BANGKALAN, RadarMadura.id – Nyamin mendirikan Museum Mini Ambyar di Dusun Duur, Desa Langkap, Burneh, Bangkalan.
Terdapat 500 koleksi benda bersejarah dalam museum tersebut. Dia mengumpulkan benda-benda kuno tersebut selama tujuh tahun.
”Beginilah aktivitas saya, mengumpulkan benda-benda kuno peninggalan nenek moyang,” kata Nyamin saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Sabtu (25/5).
Sembari menunjukkan koleksi-koleksi berharganya, Nyamin menceritakan awal mula mendirikan museum tersebut.
Dia mengaku, cinta terhadap benda-benda kuno dan bersejarah sejak remaja. Sejak itu dia mengoleksi benda yang bernilai sejarah.
Koleksi di Museum Mini Ambyar ini berjumlah sekitar 500. Sebagian besar merupakan peninggalan orang Madura.
Namun, ada juga peninggalan orang-orang luar seperti Jawa dan Kalimantan.
”Beberapa benda peninggalan orang Madura itu ada palongan, tempat menyimpan barang berharga. Ada jhudung, tempat membawa maskawin,” katanya
”Lalu, ronjangan, alat menumbuk padi. Selain itu, ada gilisan, naggala, kaleles, dan masih banyak lainnya,” imbuh dia.
Pria asal Kediri itu mengungkapkan, meski pendatang, dirinya sangat mencintai Madura. Mendirikan museum mini merupakan wujud kecintaannya terhadap kebudayaan Madura.
Sebagai seorang pensiunan guru SD, Nyamin merasa prihatin karena siswa-siswi tidak mengenali benda peninggalan nenek moyangnya. Sehingga, dirinya berinisiatif mengumpulkan benda tersebut.
”Benda-benda kuno ini sebagian saya beli. Tapi banyak juga hasil hibah dari masyarakat. Mungkin mereka tahu kalau saya kolektor, bukan untuk dijual,” tuturnya.
Pria berusia 60 tahun itu menaruh harapan besar agar museum tersebut tidak hanya menjaga warisan budaya.
Akan tetapi, juga memastikan bahwa pengetahuan tentang masa lalu terus diwariskan kepada generasi mendatang.
”Saya mendirikan museum ini tidak lain hanya untuk edukasi. Saya ingin agar generasi muda tahu tentang sejarah nenek moyang. Makanya, masuk museum ini saya gratiskan,” tukas suami Komariyah ini. (c3/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta