit garam, dan air. Itu saja bahan dasarnya. Tak perlu banyak bumbu, karena sihirnya justru terletak pada proses perlahan yang tak bisa terburu-buru.
Satu per satu, bulatan kecil seperti telur-telur mungil itu ditenggelamkan dalam kuah mendidih. Mereka akan mengapung perlahan—itulah momen emasnya. Saat itulah susu bubuk dan santan ditambahkan, membuat kuah menjadi lebih kaya, creamy, dan siap memanjakan lidah siapa pun yang mencicipi.
Bubur ini bukan cuma makanan. Ia adalah warisan.
Dibuat di rumah-rumah Banjar saat bulan Ramadan, disajikan hangat untuk berbuka puasa, atau dinikmati sambil berbincang santai di sore hari. Bubur hintalu karuang bukan sekadar kuliner, tapi pengikat cerita keluarga.
Menariknya, meski terkesan tradisional dan “jadul”, bubur ini justru makin dicari di era kekinian.
Banyak yang menyajikannya sebagai dessert lokal dengan tampilan cantik nan estetik, bahkan dijadikan konten viral oleh food vlogger karena namanya yang unik.
Jika kamu sedang mencari menu baru yang manis, bernuansa etnik, dan penuh cerita, bubur hintalu karuang adalah jawaban yang tepat. Sekali suap, kamu akan mengerti kenapa makanan sederhana ini bisa bertahan dari generasi ke generasi. (fadila)
Editor : Fadila An Naila