Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Gender dan Malam yang Berbisik

Amin Basiri • Minggu, 15 Juni 2025 | 01:03 WIB
Gender dan malam yang berbisik
Gender dan malam yang berbisik

Oleh: Faisol Ramdhoni*

Di bawah langit Sampang yang redup, suara jangkrik bersahutan seperti doa-doa yang tak pernah benar-benar sampai ke langit. Abdullah, pemuda kampung dari pelosok yang sunyi, malam itu tidak pulang ke rumahnya. Ia duduk bersila bersama lima sahabatnya di serambi langgar kayu, tempat dzikir rutin Legian yang selalu diadakan tiap malam Jumat manis. Mereka baru saja menuntaskan wirid, tasbih berderit di tangan mereka seperti denting waktu yang tidak mau berlari.

Di ambang pintu langgar, duduklah seorang tua berjubah lusuh, bersorban kelabu, dengan tatapan yang seperti menembus masa lalu dan masa depan. Dialah Ki Sabdo Angin—seorang guru kebatinan yang lebih dikenal lewat angin daripada lewat kata. Tubuhnya tak tinggi, tapi wibawanya menjulang, membuat siapa pun ragu membantah bila ia telah membuka mulut.

Malam itu, udara seolah tertahan. Ki Sabdo Angin memulai kisahnya seperti biasa, tapi kali ini dengan nada yang berbeda. Ia bercerita tentang alas yang bernama Purwo, tempat segala kekuatan magis bertumbuh. Ia mengisahkan tentang Syekh Subakir yang menaklukkan lelembut tanah Jawa, dan tentang Sunan Kalijaga yang lebih suka menyusup ke hati manusia lewat tembang dan simbol.

Tiba-tiba, di sela kisahnya yang seperti benang-benang cahaya dari dunia lain, Ki Sabdo Angin menoleh kepada Abdullah.

"Kamu kan bisa menabuh gender?"

Abdullah terdiam. Ia tidak tahu apa itu gender. Bahkan menyebut namanya saja seperti menelan kabut. Ia bukan orang Jawa, ia anak Madura. Hidupnya dipenuhi oleh lantunan salawat dan suara pengajian, bukan suara gamelan.

"Ndak, Yai," jawabnya pelan.

"Tapi kamu akan bisa."

Kalimat itu diucapkan dengan sangat ringan, namun seperti palu godam yang mengetuk ubun-ubun. Tapi bagi Abdullah, kalimat itu seperti pintu yang perlahan dibuka dari sisi lain kesadaran.

Lalu, tanpa diduga pula, Ki Sabdo Angin menyodorkan sebuah kitab tua. Sampulnya cokelat keemasan, berjumbai di ujung-ujungnya, seperti telah melintasi berabad-abad malam.

"Ini kitab kidung para wali. Kamu hidupkan kembali lewat gamelan."

Abdullah membuka halaman pertama. Matanya menangkap syair Kidung Rumeksa Ing Wengi—nyanyian malam yang pernah ia dengarkan dari youtube saat tengah malam, saat rasa takut menjelma bayang-bayang di dinding kamar, ia mendengarkan kidung itu. Syairnya seperti pelukan gaib yang menenangkan dada:

"Rumeksa ing wengi, siji dadya bala pati, Ing ngarsa Gusti, salamet saking rubeda…"

Namun malam-malam sunyi tidak selalu tenang. Dalam batinnya, Abdullah masih sibuk bertanya dan berdebat dengan dirinya sendiri:

"Kenapa harus gamelan? Kenapa harus Kidung Rumeksa Ing Wengi? Mengapa bukan syair dari Madura atau lantunan dzikir seperti biasanya? Apa hubungannya kidung ini dengan hidupku?"

Baru kali ini Abdullah tahu bahwa kidung itu bukan sekadar tembang, tapi doa-doa perlindungan dari segala yang tak kasat mata. Kitab itu bukan hanya berisi syair, tapi juga makna, ritus, dan lelaku. Tentang bagaimana kidung bisa menjadi jembatan antara dunia zahir dan batin.

Tatapan Ki Sabdo Angin malam itu bukan hanya menembus kulit dan wajahnya. Seolah ia sedang membaca lembar-lembar hidup Abdullah yang remuk di balik diamnya. Ia tahu Abdullah selama ini lebih sering berteman dengan sepi daripada suara manusia. Ia tahu, pemuda ini kadang berhari-hari menghilang dari kampungnya, hanya untuk tidur berselimut embun di kuburan para wali. Kadang ia menangis di sana, bukan karena takut, tapi karena hatinya yang terlalu penuh dan tak tahu harus ke mana ditumpahkan.

