Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pesulap Ahli

Amin Basiri • Minggu, 7 Juni 2026 | 06:45 WIB
ilustrasi oleh magicwacke
ilustrasi oleh magicwacke

Cerpen A. MUNDZIR AR. 

            DIA ingin aku ikut serta dalam olimpiade tembak-menembak yang diadakan antarnegara tahun ini. Namun, dia memberitahuku bahwa di final aku harus mengganti peluruh karet yang juri kasi kepada peluruh asli. Lantas dengan jiwa profesional yang kumiliki, aku menuruti permintaannya. Ia memberi tahu target yang harus kubasmi dalam lomba ini. Dan karena ia menjadi salah satu peserta, maka ia ingin aku membunuhnya ketika pertandingan pula.

            “Kau bisa membunuhnya di olimpiade yang dia ikuti tahun ini, gunakan otak licikmu untuk mendaftar, lantas membunuhnya di sana.” Ucapnya malam itu melalui telepon.

            Tanpa mengetahui identitasnya, dan memang dalam kesepakatan, kami tak perlu mengetahui identitas satu sama lain. Lantas aku pun mengiyakan permintaannya. Tepat ketika kami sama-sama sampai di final, aku membalik arah pistol yang kugenggam tepat ke arah jidatnya, setiap orang yang menonton di podium sontak menutup matanya ngeri, melihat otaknya berhamburan di udara. Badannya kini tersungkur di atas lantai yang kasar, ia tampak seperti ayam yang tepar baru saja disembelih di sebuah kondangan. Bunyi sirene polisi meraung di mana-mana. Namun, lagi-lagi karena aku adalah pembunuh bayaran profesional, tak mungkin mereka dapat menangkapku dengan mudah.

            Asap mengepul di sekitar sebelum akhirnya polisi itu tiba ke arahku. Mereka keluar dari mobil dengan pistol yang mengarah entah pada siapa. Salah satu polisi melesatkan peluruhnya sembarang, peluruh itu tepat pada sasaran yang berada pada jarak 10 meter. Penonton memperhatikan kelakuan mereka yang pusing di lapangan mencari keberadaan diriku, seolah sedang berada dalam pertunjukan sulap dan sedang disaksikan oleh ratusan ribu penonton.

            Cari di pojok-pojok, jangan sampai ketinggalan sedikit pun.” Salah-satu dari mereka mengomando.

            “Siap komandan.

            “Kita cukup kemalingan bahwa dia adalah pembunuh yang dicari saja. Tak boleh lebih,” tambahnya.

            Penonton diiring petugas keluar podium. Aku menyaksikan mereka dengan tenang di sini. Misiku sudah selesai, maka aku sudah tak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya butuh jepretan kamera sebagai bukti pada klien bahwa aku telah selesai dengan tugasku dan tinggal menunggu deretan angka masuk dalam rekeningku.

***

            Barangkali tak ada orang yang asing dengan namaku. Mereka biasa memanggilku Ashyley, Hantu Kabut, Kuro Kage, dan masih banyak lagi. Mereka memberiku julukan yang berbeda-beda di setiap negara. Aku dikenal melalui poster-poster yang beredar di jalan bertuliskan seperti ini:

Wanted

Dicari pembunuh bayaran kelas kakap dengan ciri-ciri:

Kulit gelap, wajah tak menentu, sering memakai topeng kitsune[1].

Bagi yang menangkapnya,

hidup atau mati akan diberi imbalan

sebagaimana tertera;

US$9.000.000.000

Dari poster yang polisi buat itulah aku terkenal sampai hampir di seluruh dunia. Namun, ada pula yang mengenalku melalui media sosial yang kini sudah beredar luas melalui jaringan-jaringan internet.

            Membunuh adalah pekerjaan utamaku, pekerjaan yang membopongku untuk tetap hidup. Bisa dibilang aku hidup karena ada orang lain yang mati di balik itu. Namun, ini adalah pekerjaan yang juga termasuk hobiku, jarang sekali aku mengundang seseorang memasuki rumah. Hanya mereka yang aku anggap spesial yang dapat mengetahui dan masuk dalam rumahku. Namun, siapa pun yang berhasil masuk dan lantas melihat isinya pastilah menunjukkan wajah berbinar melihat ratusan piagam mengkilap yang kutatah rapi di sisi-sisi ruangan. Mereka juga akan melihat puluhan, ratusan senjata api yang tak kalah mengilapnya tertempel di dinding bagai hiasan untuk mempercantik ruangan.

            Ada memang beberapa klien yang langsung datang ke rumahku untuk memesan jasa membunuh. Namun, kebanyakan dari mereka memesan hanya melalui WhatsApp atau e-mail. Aku juga terdaftar di aplikasi khusus para pembunuh, siapa pun dapat mengakses dan memilih pembunuh yang paling mereka percaya. Biasanya klien melihat pengalaman dan rating yang tertera untuk dijadikan pertimbangan.

            Namun, tak perlu khawatir polisi akan meretas dan menangkap para pembunuh bayaran di dalamnya karena tak akan mungkin ada seorang pun yang mampu mengutak-atik aplikasi itu, bahkan sekumpulan polisi sekalipun. Klienku beragam. Ada seorang remaja yang baru saja dikhianati cinta monyetnya, kadang bos dari sebuah perusahaan yang tengah bertikai dengan perusahaan saingannya, bahkan ada pula seorang politisi yang menyewa jasaku untuk menghabisi lawan politiknya.

