Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Marsiyah Salah Tafsir

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 5 November 2023 | 22:45 WIB
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)

Cerpen ACHMED SAYFI ARFIN FACHRILLAH*

SEMOGA engkau menjadi orang yang lemah lembut, Nak.”

Kata-kata itulah yang kerap membuat hati Adi gundah gulana. Awal-awal, ia menganggap munajat semacam itu memang kaprah diucapkan para orang tua, seperti halnya ucapan Marsiyah. Namun, Marsiyah bukan kadang kali saja mengucapkan doa yang sama, itulah yang membuat lara hati Adi semakin menggelora. Apalagi, dua bulan sudah wanita itu sakit-sakitan dan menjalani hidup selalu di atas ranjang.

Lanskap lembayung tak sepenuhnya karam saat Adi baru saja pulang dari kediaman Ke Atmawi untuk meminta solusi atas penyakit yang merundung Marsiyah.

”Kata Ke Atmawi, ibu terlalu banyak pikiran selama ini. Jadi, lepaskan semua pikiran itu agar ibu lekas sembuh. Kata dokter minggu lalu juga begitu.”

Adi mendengus halus kemudian merebahkan pantatnya pada kursi lapuk di samping ranjang. Hari semakin kelam hendak berganti malam, sementara pencahayaan di rumah itu hanya satu buah bohlam kusam yang membuat sesisi rumah terlihat sedikit suram. Marsiyah masih bungkam. Sunyi. Tak ada pembicaraan. Barangkali sukmanya masih menerka-nerka apa kata yang tepat untuk membelah hening.

”Aku akan sembuh bila Tuhan menakdirkanmu menjadi orang yang lemah lembut.”

Ada kegelian tersendiri pada ceruk dada Adi saat mendengar suara parau itu. Jelas-jelas bukan karena suaranya. Namun, karena kata-katanya yang intinya menunjukkan bahwa ”anak lelaki satu-satunya Marsiyah harus jadi orang yang lemah lembut” Adi telanjur muak, telinganya seakan dijejali beribu-ribu suara.

”Sudahlah, Bu, mengapa Ibu selalu berkata begitu? Adi sudah jadi orang yang lemah lembut kok.”

”Kurasa Tuhan berkata lain.”

”Maksud, Ibu?”

Lagi- lagi mulut tak mampu mengeluarkan jawaban. Hanya cucur air mata Marsiyah yang menjadi jawaban kala itu. Adi berbalik badan, melangkah gusar menuju kamarnya. Tak ingin lagi ia mendengar kata dari sesiapa. Pikirannya terlanjur karat, erat, dan lekat pada kata ”lemah lembut” itu. Di atas tikar lusuh nan kumuh ia mencoba sedikit tenang, hingga kemudian sayup-sayup suara azan magrib di kejauhan mulai terdengar.

Bulan yang bertandang tepat tanggal tiga bulan Syakban tampak kalis berbalut awan dan berselimut daun pohon siwalan di halaman. Malam benar-benar malam ketika Adi masih sibuk memikirkan bagaimana cara agar Marsiyah sembuh dari penyakitnya. Sedangkan jarum jam sudah membidik angka sebelas. Lamat-lamat, ia tatap tubuh Marsiyah yang lunglai melalui celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, ada kegelisahan tak terperi ketika ia menatapnya.

Malam kian larut, sementara Adi masih sibuk bercengkerama dengan pikirannya. Lelaki itu tampaknya tidak punya cara lain selain mengutarakan masalahnya pada apel di kampung itu, yaitu Sahuri. Di samping malam yang benar-benar larut, ia bertekad bahwa niatnya tidak boleh sampai lekang oleh waktu. Lagipula, Sahuri kerap begadang sampai azan berkumandang.

Di bawah cahaya bulan yang temaram, melalui jalanan setapak dengan ilalang jalang di sampingnya, serta suasana hati Adi yang sedang sedu sedan itu, ia nekat mengayun langkah ke rumah Sahuri. Suara jangkrik dan suara katak seldung seakan menjadi tembang pelipur lara malam itu. Begitu pula semerbak aroma tanah sehabis gerimis tadi sore dapat terhirup secara jelas. Tak ada jeda pada langkah Adi karena kesehatan ibunya adalah segalanya baginya.

Derap langkah kaki Adi semakin nyaring saja ketika lampu bohlam yang tak terlalu terang di belakang rumah Sahuri terlihat sudah dari kejauhan. Namun, dua orang bertopeng sarung bermotif kotak tampak mengendap-endap di bawahnya menuju kandang sapi milik Sahuri. Pelepah pisang di samping Adi terlihat mengibas-ngibas diterpa angin seolah menyuruh Adi sembunyi di baliknya agar orang bertopeng itu tidak tahu bahwa Adi mengamatinya dari kejauhan.

”Maling! Maling!

Belum lama Adi berdiri, suara lantang Sahuri terdengar merongrong, menghebohkan seantero kampung. Seketika itu juga suara bambu dipukul-pukul terdengar melolong-lolong di saban tempat, begitu pula dengan sinar senter yang teramat lacur menjelajahi setiap sudut kampung. Adi masih berdiri didekap gelap. Perlahan, ia menyaksikan bayangan dua orang bertopeng itu berlari tergopoh-gopoh memegang tampar yang terlilit pada leher satu ekor sapi di belakangnya, menuju jalanan bersemak di sebelah pohon pisang persembunyian Adi.

Adi mencari siasat. Sejenak ia menyapu pandang pada pohon pisang tempat ia bersembunyi. Ada cakkong  tertancap di sana. Barangkali, Sahuri lupa dan meninggalkannya saat membabat ilalang sore tadi. Dua orang itu kian mendekat, Adi memegang cakkong juga semakin erat. Urat-urat tangannya menyembul dan menegang seperti tampar sapi yang diseret-seret, sedangkan yang menyeretnya terseok-seok.

”Brugh…”

Adi bernapas longgar setelah gagang cakkong yang dipegangnya berhasil mengenai kepala maling sapi Sahuri dan membuatnya pingsan secara bersamaan. Kampung masih riuh, sinar senter juga masih mengembara ke saban tempat, juga suara bambu dipukul semakin berdengung dan berdengung.

”Lihatlah, Adi menangkap maling itu!”

Teriak Ke Atmawi selaku tokoh agama yang juga terlibat keriuhan malam itu. Semua warga merapat untuk memastikan bahwa maling itu benar-benar tertangkap. Sementara di lain tempat, Marsiyah merasakan sesak napas yang teramat rancap gegara terganggu suara gaduh di luar rumah.

”Adi, coba lihat kegaduhan apa yang terjadi di luar?”

Tak ada jawaban, Marsiyah mengira Adi masih terlena dalam tidurnya. Tiba-tiba pintu rumah dibuka oleh istri Ke Atmawi seraya terhuyung-huyung menuju Marsiyah. Dari rona wajahnya, ia menyimpan kabar penting yang tak sabar untuk diutarakan.

”Mar, Adi, Mar”

”Ada apa dengan Adi?” Sesak napas Marsiyah kian memburu. Pun, istri Ke Atmawi mencoba mengatur napas di sela-sela rengat keringat akibat kegaduhan tadi.

”Adi berhasil menangkap dua maling sapi dengan memukul kepalanya menggunakan cakkong milik Sahuri.” Mendengar kabar itu, penyakit yang diderita Marsiyah seketika hilang ditelan desau angin. Tubuhnya yang ringkih seakan jadi perawan, raut wajahnya yang keriput dan lunglai berubah jadi gemulai. Malam itu juga, ia merasakan kebahagiaan tak bertepi setelah sekian tahun salah tafsir.

”Rupanya cakkong yang dipegang Adi dua puluh tahun lalu saat toron tana bukan pertanda buruk,” gumam Marsiyah sebelum kemudian Adi datang dan melihat nanap, seakan tak percaya bahwa Marsiyah seketika sembuh dan terlihat lebih muda dari biasanya.

