Cerpen LILIK SOEBARI*
SETELAH memasuki bus, Kinanti tetap berdiri di antara tangga atas dan tempat kemudi. Rasa penat mendera dan otot-otot di tubuhnya sangat kaku setelah melakukan perjalanan panjang melalui rute darat dari Bali–Banyuwangi dan berakhir di Terminal Purabaya, Surabaya.
Setelah merasa nyaman dan rasa lelah mulai berkurang, Kinanti menatap sesosok tubuh yang duduk di bangku depan. Perempuan muda, berbalut kaus abu, dan slayer merah bata melilit di lehernya. Perempuan itu termangu dengan pandangan lurus ke depan. Tak bergerak, tak berkedip, dan hanya ada genangan bersimbah di pelupuk matanya.
Beberapa penumpang yang masuk dari pintu depan acuh saja melewati bangku depan yang kosong, di samping perempuan itu. Dari tempatnya berdiri, Kinanti melihat bus hampir penuh dan terlihat kondektur menutup pintu belakang. Beberapa penumpang tergesa-gesa masuk dari arah pintu depan saat kondektur berteriak supaya penumpang mencari tempat duduk kosong.
Ada dua penumpang yang memilih keluar karena ternyata kursi di belakang telah penuh. Dan, anehnya tak ada yang bersedia duduk sebangku dengan perempuan berwajah murung, berwajah pasi.
Kinanti sebenarnya mengincar kursi cadangan yang biasa diduduki kondektur andaikan tidak mendapatkan tempat duduk. Entah, ada rasa aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya saat matanya bersirobok dengan tatapan perempuan di depannya, penuh luka dan berdarah.
Brakkkk.....
Sang sopir melompat dari bawah ke kursi kemudi, lalu menatap Kinanti. Sorot tatapannya menyuruh supaya duduk. Dengan langkah lunglai akhirnya Kinanti menuju tempat kosong dan mendaratkan bokongnya.
Suara derum terdengar, dan bus perlahan meninggalkan terminal.
Temaram senja mulai turun, lampu jalanan bergoyang menari-nari bak kunang- kunang.
”Ke mana, Mbak?”
Baca Juga: Guru yang Kehilangan Dirinya
”Klaten,” jawab Kinanti seraya menyodorkan uang.
”Mbak?” Sang kondektur menatap perempuan di sebelah Kinanti. Bias lampu bus menjadikan wajah perempuan itu semakin pucat.
Perempuan itu tak menjawab. Lantas tangannya meraih spidol yang ada di tangan kondektur. Sejenak terdiam dan kemudian menulis di secarik kertas dan memberikannya pada kondektur.
”Caruban,” gumamnya lalu menyobek karcis.
Saat kondektur berpindah ke bangku belakang. Kinanti berusaha memejamkan mata untuk mengusir rasa lelah dan tak ingin berinteraksi dengan perempuan di sampingnya.
Entah mengapa tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorongnya untuk menoleh dan menatap manik mata hitam di depannya.
Perempuan itu balik menatapnya, memindai tatapan Kinanti dengan pandangan mengintimidasi. Bola mata di depannya itu tiba-tiba menjadi lorong hitam, berpusar, dan membuat kepalanya kliyengan.
”Saya ingin tidur, jangan mengganggu,” suara itu seakan keluar dari perut dan mirip dengkuran.
Kinanti terkesiap, dan secara reflek tubuhnya menjaga jarak lalu menyandarkan kepala ke sisi kiri menekuk tangan menyangga kepala.
Deru mesin dan suara gronjal-gronjal terdengar saat melintasi jalan memecah keheningan.
Suasana kembali sunyi.
Saat mata Kinanti terpejam, lamat-lamat terdengar alunan gending menyusup di gendang telinga. Entah dari mana datangnya, hidungnya tiba-tiba mencium aroma sangit menguar dan mata Kinanti terbeliak menatap kabut entah datang dari mana tiba-tiba mengaburkan pandangan.
Semakin lama, kabut itu semakin pekat mengepung dirinya. Kinanti berusaha menyadarkan diri dengan cara mencubit lengan. Rasa sakit menjalar karena cubitannya sangat keras.
Saat menoleh ke belakang, Kinanti hanya melihat selubung pekat. Bola matanya tak mampu melihat apa-apa.
Karena penasaran, tangan kanannya meraba-raba, lalu menyentuh sosok penumpang di sampingnya, perempuan berwajah pucat. Kinanti tersentak, tangannya terasa tersetrum listrik tegangan tinggi.
Kinanti berusaha berpikir waras melihat keanehan yang dialami. Apakah ini karena dirinya kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang tanpa jeda istirahat?
Apakah ini hanya halusinasi?
Kinanti berusaha memejamkan mata. Matanya tak bisa melihat apa pun, benar-benar gulita. Sementara alunan kidungan menuntunnya memasuki labirin.
Tubuhnya tersedot pusaran berputar-putar tak tentu arah. Perut Kinanti mual bukan kepalang. Perutnya diaduk-aduk semakin menjadi. Bahkan, kepalanya seperti kincir berputar demikian cepat.
