SUMENEP, RadarMadura.id – Tidak ada yang instan dalam hidup. Semua butuh proses. Butuh langkah yang terus berderap maju untuk bisa sampai ke puncak.
Seperti yang dilakukan perempuan asal Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Widayanti.
Widayanti mulai menikmati buah perjuangannya. Puncak karier yang diimpikan sudah digenggam.
Namun, dia tidak pernah puas. Pilihannya cuma satu: melangkah maju untuk menjemput prestasi lebih tinggi.
Kesibukannya sebagai guru bermula pada 2015. Saat itu, dia baru lulus SMA di Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.
Perempuan yang biasa dikenal Widayanti Rose ini kemudian kuliah di Instik Annuqayah. Jam kuliah hanya sore.
”Karena itulah, saya mulai diminta untuk membantu mengajar di SD tempat saya sekolah dulu,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran 22 September 1986 itu mulai menjadi guru sukarelawan (sukwan) di SDN Kertagena Laok 2, Kecamatan Kadur, Pamekasan.
Semasa mondok di Annuqayah, tiap kali liburan, dia rutin berkunjung ke sekolah tempat dia dulu belajar.
Setelah lulus SMA, Widayanti menjadi guru sukwan menggantikan guru kelas yang berhalangan.
Setelah empat tahun menjadi tenaga honorer, Widayanti diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 2009.
”Saya ditugaskan menjadi guru SDN Kalowang 5, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi,” tuturnya.
Setelah 6,5 tahun menjadi guru di pulau, Widayanti dipindah ke SDN Kapedi 1, Kecamatan Bluto pada 2015.
Dipindah tugas ke wilayah darat, membuat Widayanti rindu pada sebongkah kenangan di Pulau Sapi itu.
Dari situlah, dia berupaya menuliskan bermacam kenangan saat mengajar di SDN Kalowang 5.
Kebetulan, dia memang memiliki hobi menulis sejak mondok. Hanya, aktivitas tersebut sempat vakum bertahun-tahun.
Aktivitas menulis kembali dia lakukan setelah bertugas menjadi Guru SDN Kapedi 1.
Bersamaan dengan itu, Widayanti mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) menulis yang digelar Media Guru Indonesia di Kota Batu.
Dalam diklat tersebut, tiap peserta ditarget menyelesaikan satu buku dengan waktu satu bulan.
Cerita ringan tentang perjuangan Widayanti menjadi guru di Pulau Sapudi berhasil tuntas sesuai target. Atas upaya kerasnya, buku berjudul Batman Teacher berhasil diterbitkan.
Dia mengambil nama ”batman”, karena desa tempat dia mengajar di Sapudi adalah Kalowang (bahasa Madura) alias kelelawar.
Sedangkan, karakter sosok Batman, dianggap tidak sekadar superhero. Tetapi, juga memiliki kecerdasan intelektual dan teknologi.
”Menjadi guru tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan otot. Tetapi, juga harus bisa cerdas intelektual, kreatif, dan inovatif,” ucapnya.
Tidak selesai di situ. Buku yang dia tulis diikutkan lomba diseminasi literasi yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sesuai impian, karya tersebut mendapat penghargaan juara pertama.
”Berkat prestasi ini, saya mendapat kesempatan belajar ke Tiongkok,” kata warga Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, Sumenep, itu. (bus/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia