Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puasa dan Tantangan Self-Control Generasi Digital

H
Aizun Riski Safitri, M.Psi., Dosen IAI Al-Khairat Pamekasan tepatnya di Fakultas Tarbiyah Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam
Aizun Riski Safitri, M.Psi., Dosen IAI Al-Khairat Pamekasan tepatnya di Fakultas Tarbiyah Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam

Advertisement

Advertisement

Oleh Aizun Riski Safitri, M.Psi.

 

SETIAP memasuki bulan Ramadan, suasana religius terasa semakin kuat di berbagai ruang kehidupan masyarakat. Masjid-masjid dipenuhi jemaah, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar lebih sering, dan semangat berbagi kepada sesama meningkat secara signifikan. Ramadan menghadirkan atmosfer spiritual yang khas dan mampu menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat.

Advertisement

Namun di tengah suasana tersebut, kita juga sering menyaksikan sebuah ironi sosial. Intensitas ibadah meningkat, tetapi perilaku pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu mengalami perubahan yang signifikan. Kemarahan di jalan raya, perdebatan emosional di media sosial, hingga perilaku konsumtif menjelang waktu berbuka masih menjadi pemandangan yang cukup umum.

Fenomena ini menimbulkan refleksi penting: apakah puasa benar-benar dimaknai sebagai proses pembentukan diri, atau sekadar dijalankan sebagai ritual tahunan?

Dalam perspektif psikologi, puasa sebenarnya merupakan salah satu bentuk latihan pengendalian diri yang sangat kuat. Manusia pada dasarnya memiliki berbagai dorongan biologis dan emosional yang ingin segera dipenuhi. Rasa lapar, haus, keinginan untuk marah, atau dorongan untuk bereaksi secara impulsif merupakan bagian dari mekanisme psikologis alami.

Namun, manusia juga dianugerahi kemampuan untuk mengendalikan dorongan-dorongan tersebut. Dalam psikologi, kemampuan ini dikenal sebagai self-control atau pengendalian diri, yaitu kapasitas individu untuk menunda kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih besar dan lebih bermakna.

Puasa melatih kemampuan tersebut secara langsung. Selama berjam-jam seseorang menahan kebutuhan biologis yang paling mendasar, yaitu makan dan minum. Lebih dari itu, puasa juga menuntut pengendalian emosi dan perilaku. Umat Islam diajarkan untuk menahan amarah, menjaga ucapan, serta menghindari konflik selama menjalankan ibadah puasa.

Latihan semacam ini memiliki dampak penting bagi perkembangan kepribadian. Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa individu yang memiliki pengendalian diri yang baik cenderung lebih mampu mengelola stres, membuat keputusan secara rasional, serta membangun hubungan sosial yang lebih sehat.

Dalam konteks ini, Ramadan dapat dipahami sebagai ruang pembelajaran psikologis yang intensif. Selama satu bulan penuh, manusia diajak untuk berlatih menunda keinginan, mengendalikan emosi, serta merefleksikan perilakunya sendiri.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Bapenda Sumenep  Permudah Pembayaran Pajak melalui Kanal Digital

Bapenda Sumenep  Permudah Pembayaran Pajak melalui Kanal Digital

Kepala Bapenda Sumenep Ferdiansyah Tetrajyaa mengatakan, masyarakat kini memiliki banyak pilihan kanal pembayaran tanpa harus datang langsung ke kantor pelayanan.

Berhijrah Menjadi Lebih Baik

Berhijrah Menjadi Lebih Baik

Tahun Baru Hijriah mengingatkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa banyak kegagalan yang pernah dialami, melainkan oleh keberanian untuk bangkit dan melangkah lagi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer