Oleh: Akhmadi Yasid
HARI-HARI ini kita sibuk membaca banyak berita. Yang paling seksi tentu saja ini: pemilihan kepala daerah. Yang waktunya sudah hitungan bulan. Yang tentu kita tahu waktunya singkat. Cepat.
Sementara lupakan soal Vina Cirebon dulu. Lupakan Sandra Dewi dalam pusaran korupsi timah itu. Biarlah polisi dan jaksa mengurai masalahnya. Kita cukup percaya saja dulu.
Kembali ke urusan pemilihan kepala daerah. Sengaja saya pasang bukan akronim. Tapi kalimat lengkap.
Sudah sering kita menerima perbendaharaan kata soal aktivitas politik lima tahunan itu.
Baca Juga: Figur Muda (Yang) Hanya Omong Kosong
Dulu kita mengenal pemilihan gubernur dengan istilah pilgub. Begitu juga dengan pilbub untuk pemilihan bupati.
Belakangan muncul istilah pemilukada. Akronim dari dari pemilihan umum kepala daerah. Dalam lima tahun terakhir berubah lagi: pilkada. Esensinya sih sama. Soal pemilihan kepala daerah.
Maaf, saya tak memakai istilah itu. Pakai ini saja: pilkadal. Iya, pilkadal, Anda tidak salah. Akronim dari pemilihan kepala daerah langsung.
Disini, begitu banyak muncul figur. Figur baru atau alternatif. Figur lama atau yang diperbaharui. Buaanyak sekali. Silahkan Anda kenali satu persatu.
Dalam perjalanan menuju Surabaya pekan lalu, mereka juga sudah unjuk gigi. Ada yang giginya taring, gigi palsu, gigi ompong juga ada. Tapi tak ada yang giginya gingsul. Persamaannya, semua tampak seperti model pasta gigi: smile up. Hehe.
Baca Juga: Ketidakadilan dalam Bayang-Bayang Nepotisme
Perlu studi serius tentang gigi para figur itu. Misalnya, apakah ada relevansinya figur dengan gigi palsunya, dengan kebijakan-kebijakan palsunya saat menjabat kelak. Atau figur dengan gigi taring, apakah bisa menjadi petarung kelak ketika menjabat. Biar tak melulu soal hal-hal berat.
Sekarang mari bahas yang sedikit serius. Soal ini: kaum sarungan yang mencari peruntungan di pilkadal.
Di empat kabupaten di Madura, semuanya hadir baik sebagai figur baru, figur alternatif atau mereka yang memperbaharui dirinya.
Dari Sumenep, kemunculan Unais Ali Hisyam sedikit nyenggol. Petahana yang seperti tak ada banding, tak ada tanding, pasti sedikit galau. Urusan cost politics mungkin aman. Jakarta tetap mengendalikan penuh.
Tapi soal pertarungan, tunggu dulu bos. Pilkadal 2020 lalu, Fatah Yasin hanya kalah 19.000-an. Bayangkan kalau Unais sampai bisa menggandeng figur dengan model yang maksimal modal.
Kelebihan petahana, selain urusan finansial juga bebas menentukan figur. Saking dominannya, semua figur melamar menjadi calon wakilnya. Kalau mau semakin aman, tentu harus menggandeng PKB. Bukan saja aman, tapi pasti amin.
Karena dengan begitu, cost politics bisa ditekan. Kekuatan PDIP dan PKB memang dominan. Kalau ditotal sudah 21 kursi di DPRD. Begitu kuat. Begitu dominan. Tentu saja, semua dalam bayangan romantisme koalisi semangka era Busyro-Sungkono atau Busyro-Fauzi.
Baca Juga: Koalisi dan Oposisi, Mana Lebih Baik?
Bagaimana dengan PKB? Dari awal seperti samikna wa atokna. Kalau ada yang berani tarung, siap perang habis-habisan. Kalau pun tidak, bergandengan dengan merah pun tak apa. Bunda Fitri sepertinya sudah senyum-senyum di ujung sana.
Kita yang semuanya mendadak menjadi pakar politik, biarlah mengeja-eja realitas politik ini sebagai sebuah kegalauan puncak. Ini politik Bung!
Begitu pun di Pamekasan, Sampang maupun Bangkalan. Kemunculan politisi muda PPP yang tangguh itu: Ahmad Baidowi, seperti melahirkan harap-harap cemas. Tentu sebuah ancaman serius bagi Kholilurrahman dan Fatah Yasin.
Apalagi belakangan mulai mesra dengan pemilik singgasana kerajaan linting otomatis. Bisa dibayangkan, jika kelindan kekuasaan ekonomi politik itu bersatu. Gaya politik kaum sarungan kerap menjadi pukulan tanpa bayangan dalam ilmu silat. Asal syarat dan ketentuan berlaku ketat.
Lalu di daerah Sampang yang sering banjir pole. Petahana juga pasti mencari figur kaum sarungan. Baik sarungan karena latar belakang pondok atau latar belakang kepala desa.
Baca Juga: Masih Proses Verifikasi, Insentif Guru Ngaji di Bangkalan Belum Direalisasikan
Kehadiran Ra Mamak Prajjan yang diproyeksikan bergandengan dengan H Abdullah Hidayat, sudah pasang kuda-kuda kuat. Tinggal nanti adu kuat di tataran taktik strategi. Maupun adu kuat duit dan doa.
Untuk Bangkalan, cenderung masih menimbang dan memperhatikan. Meski dari awal memang muncul kaum sarungan, tapi era dan kepanjangan tangan Bani Kholil masih ada.
Terlepas bagaimana perang pada 27 November mendatang, jangan sampai pilkadal benar-benar melahirkan kadal. Kadal politik yang lahir dari realitas politik mutakhir: yang seperti memilih jodoh.
Kadang-kadang pilihannya antara yang jahat dan lebih jahat. Karena yang baik dan yang terbaik sering seperti mencari jarum dalam jerami. Meski sulit, tapi kepala daerah sama dengan jodoh. Urusan Tuhan. Tugas kita, cukup mengimani saja. (*)
Editor : Hendriyanto