Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Digital Fasting: Etika Media Sosial di Bulan Suci

Hera Marylia Damayanti • 2026-03-18 16:02:09
Ach. Zaini Dahlan
Ach. Zaini Dahlan
Oleh Ach. Zaini Dahlan

TIDAK terasa bulan Puasa Ramadan sudah memasuki episode terakhir, sisa beberapa hari lagi bulan suci Ramadan ini akan pergi. Puasa tahun ini mungkin adalah salah satu puasa terberat untuk dijalani, bukan karena cuaca panas, melainkan karena godaan notifikasi dari akun media sosial yang tak kunjung berhenti. Godaan ini makin lengkap karena kita dengan sadar masih menjadi WNI.. Bhaaaa.

Data menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di Bulan Ramadan justru mengalami kenaikan yang signifikan daripada bulan-bulan biasa. Hal ini justru menjadi paradoks yang ironis, di saat mulut berhenti mengunyah, tapi tangan dan pikiran tak berhenti menghujat di kolom komentar terkait banyak hal, mulai hal yang remeh-temeh, sampai hal yang serius.

Seolah-olah tidak bisa mengontrol jari untuk tidak memberikan komentar bahkan hujatan. Di samping itu, flexing amal dan pamer kemewahan menu berbuka dan sahur sudah bukan hal yang tabu, melainkan hal yang normal dan wajar dipamerkan di jejaring sosial tanpa memedulikan efeknya untuk orang lain.

Baca Juga: Puasa dan Tantangan Self-Control Generasi Digital

Lantas, jika esensi puasa adalah pengendalian diri, maka membiarkan jemari “liar” dan flexing amal di media sosial adalah salah satu bentuk keboncosan amal dan spiritual yang nyata. Sudah saatnya bertanya, apakah kita sedang berpuasa atau hanya sekadar memindahkan jam operasional dosa ke ranah digital atau media sosial.

Menurut We Are Social, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sekitar 3 jam 11 menit per hari menggunakan media sosial. Maka dari itu, perlu diredam dan direm penggunaan media sosial, salah satunya adalah, dengan menerapkan digital fasting.

Digital fasting bukan berarti harus mematikan internet atau tidak menggunakan media sosial sama sekali, melainkan mengendalikan etika digital agar tidak mencederai esensi dari spiritual puasa. Digital fasting mengajarkan kita untuk mengerem jari memberikan komentar yang kurang layak, menghindari diri dari menghujat dan membuat konten yang akan mengurangi pahala selama bulan Ramadan ini.

Baca Juga: Puasa dan Krisis Inovasi Kepemimpinan

Fenomena ini bukan sekadar kegelisahan moralitas belaka, melainkan terpampang nyata dalam angka-angka digital. Jika menilik data dari We Are Social di atas, maka perlu dikoreksi lagi durasi berselancar di media sosial yang melonjak secara signifikan selama bulan Ramadan, terutama pada jam-jam krusial seperti saat sahur dan menjelang berbuka. Lonjakan traffic ini sayangnya tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas spiritual.

Alih-alih menjadi ruang tadarus digital, lini masa kita justru sering kali dibanjiri oleh kontradiksi: dari pamer menu buka puasa yang kontras dengan semangat kesederhanaan, hingga hoaks dan ujaran kebencian yang tetap subur di sela-sela waktu menunggu beduk. Realitas ini menunjukkan adanya 'kebocoran' kontrol diri yang membuat puasa terjebak dalam ritual fisik, sementara etika digital masih tertinggal jauh di belakang. Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan digital fasting dalam kehidupan selama bulan Ramadan ini?

Kurasi Konten

Saat berselancar di dunia maya, tentu banyak sekali konten-konten yang bertebaran, baik konten yang bersifat edukatif maupun yang bersifat hiburan hingga yang abnormal. Salah satu cara meredam jari terjerumus pada hal-hal yang mengurangi pahala kita, kita harus rajin dan disiplin menyaring konten yang sekiranya bermanfaat, hindari konten yang pro-kontra, provokatif dan konten-konten yang membuat jari gatal untuk tidak berkomentar.

Dengan kita menjauhi konten-konten sensitif dan negatif, setidaknya kita telah keluar dari hal-hal yang akan memboncoskan pahala. Cara berikutnya adalah mengatur algoritma pencarian media sosial, saat menyukai sesuatu, memberi komentar pada sebuah konten, secara tidak sadar algoritma media sosial akan mengarahkan padahal yang sering dilihat, disukai, dan dikomentari. Oleh karena itu, bijaklah dalam mengelola yang ditonton, disukai, dan dikomentari.

Baca Juga: Puasa dan Self-Regulation dalam Membentuk Cara Berpikir Ilmiah

Aturlah algoritma medsos ke konten-konten yang positif yang bisa menambah pahala spiritual puasa. Luangkan waktu menyusun algoritma medsos ke hal-hal yang “bergizi” untuk kualitas spiritual. Ibaratkanlah pikiran ini sebagai sebuah meja makan, saat berbuka kita dituntut selektif dalam memilih makanan dan minuman apa yang harus kita konsumsi.

