Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tokang Ngadune Kopi Penyelamat Negara

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 15 Desember 2024 | 12:30 WIB
SYARIF HIDAYAT SANTOSO
SYARIF HIDAYAT SANTOSO

Oleh SYARIF HIDAYAT SANTOSO

 

BEBERAPA waktu ini viral olokan seorang agamawan terhadap penjual es teh. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kita harus menghormati rakyat kecil apa pun profesinya. Selama pekerjaannya halal, rakyat kecil wajib diapresiasi. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya rakyat kecil (oreng dume’) tetaplah memiliki posisi strategisnya masing-masing. Pengajaran dalam kitab suci juga mengajarkan bahwa kadangkala ada peran penting dari seorang rakyat kecil dalam keselamatan negara.

Al-Qur’an dan Alkitab mengisahkan kepada kita tentang peran seorang biasa, bukan pejabat bukan pula agamawan dalam perannya menyelamatkan negara. Kisah itu ada pada surah Yusuf. Al-Qur’an menyebutkan bahwa di dalam penjara, Nabi Yusuf berjumpa fatayani (dua orang pemuda) yang menjadi pelayan raja. Qur’an terjemah Madura menyebut dengan ngangodadhan. Tafsir Al-Munir Wahbah Zuhaili menyebut bahwa kedua orang pelayan raja tersebut berbeda profesi. Satu tukang pembuat minuman, satunya lagi tukang pembuat makanan. Hal ini sama dengan apa yang tercantum dalam Injil berbahasa Madura bab Kejadian yang menyebut keduanya sebagai Pangladinna rato, settong tokang gabayya nom-enomanna rato, settongnga tokang rotina. Dalam sebuah episode terkisahkan bahwa baik tokang gabayya nom-enomanna rato maupun tukang pembuat roti tersebut bermimpi dan mimpinya ditafsirkan dengan benar oleh Nabi Yusuf. Yusuf menebak dengan tepat bahwa tukang roti akan disalib dan tukang pembuat minuman anggur akan selamat keluar dari penjara serta mengabdi kembali kepada raja.

Baik Al-Qur’an maupun Injil kemudian mengisahkan pesan Yusuf kepada tukang pembuat minuman raja yang bakal selamat dan akan keluar dari penjara agar mengisahkan keberadaan Yusuf kepada raja Mesir. Qur’an terjemah bahasa Madura surah Yusuf ayat 42 menyebutkan kalimat ”Kabala tang kabadha’an dha’ Towanna ba’na”, sementara Alkitab Perjanjian Lama bab Kejadian ayat 14 menyebut dengan redaksi yang agak panjang, ”tape mon kabadhaanna sampeyan pon nyaman pole, kaula kaenga’i gi, kaula careta’agi ka rato, nyoona tolong ma’ olle kaula epakalowar dhari penjara paneka.”

Lanjut kisahnya, raja Mesir, Al Aziz suatu waktu bermimpi tentang tujuh ekor sapi betina gemuk yang dimakan tujuh sapi betina yang kurus dan juga tujuh bulir gandum yang bagus dengan tujuh bulir gandum yang kering. Qur’an terjemah Madura menafsirkannya dengan konteks Madura dengan menyebut bulir gandum itu dengan ranca’ padhi se biru dan ranca’ laen se kerreng. Al Aziz kemudian mengadakan rapat dengan para petinggi kerajaan, pejabat-pejabat tingkat tinggi pembantu raja. Rapat itu ternyata tak menghasilkan apa-apa. Para menteri pembantu raja itu hanya menjawab tidak tahu, bahkan ada yang menjawab itu hanyalah mimpi kosong belaka. Qur’an surah Yusuf ayat 44 bahkan menyebut dengan tegas jawaban para pejabat itu, ”Para pangraja jareya mator, paneka mempe se apor-campor, sareng kaula korang pareksa ajarna’agi mempe se akadi ka’dhinto’.

Namun, ternyata datang solusi yang tak disangka, tiba-tiba saja pelayan raja pembuat minuman anggur itu teringat kepada Yusuf dan kepakarannya dalam menafsirkan mimpi. Pembuat minuman anggur itu kemudian mator kepada raja tentang Yusuf dan raja kemudian mengutus pembuat minuman itu untuk meminta jawaban dari Yusuf. Sebagaimana yang kita ketahui dari kisah tentang Yusuf dan mimpi raja ini, Yusuf kemudian mengajukan solusi bagi negara Mesir atas mimpi raja itu. Finalnya, negara Mesir selamat dari musibah paceklik dan kelaparan panjang berkat saran Nabi Yusuf yang kemudian diangkat menjadi Menteri Pertanian atau Kabulog Mesir itu.

