Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Memberdayakan Seni

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 20 Mei 2025 | 03:23 WIB
GAYENG: Syamsul Arifin (moderator), Yuswinardi (Hysteria), dan Umar Fauzi Ballah (KSS) dalam diskusi ”Seni dan Masyarakat” yang diadakan Komunitas Sastra Stingghil dengan Kolektif Hysteria, Semarang.
GAYENG: Syamsul Arifin (moderator), Yuswinardi (Hysteria), dan Umar Fauzi Ballah (KSS) dalam diskusi ”Seni dan Masyarakat” yang diadakan Komunitas Sastra Stingghil dengan Kolektif Hysteria, Semarang.

 

Oleh UMAR FAUZI BALLAH

 

SIANG itu selepas terik matahari pada titi mangsa 27 April 2025 di Rehat Coffee, Sampang, belum tampak kehadiran penikmat ilmu meskipun para pembicara sudah tiba. Film dokumenter dengan judul ”Legiun Tulang Lunak, 20 Centimeters Per Year” harus sudah diputar. Namun, diulang lagi dari awal film itu setelah 30 menit berlangsung untuk memberikan ruang kepada beberapa penikmat sudah berdatangan. Lebih dari sepuluh orang hadir. Begitulah, pada pukul 14.30-an, diskusi dengan tajuk ”Seni dan Masyarakat” yang diadakan Komunitas Sastra Stingghil dengan Kolektif Hysteria, Semarang, dibuka. Hadir sebagai pembicara Yuswinardi, founder Hysteria; Syamsul Arifin, aktor muda dari Sampang; dan saya sendiri.

Nuansa seni, sastra, dan kebudayaan di Indonesia saat ini, wabil khusus di Madura, konon di Jawa Timur juga, sepertinya tidak jauh dari pengalaman siang itu. Ada jarak waktu dan bentang ruang yang senyap. Seni adiluhung, kalau boleh saya sebut seperti itu, tidak akan pernah semeriah gelaran seni sebagai hiburan. Penikmatnya bisa dikatakan dia-dia saja. Ini keluhan klise! Kehadiran Hysteria berbagi pengalaman puluhan tahun mengelola komunitas, mereka menyebutnya Kolektif, menebalkan keluhan itu sepanjang diskusi, tetapi ada banyak hal yang cukup menyegarkan sehingga saya perlu menuangkannya di sini.

Yuswinardi membuka paparan pengalamannya bahwa kolektif Hysteria semula adalah komunitas yang bergerak di bidang sastra, seperti menciptakan zine. Ternyata, ruang itu stagnan. Dia lalu mengutip pernyataan Adin, salah satu motor penggerak Hysteria yang paling dikenal banyak orang, ”Kalau di sastra terus, kita tidak akan berkembang.” Pada akhirnya, Hysteria bergeser pada berbagai metrum kesenian yang lebih luas. Hal itu tampak pada film dokumenter, berdurasi 55 menit, yang merekam perjalanan mereka serta sebuah buku berjudul Tulang Lunak Bandeng Juwana, Pembacaan 20 Tahun Kolektif Hysteria Mempengaruhi dan Membentuk Ekosistem Kebudayaan di Semarang dan Sekitarnya.

Pada intinya, Yuswinardi berkisah bahwa seni seharusnya bisa selunak duri dan tulang bandeng. Seni seharusnya tidak kaku, baik di hadapan pemerintah maupun masyarakatnya. Maka, Hysteria sebagai sebuah kolektif menyusun ”strategi kebudayaannya” dengan terlibat langsung dalam persoalan masyarakat, misalnya, isu banjir rob yang menjadi bahaya laten di Semarang dan sebagainya. Seni menjadi ”alat pergerakan” dan seni tidak melulu seperti dalam bayangan banyak orang. Salah satu kegiatan yang menarik adalah mengadakan lomba memasak. Ini tentu tidak terlintas sebagai bagian dari apa yang disebut seni. Destinasi yang telah berhasil dihidupkan masyarakatnya oleh kolektif Hysteria, misalnya, Kampung Bustaman yang terancam masyarakatnya dalam ketakutan penggusuran dan Kampung Petemesan.

