Oleh: Akhmadi Yasid
KITA mengenal ini dalam politik: Tes ombak. Sebuah cara mengukur posisi diri. Aktualisasi diri hingga elektabilitas. Terlepas dari apakah secara elektoral penting atau tidak. Tapi ini jelas sebagai sebuah cara.
Sejatinya, pada wilayah lingual, tes ombak mungkin menjelma pada upaya peselancar mengecek arus laut. Secara harfiah tak jauh dari penggunaan papan selancar itu. Atau nelayan yang tetap melaut, meski arus deras. Keras dan mungkin tak terbatas. Entah.
Ahli bahasa secara denotatif mengartikan lain. Tes ombak seperti mencoba sesuatu yang baru ke khalayak umum.
Sering berupa pengajuan opini, wacana, mungkin rancangan berpikir. Boleh juga berupa pemasaran produk baru untuk mengecek respon khalayak.
Intinya pasti ini: melempar hal baru ke area publik. Tujuannya: mendapatkan feedback.
Pada beberapa figur politik, tes ombak dengan banyak cara. Bukan saja dengan strategi komunikasi massa. Bukan pula dengan misalnya aksi tertentu saja.
Jamak kita melihat cara ketika seseorang menempel poster. Entah di pinggiran jalan lewat baliho atau banner. Entah juga dengan menempelnya di kaca belakang angkutan umum. Model begitu, yang konvensional tentunya.
Sedikit lebih maju pada kerangka peradaban moderen, kita melihat media sosial. Cuap-cuap untuk sekedar menjelaskan perihal sedang apa dan dimana. Seperti mengejar waktu yang berjalan.
Pun juga ketika melempar sebuah quote. Seolah dirinya pemilik sabda pandita ratu. Tapi lupa pada frase tan kena wola wali. Model beginian banyak di media sosial. Anda boleh cari sendiri.
Maka, ketika melihat, menyaksikan sambil tentu sedikit tertawa geli, sungguh lucu polah tingkah figur politik di depan mata. Tes ombaknya terlalu ke pinggir. Yang tentu saja arusnya dangkal. Yang tentu juga tak bisa berselancar.
Kalau hanya modal masang poster baliho dan banner, tak perlu jumawa politik. Apalagi elektoralnya memang lemah.
Kalau hanya mau modal nunut politik juga sama. Tak perlu jumawa juga. Apalagi sudah kehilangan elan politik. Sudah melampaui usia pensiun politik. Sudahlah. Come on.
Kalau hanya modal cengar cengir, juga sama. Jangan buat orang menertawakan Anda. Istilah salah seorang tokoh NU lokal disini. Tahu dirilah. Anda pasti tahu artinya. Anda pasti tahu maksudnya, bukan?
Kita tidak sedang di fase itu kisanak. Fasenya kalau istilah Orde Baru ini nih: tinggal landas. Sudah ke arah maju. Politik plus dramaturgi Erving Goffman sudah lewat.
Kita butuh figur serius. Kita butuh figur alternatif. Kita butuh figur yang sudah paripurna. Figur yang, antara lain tidak mencari peruntungan politik. Kalau mau cari untung, buka warung Bro. Ke Jakarta Nyi. Maaf.
Kita perlu mereka yang tes ombaknya biasa saja. Tapi urusan kerja nyatanya benar-benar melewati ombak. Ombak ganas dan tak jarang mematikan. Bukan peselancar politik. Apalagi peselancar pada arus dangkal.
Ssssttt, kita sedang bicara apa sih? Politik pilkada, masih November. Jauuuu, Jauuuuu. Tapi kan tidak mungkin e tunda kana'? Senga' je' tunda. Alfatihah. (*)
Editor : Hendriyanto