Banyak pelajaran yang bisa kita tarik dari kisah Yusuf, raja, dan tukang minuman itu dalam kaitannya dengan keselamatan negara. Di sini terlihat peran penting tiga penyelamat negara, yaitu Yusuf sebagai Nabi, raja Mesir sebagai pejabat pemerintahan, dan tukang minuman raja sebagai pegawai bawahan atau dengan kata lain sebagai rakyat kecil. Tanpa Yusuf, negara Mesir takkan menemukan solusi futuristik dalam menghadapi ancaman paceklik. Namun, tanpa raja Mesir, pengetahuan solutif Yusuf itu tetap tak berguna dan takkan bisa menyelamatkan negara jika tidak dijadikan kebijakan negara. Tapi ada satu lagi, tanpa tukang pembuat minuman, sang raja Mesir takkan tahu bahwa di bilik penjara ada solusi dari seorang terpidana yang masuk penjara karena fitnah. Raja Mesir takkan tahu bahwa Yusuf yang dipenjara berkat bisikan jahat istrinya sendiri, Zulaikha, justru memiliki ilmu yang sangat dibutuhkan negara.

Pelajaran ini mengajarkan kepada kita bahwa kadang kala solusi tak bisa diberikan oleh para pejabat tinggi sekeliling presiden, gubernur, bupati atau kepala dinas. Kadangkala solusi itu muncul melalui perantara orang kecil yang tak dianggap apa-apa. Kita tahu, bahwa di perkantoran kadang terdapat tukang pembuat minuman kopi (tokang ngadune kopi) atau pedagang minuman di kantin. Kita kadang tidak menganggap mereka karena mereka dianggap orang awam. Padahal, bisa jadi sebagaimana kisah Yusuf, tukang minuman itu setidaknya memiliki informasi penting tentang sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pemerintahan maupun negara. Orang-orang kecil itu meskipun awam bisa jadi penyambung aparat pemerintah dengan ulama, cendekiawan, dan orang-orang jenius di negeri ini.

Babad Songennep mengajarkan kepada kita pula pentingnya menghargai bawahan. Dalam kisah Pangeran Ellor dan Pangeran Wetan ketika berkunjung ke Demak tersajikan nasihat permaisuri Demak kepada mereka berdua. ”Pole ja’ agabay tengka se daddi ta’ sennengnga ponggaba, ba’na ja’ ngambuwagi kacakebban ban kabangalanna sabab oreng daddi pangraja mon coma ekatako’e bai jareya padha ban olar ekatako’e oreng. Mon nemmo tasempe laju ececce’, molana oreng daddi pangraja reya sale-olle se ekaleburanna ban ekanesererrana sarta ekatako’ana ponggaba sopaja salamet. ”Terjemahannya adalah ”jangan membuat tingkah polah yang akan menyebabkan bawahan tidak senang, kalian jangan mengandalkan kecakapan dan keberanian saja. Sebab, seorang pejabat kalau cuma ditakuti itu tak lebih dari seekor ular, saat kalau ular itu ketahuan sedang lemah maka akan dibunuh, karenanya kuanjurkan pada kalian agar melakukan sesuatu yang menyebabkan bawahan kalian tak cuma takut pada kalian tapi juga senang dan welas asih pada kalian.

Dalam konsep Good Governance, keterbukaan komunikasi antara atasan dengan bawahan ini kita sebut sebagai downward communication sementara komunikasi bawahan ke atasan disebut upward communication. Keduanya harus sejalan seimbang. Kisah tukang minuman raja yang menjadi penyambung lidah Yusuf dan raja menjadi inspirasi bagi kita bahwa kadangkala solusi itu datang dari orang kecil yang tidak kita anggap. Oh ya, kisah di atas juga mengandung nilai inspirasi bahwa orang kecillah penyambung ulama (sebagai pewaris nabi) dengan para pejabat pemerintahan seperti Aziz, raja Mesir itu. Di masa kini, Nabi Yusuf direpresentasikan para ulama dan cendekiawan, sementara raja Mesir direpresentasikan para pejabat pemerintahan. (*)

*)Pemerhati sejarah

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Penjual Es Teh #rakyat kecil #surah Yusuf #cendekiawan #Alkitab #Injil #Nabi Yusuf As #tokang ngadune kopi #ulama #Al-Qur'an #raja mesir #agamawan