Hal yang pernah dialaminya waktu masih kanak-kanak dan kemudian jatuh sakit selama berminggu-minggu. Kala itu Broto, bapaknya, membawa Kinanti ke Banyuwangi. Konon anak gadis itu terkena santet. Awalnya kiriman gaib ditujukan pada sang ibu, namun menyasar pada Kinanti yang masih kanak-kanak.
Setelah kejadian itu, tubuh Kinanti dibersihkan dengan ritual mandi di tujuh sumber mata air berbeda, mandi di beberapa pesisir, dan mempunyai pantangan saat haid tidak boleh bepergian.
Di tengah rasa kebingungan yang bukan kepalang, tiba-tiba Kinanti mengingat sesuatu. Lalu dengan segala upaya tangannya akan meraih benda di lehernya. Namun, gerakan tangannya tiba-tiba terkunci. Kedua tangannya yang semula bergerak mengikuti putaran tubuhnya kini menjadi kaku tak bisa digerakkan.
Dalam kondisi seperti itu Kinanti teringat bacaan doa yang pernah diajarkan oleh bapaknya, Broto. Dalam kondisi sakit keras lelaki bermata cekung itu memberikan secarik kertas, lalu menuntun Kinanti untuk menghafalkan tulisan yang tertera.
”Bismillahirrahmanirrahim, la haula wala quwwata illa billa hil aliyil adzim.”
Lalu melanjutkan membaca lafaz, ”Laa ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa 'ala syai’in qadir.”
Entah berapa lama Kinanti berzikir dan terkejut saat mendengar teriakan kondektur.
”Madiun, persiapan.”
Decit rem terdengar dan langkah-langkah kaki tergesa-gesa menuju arah pintu depan.
Entah mengapa tiba-tiba Kinanti berdiri lalu berteriak memanggil kondektur, akan tetapi suaranya seakan tertelan begitu saja.
Kinanti mencoba duduk kembali dan merasakan kondisinya mulai sedikit normal. Namun saat bus berjalan, alunan gending kembali mendayu masuk ke gendang telinga.
Kinanti melihat kabut tipis mulai datang lalu mengepungnya. Warnanya tak sepakat saat dirinya terlempar di pusaran labirin.
”Jeng Kinanti,” terdengar suara lirih dari samping.
Kinanti terkejut bukan kepalang karena yakin bahwa itu adalah suara penumpang di sampingnya. Bagaimana bisa mengenal dirinya?
”Mendekatlah, kemari,” titahnya. Nada suaranya menakutkan.
”Darahmu menetes.”
Kinanti terkesiap dan tidak mengerti apa maksud perempuan berwajah pucat itu.
”Darahmu menetes, turunlah,” nada suaranya kini berubah menjadi perintah.
Kinanti mencoba tenang dan memejamkan mata lalu melafazkan zikir. Tangannya naik ke leher dan memegang erat kalung tasbih dari kayu santiki, hadiah dari Ustad Hanafi semasa masih duduk di bangku SMA.
Kinanti baru menyadari bahwa saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sejak memasuki tol Pasuruan perutnya terasa sakit, khas perempuan akan datang bulan. Kinanti terlupa akan pesan kedua orang tua serta orang pintar yang pernah mengobatinya semasa sakit, saat berada dalam kondisi seperti itu harus berada di lingkungan aman. Berada di area rumah.
”Turunlah,” telinga Kinanti mendengar suara menggeram dari arah sampingnya.
Rasa takut mulai menjalar di hati Kinanti karena tak mungkin turun di tengah jalan saat malam seperti ini.
”Turunlah... !”
Kinanti tersentak dan secara reflek berdiri, berteriak pada kondektur. Namun rupanya kepala laki-laki itu terkulai di pintu.
Saat melihat ke belakang, pemandangan aneh terpampang, semua penumpang terkulai di bangku masing-masing dan aroma anyir darah merebak seantero bus. Lalu Kinanti menoleh ke samping, wajah perempuan pucat itu sudah seputih kapas dan menyeringai.
Kinanti berteriak histeris namun tak ada satu pun yang mendengarnya. Kinanti kembali menatap ke depan, dilihatnya sang sopir bukan melewati jalan lurus dan lempang, tapi mengemudikan busnya melewati jalanan kecil. Di samping kanan-kirinya dikepung oleh pohon-pohon menjulang tinggi.
Penuh ketakutan Kinanti bergerak ke arah sopir, sang pengemudi itu tak bergeming dan tetap saja menerobos jalanan kecil meski Kinanti berteriak histeris dan memukul keras pundak gempal itu.
Sampai akhirnya Kinanti merasakan area sensitifnya mengalirkan tetes-tetes yang semakin lama semakin banyak. Saat ada tangan dingin mencengkeramnya dari belakang Kinanti hanya mampu berteriak-teriak dan kala melihat wajah bermata bolong di depannya, tubuh perempuan itu pingsan.
Keesokan hari tersiar berita di televisi dan sejumlah media massa, dan media sosial telah terjadi sebuah kisah aneh tapi nyata. Bus rute Surabaya–Magelang ditemukan berada di tengah hutan Saradan tanpa ada satu pun penumpang. (*)
Sumenep, 22 September 2024
*)Bergerak di Rumah Literasi Sumenep. Buku terbarunya Serpihan Puisi Sampai Ambang Senja.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti