Oleh: Ach. Jalaludin*)
Panamrin menabuh kendangnya dengan keras, sementara Mukrah terus memukul gamelan yang tak mengeluarkan suara. Di antara keduanya, hanya kesombongan yang terdengar paling nyaring.
”Tolong, jempol kananmu itu jangan kaku! Kendang bukan sekadar kayu dan kulit, ia adalah napas desa ini!”
Suara Panamrin memecah hening sore di sanggar. Beberapa pemuda desa menunduk, wajah mereka memucat.
Di pelosok Sumenep ini, orang tidak menyebutnya guru kesenian. Mereka menyebutnya panjha’ –penguasa ritme.
Saat ia memukul kendang, iramanya presisi seperti detak jantung yang diatur logika ketat.
Di sudut ruangan, saronen yang tergantung di dinding mengilap, saksi bisu masa kejayaannya sepuluh tahun silam, ketika grupnya, Sekar Anom, tampil di perayaan besar kabupaten dan gemuruh tepuk tangan ribuan orang membelah udara bersama lengkingan saronennya.
Kendang itu sendiri sudah menjadi bagian dari tubuhnya, kulitnya yang mengilap karena minyak telapak tangan, talinya yang selalu ia kencangkan sendiri setiap subuh sebelum orang lain bangun, retakan kecil di kayunya yang hanya ia hafal letaknya.
Bagi Panamrin, merawat kendang sama artinya dengan merawat dirinya sendiri: sesuatu yang tidak boleh disentuh sembarang tangan, apalagi diragukan kewibawaannya.
Baginya, panggung adalah tempat ia berhak menjadi satu-satunya pusat perhatian.
”Lihat!” seru Panamrin, memukul kendangnya sekali lagi hingga suaranya menggelegar memenuhi sanggar. ”Saronen tidak akan pernah terdengar megah tanpa kendang yang menuntunnya dengan tegas. Begitu pula orang-orang di desa ini, mereka tidak akan teratur tanpa aku yang mengatur nadanya.”
Para pemuda hanya menghela napas panjang. Mereka belajar seni. Namun di bawah asuhan Panamrin, yang sebenarnya mereka pelajari adalah ketundukan.
Di luar sanggar, matahari mulai tenggelam. Di kejauhan, sosok Mukrah melintas di pinggir lapangan desa, memeluk perangkat gamelan tua yang bisu. Panamrin melirik dari balik jendela, bibirnya melengkung sinis.
”Lihat orang gila itu,” gumamnya kepada murid-muridnya. ”Dia membawa alat musik, tapi tak sanggup mengeluarkan suara. Jangan sampai kalian jadi seperti dia, sampah di antara nada-nada yang sempurna.”
Malam itu lapangan desa terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya lampu minyak di sudut kedai kopi beradu dengan kegelapan yang merayap dari arah pesarean tua.
Di tengah lapangan yang sunyi, Mukrah duduk bersila. Di hadapannya, perangkat gamelan kecil yang berkarat tersusun rapi, tumpukan yang tampak seperti rongsokan, kontras dengan peralatan Panamrin yang dirawatnya dengan obsesi di sanggar.
Mukrah mengangkat kayu pemukulnya. Ia menghantam saron kecil dengan teknik yang tampak benar, namun tak ada dentang logam yang keluar. Sunyi.
Ia beralih ke gong kecil, memukulnya mantap—yang menyambut hanya embusan angin malam. Mukrah terus memukul, menciptakan pertunjukan seni tanpa suara di bawah rembulan.
”Sudah berminggu-minggu dia begitu,” celetuk seorang warga yang baru keluar dari kedai kopi. ”Apa yang dia cari? Memukul alat musik seolah sedang konser, tapi telinga kita tidak menangkap apa-apa.”
Tawa kecil bernada meremehkan mulai terdengar. Gamelan, bagi mereka, adalah identitas yang harus bersuara nyaring dan megah. Yang dilakukan Mukrah bukan lagi seni, melainkan kegilaan yang memalukan martabat desa.
Panamrin, yang kebetulan melintas hendak pulang, berhenti. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Mukrah dengan rasa jijik yang dipupuknya sedalam ego sendiri.