***

Pagi-pagi sekali, ibu-ibu dan para putra-putrinya sudah berkumpul di rumah Marsiyah. Ada yang mengolah bubur manis sambil berceloteh tentang aib orang kampung, ada juga yang tertawa-tertawa saja tak membantu mengolah bubur, dan bahkan ada juga yang terlihat garang menarik telinga putranya gegara main lari-larian hingga menumpahkan sesaji bubur. Semuanya terlihat amat riang pagi itu. Upacara toron tana si kecil Adi akan segera dilaksanakan. Di halaman, anak-anak sudah melingkari talam berisi palotan, tasbih, Al-Qur’an, dan sisir.

”Mar! Ini mana pisaunya?”

Hardik Misnatun setelah melihat talam yang seharusnya juga ada sebilah pisau, tak ada pisaunya. Marsiyah yang saat itu sedang enak-enaknya membabat pelepah daun pisang untuk dijadikan wadah bubur dengan cakkong milik Sahuri, langsung saja menghampiri Misnatun tanpa panjang pikir.

”Ini, letakkan di talam.”

”Kenapa cakkong? Tak ada pisau?”

”Sudah, letakkan saja! Satu-satunya pisauku hilang. Cakkong ini saja hasil pinjamanku pada Sahuri.”

Misnatun bergidik ngeri, juga geleng-geleng kepala mendengarnya. Bagaimana bisa cakkong menggantikan pisau? Apa tak terlalu besar? Meski begitu, Misnatun nurut-nurut saja pada perintah Marsiyah. Lagipula, yang akan toron tana anak Marsiyah, bukan anak Misnatun. Hari semakin terik, istri Ke Atmawi sudah siap siaga bersama sebatang lidi di pinggir halaman untuk mengusir anak-anak sebagaimana upacara toron tana dilakukan.

Lengking canda binal anak-anak seketika bungkam saat Adi digendong Marsiyah menuju talam di tengah-tengah mereka. Setelah diturunkan, Adi bergelayut manja seraya tertawa riang karena kaki mungilnya baru pertama kali menginjak bumi. Lantas, ia disuruh memegang satu di antara banyak benda di talam yang nantinya akan menentukan nasib Adi di kemudian hari. Kemerisik angin pagi membuat degup jantung Marsiyah kian berdebar, tak sabar melihat Adi memegang tasbih atau Al-Qur’an seperti anak tetangga pada umumnya.

Bermodal tampang muka elegan, Adi sejenak melihat Marsiyah dengan tatapan mata yang bulat. Marsiyah membalasnya semringah, meyakinkan Adi supaya lekas-lekas memegang tasbih atau Al-Qur’an. Akan tetapi, secara perlahan, tangan gemulai Adi meraih gagang cakkong seraya tertawa girang. Marsiyah bungkam, senyumnya pudar. Desas-desus suara mulut tetangga tentang Adi yang kelak akan jadi pembunuh, orang berhati keras atau bajingan, mulai terdengar kala itu. Awan tiba-tiba teramat mendung seperti mendungnya hati Marsiyah yang kemudian menumpahkan hujan air mata tak reda-reda. (*)

Annuqayah, 07 Agustus 2023

Catatan:

Katak seldung = salah satu jenis katak yang biasa berbunyi pada malam hari

Cakkong = Sabit yang hanya bengkok bagian ujung

Toron tana = Upacara selamatan ketika bayi sudah bisa duduk sendiri

Palotan = ketan

*)Lahir di Cemanis, Andulang, Gapura, Sumenep. Sekarang menjadi santri Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa. Awal belajar menulis cerpen di KOMPAS (Komunitas Menulis PASRA) hingga sekarang menjadi koordinator kubu cerpen di komunitas tersebut. Baru memasuki kelas IX Madrasah Tsanawiyah 1 Annuqayah. Aktif berdiskusi di serambi Masjid Jamik Annuqayah.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#salah #Tafsir #anak #kampung #toron #adi #Marsiyah #cakkong