            Kami tak perlu menandatangani secarik kertas bersama stempel di atasnya untuk membuat kesepakatan. Aku hanya membutuhkan nama korban, alamat, dan tempat biasa dia berada. Mereka juga tak akan berani mengingkari persyaratan-persyaratan yang telah aku ajukan, minimal mereka tidak sekonyol itu untuk melanggarnya. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika mengingkarinya. Pernah suatu ketika seorang klien memesanku melalui e-mail, dia sudah mengindahkan peraturan-peraturan atau persyaratan yang ada. Namun, ia melupakan satu persyaratan yang paling fundamental, kupikir. Semua itu bermula ketika aku telah membantai target yang dia kasi dengan sempurna. Namun setelahnya, aku tak dapat menghubungi nomor telepon yang ia kirim sebelumnya. Tanpa menunggu waktu lebih lama, aku pun melacak keberadaannya melalui e-mail dan nomor telepon yang sudah tak aktif itu, hingga tak lama aku berhasil menemukannya. Ia tengah bersantai merayakan kemenangan di pantai bersama para wanita bule di sampingnya sambil meneguk sebuah kelapa di tangannya.

            Dengan segenap amarah, aku mengarahkan ujung pistolku tepat ke arahnya, lantas kepalanya hancur persis seperti target yang sebelumnya dia kasi. Darahnya berhamburan di udara, menerpa wajah wanita bule itu. Kini ia dapat bertemu dengan musuhnya di neraka. Dari itu pula, barangkali yang membuat klienku semakin menambah kewaspadaannya ketika bertransaksi denganku.

            Aku dikenal dengan aksiku yang diselingi sulap. Mungkin pepatah yang paling cocok adalah bahwa buah tak jauh jatuh dari pohonnya. Ayahku seorang pesulap andal, diundang di berbagai acara TV negeri maupun luar negeri, mataku terpanah padanya ketika sedang melaksanakan praktik sulap. Itu semua terjadi ketika umurku masih tujuh tahun, sekitar tiga puluh enam tahun yang lalu, sebelum akhirnya ia dibunuh di atas panggung, tepat ketika ia tampil di acara besar, di tengah acara peluruh melesat ke arahnya. Aku melihat sendiri kepalanya hancur lebur persis seperti kepala klien yang selalu kuhabisi. Kini badannya tergeletak di atas panggung, berenang di kubangan darahnya sendiri seraya tetap di terpa lampu sorot. Ia pernah menyuruhku untuk melanjutkan jejaknya, menjadi pesulap, lantas aku pun mengangguk dengan antusias. Namun, lagi-lagi itu semua terjadi ketika ia masih hidup dan aktif menjadi pesulap. Kini kurasa menjadi pesulap kurang rasanya jika tanpa taburan sebuah bumbu yang melezatkan dirinya. Menjadi pesulap sekaligus pembunuh, dua hal itu tiba-tiba saja muncul di benakku.

            Namun, kini semua sudah berakhir, aku sudah gulung tikar dengan jasa membunuhku. Kini pembunuh bayaran terhebat sudah tinggal nama yang akan menjadi legenda, tertera di buku sejarah, di koran harian, di dongeng-dongeng para orang tua pada anaknya yang sulit tidur. Beberapa bulan yang lalu kejadian yang sangat tak ingin kuingat terjadi padaku. Tepat ketika aku baru saja selesai dengan misiku, seperti biasa aku menyelesaikannya dengan sangat apik. Aku memotret mayatnya yang tersungkur di atas lantai kasar sebagai bukti pada klienku, ia masih menanggapiku, bahkan memberiku bintang lima di aplikasi, ia sangat puas dengan kinerjaku. Namun, lagi-lagi dengan kelancangannya, ia memblokir nomor teleponku sebelum ia membayar upah. Seperti biasa, dengan sigap aku melacaknya, tak perlu menunggu waktu lama aku pun menemukannya. Ia berada di bar yang tak asing bagiku, rasa nostalgia mengalir di benakku. Aku melihatnya duduk santai menikmati anggur di atas meja. Aku sangat yakin karena tak ada orang lain selain dirinya. Aku tak dapat melihat mukanya lantaran ia menghadap kasir, namun apa peduliku pada wajah seseorang yang sebentar lagi akan menjadi mayat.

            Aku berjalan santai memasuki bar, kubuka pintu kaca itu selayaknya pengunjung biasa. Tepat di belakangnya aku menyodorkan pistol kesayanganku ke jidatnya. Namun sebelum aku benar-benar menarik pelatuk, ia berbalik ke arahku—tepat ke arak pistolku yang juga menatapnya. Mataku terpaku padanya, aku tak bisa menarik pelatuk lebih jauh. Tenagaku tiba-tiba terkuras habis entah oleh siapa, aku hanya dapat bergumam lirih yang tak akan dapat ia dengar.

            “Pesulap ahli.” (*)

*)Pustakawan Lubangsa, pencinta lukisan dan tulisan. 

 

 

 



[1] Topeng kitsune adalah topeng berbentuk wajah rubah yang berasal dari Jepang. 

Editor : Amin Basiri
#pesulap ahli #cerpen