”Itulah nasib orang yang tak tahu ollang,” gumamnya, sengaja mengeraskan suara agar terdengar seantero lapangan.
”Kesenian itu harmoni yang nyata, suara yang bisa dinikmati bersama sebagai kerukunan. Yang dilakukan orang itu bukan berkesenian, dia sedang menertawakan budaya kita sendiri dengan kebisuannya yang konyol.”
Warga mengangguk, seolah pendapat sang maestro adalah kebenaran mutlak.
Mereka memalingkan wajah, mengabaikan Mukrah yang tetap menabuh gamelannya dengan ritme konstan, tak peduli pada tatapan sinis dari segala arah.
Di tengah kebisingan itu, Mukrah berhenti sejenak. Ia menatap Panamrin dengan tatapan kosong yang menusuk, lalu kembali memukul. Tetap tak bersuara.
Namun kali ini, entah kenapa, Panamrin merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya, getaran yang tak seharusnya ada dalam logika musiknya yang tertib.
Malam berikutnya udara terasa lebih berat. Panamrin, yang merasa terganggu oleh kehadiran Mukrah setiap malam, memutuskan mengakhiri ”gangguan” itu untuk selamanya. Ia melangkah angkuh menuju tengah lapangan, diikuti beberapa muridnya yang penasaran, seolah memimpin iring-iringan menuju panggung kehormatan.
”Cukup, Mukrah!” suara Panamrin membelah angin. ”Kau pikir ini lucu? Memukul logam berkarat seolah memainkan simfoni suci? Seni butuh ketepatan nada, bukan gerak tangan yang sia-sia!”
Mukrah tak membalas. Ia tetap bersila, tangan kanan menggenggam pemukul kayu, matanya datar menatap deretan rumah warga yang gelap.
Panamrin merasa dipermalukan oleh kebisuan itu. Ia meraih kendang andalannya—kulitnya halus, suaranya selalu membahana—lalu duduk tepat di depan Mukrah, menantangnya dalam sebuah duel tabuhan.
”Mari kita tunjukkan pada warga desa ini, mana musik yang benar-benar menjaga budaya dan mana yang hanya kebisingan orang kehilangan akal!”
Panamrin menabuh kendangnya dengan kecepatan tinggi. Iramanya rumit, megah, memamerkan puluhan tahun keahliannya.
Suaranya menggelegar, memantul di dinding rumah warga, memaksa mereka keluar dengan tatapan takjub sekaligus ketakutan. Di setiap dentum, ia menyisipkan ego—seolah tiap ketukan adalah pernyataan bahwa dialah penguasa nada di desa itu.
Mukrah masih bergerak dengan pola yang sama. Tangannya lincah dan berirama, namun tak ada satu pun suara tercipta. Warga mulai berbisik, menertawakan Panamrin yang tampak seperti sedang bertarung melawan bayangan.
Beberapa anak kecil di pinggir lapangan menirukan gerakan Panamrin sambil cekikikan, memukul-mukul kaleng bekas seolah ikut berduel.
Seorang ibu menyeret anaknya masuk rumah, berbisik bahwa menonton orang gila terlalu lama bisa membawa sial.
Namun sebagian besar warga tetap berdiri di sana, terpaku antara rasa geli dan rasa segan, sebab meski Panamrin tampak konyol, tak seorang pun berani menertawakannya di depan wajahnya sendiri.
Panamrin semakin murka. Ia memukul lebih keras, lebih cepat, hingga peluh membanjiri wajahnya—ingin membuktikan bahwa dialah satu-satunya yang mampu memberi nyawa pada budaya, dan Mukrah hanyalah anomali yang harus disingkirkan dari panggung kebanggaan mereka.
Tepat saat pukulan terkeras itu jatuh, sebuah fenomena ganjil terjadi.
Dentuman kendang yang seharusnya menggelegar tersedot ke dalam ruang hampa, lenyap tanpa bekas. Bukan hanya suara kendangnya—angin malam, gesekan dedaunan, bahkan detak jantung Panamrin sendiri seolah terputus dari dunia.
Panamrin terperangah, jemarinya masih melayang di atas kulit kendang, namun dunia di sekelilingnya telah berubah menjadi sunyi senyap yang mencekam. Ia melihat mulut warga terbuka tertawa, tapi tak ada suara yang keluar. Ia merasa ditarik ke dalam dimensi lain, sebuah kehampaan tanpa ujung.
Di tengah kesunyian mutlak itu, Mukrah berdiri perlahan.
Gerakannya kini tenang, berwibawa tak lagi tampak seperti orang yang kehilangan akal. Ia melangkah mendekati Panamrin yang membeku dalam ketakutan, menatap tajam ke dalam manik matanya, lalu berbisik dengan suara yang entah bagaimana menembus dinding kehampaan itu:
”Sanonto napa se erassa’agi? Gendang ta’ amonye banne karana rosak, gendang nika ngedingagi sowarana alam sebab rammi dari sowarana kasombonganna dika.”
Panamrin gemetar hebat. Ego yang dibangunnya setinggi gunung runtuh diterjang keheningan. Mukrah menunjuk ke arah alat musiknya yang bisu, ”Gendang ini bisu bukan karena rusak. Ia hanya mendengarkan suara semesta yang bising oleh kesombonganmu.”
Dalam tatapan Mukrah, Panamrin melihat sesuatu yang selama ini ia hindari.
Kesenian yang ia agungkan sebagai identitas masyarakat mungkin hanya alat untuk memuaskan kesombongannya sendiri, rantai yang selama ini ia sebut martabat dan budaya.
Air mata mengalir di pipi sang maestro, membasahi kendang yang kini terasa dingin dan asing di tangannya.
Keheningan itu pecah perlahan, digantikan suara jangkrik dan embusan angin malam. Panamrin masih bersimpuh di lapangan, bahunya merosot, jauh dari citra maestro yang angkuh.
Mukrah sudah pergi, meninggalkan gamelan tuanya yang kini tak lagi tampak seperti rongsokan, melainkan pengingat akan kesunyian yang baru saja mendudukkannya.
Warga yang tadi berkumpul masih tertegun melihat sang maestro terdiam dengan wajah basah. Tidak ada tawa. Tidak ada sorakan kemenangan.
Keesokan harinya, pintu sanggar terbuka lebih lebar dari biasanya, bukan hanya untuk murid-murid terpilih, tapi juga anak-anak kurang mampu di desa itu.
Panamrin tidak lagi berteriak menuntut ketepatan teknis. Ia duduk di antara mereka, memegang kendangnya seperti benda asing yang baru ia kenal.
Namun setiap sore, ketika suara gamelan menggema dan warga memujinya sebagai maestro yang kini ”rendah hati”, ada sesuatu di matanya yang tak pernah benar-benar hilang—kilau kecil yang muncul setiap kali murid-muridnya bertepuk tangan untuknya, bukan untuk yang lain. Ia tak pernah lagi mencari Mukrah di lapangan malam.
Ia juga tak pernah benar-benar yakin, apakah yang ia dengar malam itu adalah suara semesta, atau hanya gaung dari ketakutannya sendiri yang untuk pertama kali menemukan telinga.
Gamelan tua itu masih tergeletak di pinggir lapangan, berkarat, bisu, ditinggalkan pemiliknya entah ke mana. Kadang anak-anak kecil memungutnya, memukulnya sembarangan, dan tertawa ketika tak ada suara yang keluar.
Mereka menyebutnya mainan rusak. Tak seorang pun bertanya, kenapa benda itu tak pernah benar-benar dibuang.
Panamrin sendiri, di sanggarnya yang kini ramai oleh anak-anak, kadang berhenti di tengah mengajar, menatap kosong ke arah lapangan dari balik jendela, ke tempat di mana gamelan itu masih tergeletak. Ia tidak pernah menceritakan kejadian malam itu kepada siapa pun, bahkan kepada murid-muridnya.
Dan setiap kali ada yang bertanya mengapa ia sering terdiam, ia hanya tersenyum tipis, seolah jawabannya adalah sesuatu yang lebih baik tetap bisu seperti gamelan yang tak pernah lagi berbunyi.
*)Pengurus Perpustakaan Pondok Pesanrtren Banyuanyar. Penulis Kumpulan Cerita Lora Badrun dan Kang Didin (2023).
Editor : Amin Basiri