Ki Sabdo Angin seperti membaca luka-luka batin Abdullah. Tentang salat malamnya yang sering diselimuti tangis, tentang dzikirnya yang kadang lebih banyak diam dan air mata, dan tentang tidurnya yang kadang kalah oleh kantuk saat sebenarnya ia ingin bermunajat lebih lama.

Abdullah sedang terluka. Keluarganya tercerai-berai, usahanya hancur seperti kapal karam yang tak sempat diselamatkan. Ia hidup hanya dengan doa, dan kadang bahkan kehilangan harapan untuk berdoa.

Tapi di tengah reruntuhan itu, Abdullah punya sesuatu yang tak bisa dibeli atau diajarkan: getaran batin. Banyak orang tua di kampung menyebutnya punya "bawaan". Kata mereka, Abdullah seperti punya aura orang-orang dulu—orang-orang yang tidak bicara banyak, tapi kehadirannya mengubah arah angin. 

Ia bukan dukun, bukan ustaz, bukan santri sempurna, tapi ia punya rasa yang tajam. Ia bisa merasakan bila ada sesuatu yang tidak beres dalam ruang, atau bila seseorang sedang memikul beban batin berat.

Dan itulah yang dilihat Ki Sabdo Angin. Bukan karena Abdullah tahu gamelan, tapi karena Abdullah tahu sepi. Ia tahu bagaimana malam bisa menjadi teman atau musuh. Dan hanya orang seperti itu yang bisa menghidupkan kidung para wali. 

"Tapi Yai, hamba tidak mengerti gamelan. Hamba bahkan tidak tahu melagukan tembang" kata Abdullah jujur.

Ki Sabdo Angin tersenyum. "Ilmu bukan soal tahu. Ilmu itu soal mendengar. Gender itu bukan hanya bilah logam. Kidung itu bukan hanya soal nyanyian. Ia adalah bahasa. Dan kamu hanya perlu mendengarnya dari dalam."

Lalu Ki Sabdo Angin menambahkan, "Kelak, kalau ada orang yang datang dengan luka yang tak bisa dijahit, kamu bisa menyamar lewat suara gender. Menjadi penabuh yang tak dikenal, tapi tembangmu bisa menyembuhkan."

Abdullah dan kelima sahabatnya ditugasi untuk membentuk kelompok gamelan. Sebuah kelompok yang tak punya alat, tak punya pengetahuan, hanya diberi kitab dan restu dari seorang guru yang dipercaya menatap langit dari sela napasnya.

Hari-hari pun berubah. Abdullah mengembara ke desa-desa, ke pesisir, ke kota kecil yang masih menyimpan jejak Jawa dalam bentuk gamelan tua yang tersimpan di langgar-langgar sepi. Ia belajar menabuh gender dari seorang kakek buta di Bangkalan, yang mengajarinya bukan dengan mata, tapi dengan hati. Ia diajari bahwa setiap bilah logam adalah syaraf dari tubuh semesta.

Sahabat-sahabatnya belajar suling, bonang, kendang. Mereka bukan menjadi ahli, tapi menjadi hamba. Sebab musik ini bukan tentang hiburan, tapi tentang takzim kepada ruh zaman.

Abdullah merenung, barangkali tugas ini bukan hanya tentang gamelan atau tembang. Tapi tentang menghidupkan kembali sisi dirinya yang telah lama tertidur.

"Mungkin aku memang tak tahu gamelan. Tapi aku tahu rasa takut. Aku tahu gelap malam. Aku tahu luka. Aku tahu sepi. Dan kidung dan gender ini akan menuntunku keluar dari semua reruntuhan ini."

Dalam perenungannya, Abdullah teringat ayat Al-Qur'an yang sering dibacakan Ki Sabdo Angin:

"Allāhu Nūru as-Samāwāti wal-Arḍ…" (QS. An-Nur: 35)

Tuhan adalah cahaya langit dan bumi. 

Cahaya petunjuk,cahaya kalam yang turun ke dada para nabi dan wali. Cahaya yang memberi hidup pada ruh,dan menyingkap tabir dari mata hati yang tertutup. Cahaya ini membawa kita dari kegelapan menuju terang makrifat.

