SUMENEP, RadarMadura.id – Komitmen Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah dalam isu-isu lingkungan sudah lama terdengar.
Bahkan, pesantren yang berdiri pada 1987 di Desa/Kecamatan Guluk-Guluk ini turut serta mengampanyekan global warming sejak awal 2000-an.
Komitmen itu tampak melalui berbagai kegiatan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.
Di pesantren ini pernah berdiri Komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG). Sampah-sampah plastik yang bertebaran di area pesantren diolah menjadi berbagai produk. Yang paling terkenal berupa tas dan lain-lain.
Konon, PSG yang merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler siswa SMA 3 Annuqayah itu dimotori oleh beberapa kiai muda.
Antara lain, Kiai M. Faizi, Kiai M. Mushthafa, Kiai M. Affan, dan Nyai Mus’idah Amin. Dan, kini di Ponpes Annuqayah Daerah Lubangsa berdiri UPT Jatian, suatu unit khusus pelaksana teknis pengelolaan sampah.
Siang itu, Senin (4/3), Jawa Pos Radar Madura (JPRM) melihat langsung pendaurulangan sampah.
Mulai dari pengumpulan di titik sumber sampah hingga pengelolaan dan pengolahan.
Di halaman belakang Ponpes Annuqayah Daerah Lubangsa tampak sebuah gubuk dengan tumpukan sampah plastik yang diproduksi santri setiap hari.
Sampah-sampah itu tidak dibiarkan begitu saja. Namun, ada sejumlah santri yang akan menyulapnya menjadi barang-barang kreatif. Mulai dari paving, tas, bunga, dan lain-lain.
”Sampah-sampah itu akan dibakar dulu,” tutur Ketua Pengurus Ponpes Annuqayah Lubangsa Moh. Farid kepada JPRM, memulai pembicaraan.
Santri asal Desa Gapurana, Kecamatan Talango, itu menjelaskan, setiap hari para santri yang tergabung dalam UPT Jatian itu nyaris bergelut dengan sampah.
Kotor dan jorok itu sudah jelas. Namun, komitmen menjaga lingkungan dari ancaman sampah plastik tetap harus berjalan.
UPT Jatian didirikan pada 23 Agustus 2023 dan diresmikan langsung oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin ketika berkunjung ke pesantren ini. Tepatnya, dalam program emas bertajuk Ekopesantren Mandiri Atasi Sampah.
Dia menjelaskan, hingga hari ini, sampah terus menjadi permasalahan tak berkesudahan di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia.
Bahkan, negara-negara maju yang sudah memiliki sistem pengelolaan sampah paling mutakhir sekalipun nyatanya belum mampu menyelesaikan persoalan sampahnya sendiri.
Mereka juga harus mengirimkan sampahnya ke negara-negara berkembang.
”Ini bisa dilihat dari kasus sampah impor di Jawa Timur yang salah satu penyumbang terbesarnya berasal dari negara-negara maju di Eropa,” ucapnya.
Menurut Farid, pesantren sebagai salah satu pusat populasi tak luput dari permasalahan timbulan sampah setiap harinya. Catatan dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU), di Indonesia terdapat 40 ribu pesantren.
Dengan mengatasi masalah sampah di pesantren-pesantren tanah air saja, dapat dibayangkan dampak signifikan bagi masa depan ekologi negeri ini.
”Lubangsa begitu menyadari hal ini, terutama dengan fakta ratusan kilogram timbulan sampah yang dihasilkannya setiap hari,” ujarnya.
Farid menjelaskan, pada hari-hari tertentu, angka ini dapat mencapai kisaran 1 ton. Sampah ini berakhir menjadi tumpukan dan menggunung di tempat pembuangan sampah (TPS) Ponpes Annuqayah bersama sampah dari kompleks pesantren daerah lain.
Sistem TPS Annuqayah sejauh ini masih menerapkan cara lama, yaitu open dumping dengan penanganan tumpuk dan bakar. Penanganan semacam ini jelas akan berdampak buruk bagi lingkungan.
”Maka, sejak bulan Maret 2023 lalu dicanangkanlah inisiasi zero TPA. Lubangsa tidak lagi membuang sampahnya ke tempat pembuangan mana pun di luar lingkungannya sendiri,” tegasnya.
Dengan UPT Jatian itu, para santri Ponpes Annuqayah, khususnya Daerah Lubangsa, diharapkan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan.
Sebab, merawat lingkungan adalah tugas bersama. Dia juga yakin, dengan cara kreatif seperti ini, pengelolaan sampah akan menjadi loncatan ekonomi sirkular yang lahir dari pesantren. Juga istimewa karena sama sekali tidak melibatkan teknologi tinggi apa pun.
”Jadi, dengan cara seperti ini, kami juga ingin mengajak pesantren lain menjadi penggerak untuk sama-sama jadi promotor pelestarian lingkungan saat ini,” tandasnya. (di/luq)
Editor : Ina Herdiyana