Mari kita bayangkan sebuah kondisi di masyarakat Madura. Kita mungkin akrab dengan gelaran seni yang bukan menjadi panggung utama, tetapi sekadar pelengkap hajatan utama, misalnya haflatul imtihan. Apa fungsi gelaran kesenian di situ, misalnya drum band, pementasan teater parodi dan lainnya? Hiburan. Hysteria menggunakan pendekatan itu dalam menghidupkan masyarakat. Mereka tidak mengambil jarak dengan batasan seni. Namun, dengan pendekatan itulah, Hysteria turut memberdayakan masyarakat. Menjaga tradisi masyarakatnya, mengangkat kebudayaan lokalnya, dan memberikan edukasi. Pada akhirnya, secara khusus, sebagai platform kebudayaan, Hysteria mengharuskan produk tulisan dilahirkan oleh para anggotanya, termasuk relawan magang, sebagai arsip dan dokumentasi atas semua kegiatan yang telah dilakukan.

Salah seorang penikmat diskusi siang itu, Ical panggilannya, yang wajahnya baru kali pertama saya lihat dalam diskusi Ming-Rooming, Komunitas Sasta Stingghil, meresepsi kegiatan Hysteri seperti strategi wali sanga dalam menyebarkan Islam. Lain lagi dengan Aufa, penikmat seni yang juga seorang pengusaha muda, memberikan paparan ke arah kebijakan negara terkait masalah pendanaan bahwa seniman seharusnya tidak kaku, misalnya, melihat projek pemerintah. Banyak kementerian yang tidak linier dengan seni, tetapi mengambil metrum seni dalam rangka menyosialisasikan programnya.

Duitnya dari Mana?

Saya harus memberikan catatan khusus pada bagian keberhasilan Hysteria membangun jejaring kebudayaan pada soal pendanaan komunitas seni. Yuswinardi mengatakan bahwa Hysteria terbuka pada semua founding ataupun program pemerintah dalam rangka melancarkan gagasan kebudayaannya. Pendanaan bukan poin utama keberhasilan Hysteria walaupun beberapa peserta diskusi, sore itu, mengarah pada kecemasan tersebut. Ada kerja kemanusiaan dan passion gotongroyong karena telah menjadi bagian dari masyarakat. Harus pandai meletakkan ego dan terbuka terkait kondisi komunitas. Misalnya, jika sedang ada founding, mereka dengan jujur akan memberikan bagian itu. Namun, ketika hal itu tidak ada, Hysteria dengan terbuka mempersilakan relawan, misalnya, untuk masih bersama Hysteria atau tidak.

Arie Ahonk, salah satu pegiat tradisi lisan di Sampang, berkisah bahwa jangan-jangan leluhur kita dulu sudah melakukan pendekatan sebagaimana dilakukan kolektif Hysteria. Namun, hal itu terbentur pada beberapa kondisi. Ada tiga kebutuhan terkait lapar, menurut Ariek, yakni otak, perut, dan hati. ”Kendala kami (di Sampang) terlalu fokus pada lapar level perut. Yang ditawarkan Hysteria jangan-jangan sudah pada fase kebutuhan menghilangkan lapar otak dan hati sehingga lapar yang lain tertutupi dengan terlihatnya pada semangat kerja kebudayaan yang sudah dilakukan,” begitulah kira-kira Ariek menjelaskan.

Kerja kebudayaan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, sebetulnya bukan hal baru di Madura. Secara khusus, praktik kebudayaan di Sumenep telah sampai pada level itu; sebut saja salah satu yang saya tahu, dilakukan oleh Fikril Akbar melalui corong komunitas Lembana. Bagaimana dengan Sampang?

Sampang memiliki PR panjang pada geliat kebudayaan dan seni yang orientasinya pada pemberdayaan masyarakat. Seni paling jauh dimaknai sebagai hiburan seperti daul combo. Faktor SDM adalah salah satu hal pelik. Dalam pengalaman saya membangun KSS, dari tidur panjangnya, mulai 2016 buah yang diharapkan belum tumbuh. Ada refleksi yang saya dapatkan dari diskusi itu bahwa selain persoalan kesibukan pribadi, menurunkan ego sekaligus merawatnya dengan baik adalah hal yang secara individu harus diretas sehingga khidmat kebudayaan yang sudah diniati tercapai. (*)

*)Direktur Komunitas Sastra Stingghil, Kepala Cabang Ganesha Operation Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Kolektif Hysteria #diskusi #sastra #kebudayaan #seni #film dokumenter #hiburan #Komunitas Sastra Stingghil