Namun Abdullah tahu, jalan menuju cahaya bukanlah jalan yang mulus. Ia bukan karpet merah penuh sambutan, melainkan lorong-lorong gelap yang menusuk ke dalam diri. Dalam sepi yang mendesak di antara malam dan dzikir yang tak kunjung menenangkan, ia mulai menyadari sesuatu: bahwa luka bukanlah aib, melainkan pintu. 

Seperti kata Jalaluddin Rumi, "Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu." Dan Abdullah perlahan belajar menerima lukanya bukan sebagai kutukan, tetapi sebagai jalan rahmat. Mungkin itulah sebabnya ia dipilih. Bukan karena ia sempurna, tapi karena hatinya retak, dan dari celah retakan itulah sinar langit mulai menyelinap perlahan—diam-diam menyembuhkan.

Abdullah sadar, kidung itu bukan sekadar lagu. Ia adalah cahaya. Dan gender bukan sekadar alat musik, ia adalah lentera. Maka dari itu, ketika suara tembang bergetar di malam hari, itu bukan hanya untuk telinga, tapi untuk jiwa.

Seringkali ia memulai setiap penabuhannya dengan dzikir:

“Ilahi Anta Maqsudi Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”

Agar suara yang lahir bukan dari ego, melainkan dari kepasrahan.

Setiap malam, saat ia menabuh gender dalam sunyi, ia merasa seolah ruh Sunan Kalijaga membisikkan jawaban:

"Karena suara lebih dulu lahir dari kata. Dan getar lebih jujur dari logika."

Beberapa bulan kemudian, kelompok itu terbentuk. Namanya sederhana: Sapo’ Angin. Mereka mulai memainkan kidung-kidung wali di tengah malam, kadang di langgar, kadang di pelataran rumah sakit, kadang di rumah-rumah orang yang kemalangan.

 Nama Sapo’ Angin sendiri merupakan penghormatan terhadap guru mereka, Ki Sabdo Angin. Dalam bahasa Madura, “sapo’” berarti “berselimut”.

Sapo’ Angin berarti “berselimut angin” — sebuah perlambang dalam tasawuf tentang kehampaan yang membungkus, tentang dzat yang tak bisa disentuh tapi selalu hadir. Dalam terminologi sufistik, berselimut angin berarti membiarkan diri dibimbing oleh yang tak kasat mata, mengikuti gerak ruh tanpa banyak kata. Seperti para wali, mereka tidak menampakkan kehadiran, tapi efek keberadaannya terasa, seperti angin yang tak terlihat tapi menyejukkan.

Orang-orang datang bukan untuk menonton, tapi untuk menangis, berdoa, dan memejamkan mata. Karena gender Abdullah memang bukan sekadar suara. Ia menjadi doa yang dipukul, harapan yang digetarkan.

Suatu malam, seorang ibu datang. Anaknya kerasukan sejak seminggu, dan semua ustaz sudah angkat tangan. Abdullah datang, tidak membawa kitab suci, hanya membawa gender kecil yang ia bawa dengan kain putih.

Di tengah ruangan, ia duduk. Tanpa berkata sepatah pun, ia mulai menabuh pelan. Kidung Rumeksa Ing Wengi menggema seperti angin malam yang membawa harum bunga melati. Anak itu tenang. Lalu menangis. Lalu tertidur.

Ibu itu memeluk Abdullah dengan air mata.

"Apa yang kau tabuh, Nak?"

"Doa yang diajarkan malam," jawabnya.

Abdullah tahu, tugasnya belum selesai. Tapi malam itu, ia merasa ruh gurunya hadir dalam semilir angin, menepuk bahunya.

Di padepokan, Ki Sabdo Angin tersenyum dalam dzikirnya. Ia tahu, suara gender telah kembali membangunkan langit yang nyaris lupa akan bahasa bumi.

Dan Abdullah, yang awalnya tak kenal dan buta akan gamelan, kini menjadi penjaga tembang. Karena kadang, untuk menyembuhkan dunia, Tuhan memilih seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya bisa.

Malam itu, di langit Sampang, bintang-bintang seperti ikut menabuh. Dan langgar kayu itu kembali hidup dengan suara yang tak semua telinga bisa dengar.

Sebab kadang, dakwah tak disampaikan lewat kata. Tapi lewat getar. Lewat nada. Lewat cinta yang tak bersuara.

*Penulis adalah Aktivis NU Sampang dan Kolumnis Di Pelbgai Media Massa

Editor : Amin Basiri
#cerpen