Batasi Durasi

Puasa merupakan latihan menahan diri dari kebutuhan primer manusia, yakni makan dan minum. Maka, membatasi bermain medsos merupakan latihan menahan diri dari ketergantungan pada dopamin digital. Di bulan Ramadan seperti saat ini, setiap detik adalah hal yang sangat berharga, kehilangan waktu terbaik untuk refleksi dan mawas diri di bulan penuh berkah ini hal yang merugi.

Jangan habiskan waktu di bulan baik dengan scrolling yang tak berarah dan tidak bermanfaat. Sebuah studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit sehari dapat secara signifikan mengurangi depresi dan kesepian. Di bulan Ramadan, efek ini bisa berlipat ganda karena digabungkan dengan ketenangan spiritual. Membatasi durasi bukan berarti kita harus antisosial secara digital.

Sebaliknya, perilaku ini akan menimbulkan efek positif salah satunya kegiatan bermedia sosial menjadi lebih bermakna serta secara tidak langsung menyelamatkan kejiwaan kita karena berinteraksi di media sosial lebih merusak kesehatan mental dibandingkan berkomunikasi aktif di dunia nyata. Dengan mengatur durasi yang terbatas, mendorong kita untuk melakukan interaksi yang sehat dan bermanfaat.

Baca Juga: Dari Kata ke Makna: Memahami Ayat-Ayat Puasa melalui Linguistik Arab

Think Before Posting

Seperti yang kita ketahui, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia dan kotor. Di era yang serbadigital ini, “Lisan” telah berpindah ke ujung jari. Setiap postingan, baik status WA, Instagram maupun X yang kita share adalah representasi dari kualitas puasa kita.

Dalam menjaga kualitas puasa, mengadopsi T.H.I.N.K bukanlah suatu pilihan, akan tetapi suatu “kewajiban”. Menurut studi literasi digital, konfrontasi di media sosial cenderung meningkat saat seseorang dalam kondisi lelah atau lapar. Sebab, kontrol emosi di otak bagian prefrontal cortex menurun. Dengan menerapkan jeda "pikir sebelum mengunggah", kita secara sadar memberi waktu bagi otak untuk beralih dari respons emosional ke respons rasional-spiritual.

Memverifikasi berita adalah bagian penting sebelum kita membagikan melalui akun media sosial, karena jika membagikan konten yang kontroversi atau belum terverifikasi (hoaks) bukan hanya merusak tatanan sosial, melainkan dapat merusak tatanan spiritual, yakni kita menggugurkan esensi dari kejujuran dalam berpuasa. Kita harus sering-sering mengkroscek dengan bertanya pada diri kita sebelum mem-posting sesuatu, Apakah ini benar? Dan apakah ini bermanfaat bagi kita dan orang lain?

Kurangi validasi sosial atau pencitraan diri kita yang “religius”. Kurang-kurangilah mem-posting ibadah kita karena batas antara flexing amal atau riya' dengan menginspirasi orang lain itu sangat tipis.

Baca Juga: Daftar Mobil Baru yang Diprediksi Meluncur di Indonesia Kuartal II 2026, Dari Xpander Hybrid hingga SUV Listrik Tiga Baris

Sebelum mengunggah foto atau kegiatan ke media sosial kita perlu mengaudit niat yang ketat, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi karena termasuk bagian dari orang-orang yang “hanya” flexing amal dan riya' dalam ibadah dengan meng-upload kegiatan religius kita, misal foto sedang bersedekah, tadarus, kegiatan salat Tarawih dan lain sebagainya.

Jika kita memamerkan foto tersebut karena haus validasi dan citra diri, maka sesungguhnya kita sedang terjebak dalam ego kita untuk diakui oleh orang banyak bahwa kita sedang “berjiwa religius”.

Mari di bulan Ramadan ini kita harus merdeka atas ego dan jari kita. Kita harus berdaulat atas diri kita sendiri, jangan mudah terpancing untuk memberikan komentar, mem-posting hal-hal yang bersifat riya’, agar puasa yang dijalani lebih bermakna dan berpahala.

Dengan melakukan digital fasting, melalui kurasi konten yang sehat dan bermanfaat, membatasi durasi penggunaan media sosial secara disiplin serta menjaga etika dalam mengunggah konten di media sosial, secara tidak langsung kita telah mengembalikan fungsi dari medsos sebagai sarana silaturahmi, bukan sebagai sarana kebocoran dan keboncosan pahala.

Di bulan Ramadan ini, kita tidak hanya dituntut menaklukkan diri dari menahan lapar, haus dan nafsu, akan tetapi kita juga harus mampu menaklukkan ego digital selama sebulan penuh demi menjemput kemenangan yang diidam-idamkan. Jadikan bulan suci ini bukan hanya sebagai sarana mendetoksifikasi tubuh, melainkan juga jiwa dan lini masa kita. (*)

*)Tenaga pengajar di MA Mambaul Ulum 2 Ponjanan Timur. Aktif sebagai pengurus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Ponjanan Timur. Alumnus S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember, Penulis Puisi, Cerpen, Opini dan Cerita Anak Dwi Bahasa. 

Editor : Hera Marylia Damayanti
#we are social #digital fasting #etika digital #menaklukkan ego #keboncosan pahala #flexing amal #puasa #ramadan #media sosial #dunia maya #medsos