Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sambal Pedas dari Banyuanyar: Dibuat Tanpa Pengawet dan Diminati Pelanggan dari Berbagai Daerah

Amin Basiri • Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:11 WIB
TEKUN: Toyyibah memasang label sambal pedas yang diproduksi sendiri di rumahnya, di Kelurahan Banyuanyar, Sampang, Jumat (17/7).
TEKUN: Toyyibah memasang label sambal pedas yang diproduksi sendiri di rumahnya, di Kelurahan Banyuanyar, Sampang, Jumat (17/7).

SAMPANG, Radar Madura.id – Ibu rumah tangga kerap diidentikkan dengan peran-peran domestik. 

Seperti, mencuci, memasak, menyapu, merawat anak, dan selalu berada rumah. 

Namun stigmatisasi tidak tepat untuk dilekatkan kepada Toyyibah, warga Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Kota Sampang. 

Sebab, meski kesehariannya banyak dihabiskan di rumah, dia bisa meraup penghasilan berkat ide kreatifnya.

Yakni, dengan memproduksi sambal pedas yang kini diminati banyak konsumen dari luar daerah. 

”Ada dua jenis sambal pedas yang saya produksi. Yakni sambal pedas cumi dna tongkol,” ujar Toyyibah, kemarin (17/7)

Perempuan berhijab itu mengaku mulai menekuni industri rumahan sejak 2023 lalu. Ide itu muncul karena suaminya suka memancing ikan dan cumi.

Hasil dari keberuntungan belahan jiwanya tersebut akhirnya diolah menjadi sambal pedas.

UMKM: Toyyibah menunjukkan wadah sambal pedas yang doproduksi di rumahnya, Jumat (17/7).
UMKM: Toyyibah menunjukkan wadah sambal pedas yang doproduksi di rumahnya, Jumat (17/7).

”Bahan baku yang saya mengolah berasal dari hasil suami memacing cumi,” imbuhnya, sambil menunjukkan produk sambal pedes yang diproduksi.

Awalnya, sambal pedas buatan Toyyibah hanya dikonsumsi keluarga besarnya. Namun seiring berjalannya waktu, istri Moh. Slamet tersebut akhirnya memberanikan diri untuk menjual produk olahannya.

”Awalnya Cuma dijual ke teman dan keluarga terdekat saja,” ujar ibu satu anak tersebut.

Toyyibah tidak menyangka produk yang dijual main banyak yang berminat. Mayoritas pelanggannya menyebut, sambal pedas yang diproduksi memiliki rasa berbeda dibandingkan dengan yang sudah ada di pasaran. 

”Ciri khasnya yaitu sambalnya pedas manis, dan ada cumi segarnya di dalam sambal tersebut,”katanya.

Toyyibah menyatakan, produk olahan tanpa menggunakan bahan pengawet. Sehingga, dia memproduksi sambal pedas saat menerima pesanan dari pelanggan setianya.

”Produk yang kami buat tahan hingga 30 hari saat disimpan di kulkas. Selain itu lebih menyehatkan karena tanpa pengawet,” katanya.

Sambal pedas itu dibandrol dengan harga yang relatif murah. Yakni mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.

Kini, sambal pedas itu telah mengantongi sertifikasi halal dan mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

”Pelangganya, ada yang dari Riau, Jakarta, Surabaya dan sebagainya,” sambungnya.

Dia bersyukur produk olahannya diminati pelanggan dari berbagai daerah di tanah air.

Dari usahanya, perempuan berusia 35 tahun ini bisa meringankan beban suaminya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

”Mudah-mudahan kedepan bisa terus diminati pelanggan dan semakin maju usaha kami ini,” tandasnya. (bai/jup)

Editor : Amin Basiri
produksi sambal pedas industri rumahan