Atlet pencak silat Pamekasan kategori beregu menorehkan namanya sebagai juara pada Porprov VI Jatim. Prestasi gemilang tidak ujug-ujug diperoleh. Butuh perjuangan. Termasuk merasakan kegagalan.
PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan
KANTOR Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Pamekasan kedatangan tamu spesial kemarin (16/7). Dua dara berkerudung menyambangi kantor di Jalan Kabupaten itu. Mereka adalah Safarina Nurul Imani dan Weny Dwi Muhnika Aries.
Dua mahasiswi semester III itu merupakan atlet pencak silat yang berhasil mengharumkan nama Pamekasan. Mereka berhasil memboyong medali emas dalam ajang Porprov VI Jatim.
Sepintas tidak tampak bahwa dua dara itu ”pendekar”. Nada bicaranya pelan. Tata kramanya sangat bagus. Bahkan, tutur bicaranya halus dan lemah lembut. Namun, identitas sebagai atlet silat sangat tampak.
Pakaian yang mereka kenakan serbahitam. Aksesori bercorak batik mengikat pinggang dan kepalanya. Mereka berbagi cerita tentang perjuangan yang dilakukan hingga mengantarkan pada puncak prestasi.
Safarina menekuni pencak silat sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Motivasi mengikuti seni bela diri bukan untuk mengejar prestasi. Tetapi, lebih pada keinginan menjaga diri.
Sebab, sebagai perempuan kerap mendapat perlakuan kurang baik dari orang. Dengan demikian, kala itu dia berkesimpulan bahwa perempuan tidak boleh diremehkan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni dengan menekuni bela diri.
Namun tidak disangka, hobinya itu justru mengantarkan pada pintu prestasi. Pada 2009, dara kelahiran 17 Oktober 1999 itu berhasil meraih juara kedua. Prestasi itu diraih dalam ajang pekan olahraga SD Beregu tingkat Jawa Timur.
Prestasi terus ditorehkan di tingkat kabupaten. Beberapa kompetisi yang diikuti juga sempat gagal. Namun, kegagalan itu tidak membuat Safarina putus asa. Justru, dia semakin giat berlatih. ”Semangat berlatih semakin tinggi,” katanya.
Latihan keras terus dijalani sampai lulus sekolah menengah atas (SMA). Pasca masuk perguruan tinggi, dia digandengkan dengan Weny Dwi Muhnika Aries. Ajang pertama yang diikuti semenjak berduet dengan teman SD itu Suramadu Cup pada 2018.
Alhasil, Safarina dan Weny keluar sebagai juara kedua dalam ajang bergengsi tersebut. Akhir Desember 2018 mereka kembali mengikuti kejuaraan tingkat regional. Hasilnya, mereka menyabet juara pertama. ”Prestasi adalah hasil dari kerja keras kami,” katanya.
Pengalaman pahit berupa kegagalan juga dirasakan Weny. Dara kelahiran 25 Agustus 1999 itu tidak pernah menyerah meski gagal. Semangat kian tersulut saat dia harus melihat rivalnya keluar sebagai juara.
Latihan keras hingga membagi waktu antara belajar dan berlatih silat dilakukan. Bahkan, dia harus menolak ajakan bermain temannya karena harus fokus belajar dan berlatih.
Pintu juara dibuka pada 2011. Mahasiswi prodi Tadris IPS itu berhasil keluar sebagai lima penyaji terbaik pada festival pencak silat tingkat kabupaten. Kemudian, pada 2014 berhasil meraih juara kedua dalam ajang kejuaraan pencak silat remaja tingkat kabupaten.
Weny menjadi kebanggaan di mata keluarganya. Bahkan, jejaknya menapaki karir sebagai atlet pencak silat diikuti sang adik. ”Alhamdulillah, banyak prestasi yang berhasil diraih,” katanya.
Dia berharap, semua generasi muda terus berkarya sesuai dengan hobi dan bakat yang dimiliki. Menurut dia, asal ada kemauan, pasti diberi jalan oleh Allah. Semangat belajar dan berlatih harus ditingkatkan. Dengan demikian, prestasi akan mengikuti.
Sekretaris Umum KONI Pamekasan Moh. Farid mengaku bersyukur atas capaian gemilang itu. Menurut dia, raihan medali emas itu membuat seluruh masyarakat Pamekasan bangga. ”Mereka telah berbuat yang terbaik dan memberikan prestasi luar biasa,” katanya.
Farid berharap, para atlet terus berkarya dan memberikan hasil positif bagi Pamekasan. Kemudian, menjadi contoh bagi generasi muda yang lain untuk mengikuti jejaknya mendulang prestasi. ”Mereka harus terus berlatih dengan intensif dan berusaha agar tetap menjaga prestasi dan meningkatkan skill kemampuannya,” tandasnya.
Editor : Abdul Basri