SAMPANG, RadarMadura.id — Upaya memperkuat ekonomi desa melalui hilirisasi produk pangan kini mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi.
Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menurunkan tim dosen yang digawangi Mashudi, S.E., M.E.I
selaku Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Keislaman UTM untuk mendampingi masyarakat Desa Junok, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, dalam program Abdimas DRTPM.
Fokusnya adalah mengembangkan inovasi produk ikan bandeng, hasil utama tambak desa yang selama ini hanya dijual mentah atau diolah secara sederhana.
Baca Juga: Dewan Minta Kejari Objektif, Usut Kasus Dugaan Penyelewengan 19 Proyek Fisik di Dispendik Sampang
Desa Junok dikenal sebagai sentra tambak bandeng dengan cita rasa khas.
Bandeng dari desa ini disebut lebih gurih dan tidak berbau tanah seperti kebanyakan bandeng perairan payau di daerah lain. Namun keunggulan itu tak diikuti dengan strategi pemasaran yang kuat.
Paguyuban Bakul Ikan Al-Barokah, kelompok petambak di desa tersebut, rata-rata hanya mampu menjual 250 kilogram bandeng per bulan.
Jumlah itu jauh dari potensi optimal, mengingat permintaan di pasar tradisional Blega, Sreseh, hingga Modung sebenarnya cukup besar.
Permasalahan utama ada pada hilirisasi. Bandeng Junok umumnya dijual dalam keadaan mentah atau sebagai pindang sederhana, tanpa merek, tanpa kemasan, dan tanpa sertifikasi halal.
Kondisi ini membuat produk sulit menembus pasar modern seperti supermarket, toko ritel, atau bahkan platform digital marketplace sekalipun.
Tim Abdimas UTM yang digawangi Mashudi, S.E., M.E.I selaku Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Keislaman UTM melihat persoalan ini sebagai peluang.
Selama 2,5 bulan, mereka mendampingi petambak dengan serangkaian program: mulai dari sosialisasi pentingnya branding, pelatihan diversifikasi produk, hingga pengenalan teknologi pengolahan modern.
“Kami ingin mengubah pola pikir petambak dari sekadar menjual hasil panen mentah menjadi produsen pangan siap saji bernilai tambah,” ujar salah satu anggota tim dosen UTM.
Hasilnya, lahirlah merek “Bandeng Junok Beda”. Produk kini hadir dalam varian pindang kuning, bakar, dan presto dengan kemasan menarik serta logo halal.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan daya jual, tetapi juga memperluas jangkauan pemasaran ke pasar modern. “Kami sekarang punya identitas.
Baca Juga: Mantan Kepala Dinkes dan KB Sampang Jadi Korban Dugaan Penggelapan Pajak
Produk bandeng Junok bisa bersaing di rak-rak pasar modern,” kata Nasirah, ketua paguyuban.
Kepala Desa Junok menyebut langkah ini sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menekankan hilirisasi produk lokal.
“Lebih dari dua pertiga wilayah desa kami adalah tambak bandeng. Dengan hilirisasi, bandeng Junok bisa menjadi kebanggaan sekaligus penggerak ekonomi desa,” ujarnya.
Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan desa berbasis potensi lokal.
Hilirisasi bandeng Junok bukan sekadar soal menambah varian produk, tetapi juga membuka rantai nilai ekonomi baru di desa pesisir.
Jika berlanjut, desa kecil di Sampang ini bisa menjadi contoh sukses transformasi ekonomi berbasis pangan lokal di Madura. ***
Editor : Abdul Basri