BANGKALAN, RadarMadura.id - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali mengukuhkan dua guru besar (Gubes), Selasa (25/11).
Kegiatan yang digelar di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri oleh sejumlah rektor perguruan di Madura.
Dua gubes yang dikukuhkan itu yakni Prof. Dr. Sutikno, guru besar ekonomi terapan dengan orasi ilmiah berjudul Analisis Kritis dan Rekonstruksi Ilmu Ekonomi Inklusif dan Keberlanjutan.
Sementara Prof. Dr. Kukuh Winarso, gubes di bidang statistik dan manajemen data dengan orasi ilmiah Statistik dan Manajemen Data: Prediksi dengan Regresi Data Panel dan Machine Learning.
Rektor UTM, Prof. Safi', mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan pengukuhan gubes tersebut.
Dia juga memberikan selamat kepada Prof. Sutikno dan Prof. Kukuh Winarso atas capaian tertinggi dalam profesi dosen. "Selamat kepada dua profesor yang telah dikukuhkan hari ini," ujarnya.
Menurutnya, capaian tersebut tentu tidak mudah dan butuh proses yang cukup panjang. Prof. Sutikno dikukuhkan sebagai gubes di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).
Sedangkan Prof. Kukuh Winarso dikukuhkan sebagai gubes di Fakultas Teknik (FT). "Berkat kerja keras dan kegigihannya, kedua gubes ini bisa meraih capaian tertinggi dalam profesi dosen," imbuhnya.
Prof. Sutikno dan Prof. Kukuh merupakan gubes ke-28 dan 29 di UTM. Mantan Dekan Fakultas Hukum (FH) UTM itu menambahkan, ke depan akan ada beberapa calon gubes yang akan menyusul kedua gubes yang sudah dikukuhkan tersebut.
"Awalnya kami menginginkan pengukuhannya bersamaan dengan pengukuhan gubes lainnya. Hanya saja ada satu calon gubes yang masih terganjal dengan adanya kebijakan baru," katanya.
Profesor merupakan gelar tertinggi dalam profesi dosen. Oleh karena itu, Safi' berharap tidak hanya gelar tertinggi saja yang dicapai, melainkan tanggung jawab yang lebih besar.
Yakni tanggung jawab untuk mencerdaskan generasi muda. Termasuk tanggung jawab untuk melaksanakan tridharma perguruan tinggi.
"Kami berharap tidak hanya gelarnya saja yang tinggi, namun yang paling penting tanggung jawabnya semakin tinggi," urainya.
Keberadaan guru besar di lingkungan UTM harus berdampak pada peningkatan kemanfaatan kampus kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Oleh karena itu, dibutuhkan kerja keras, kekompakan, dan kebersamaan serta sikap totalitas civitas akademika.
Tujuannya, untuk ikut mengawal dan mewujudkan program asta cita Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.
"Yakni menjadikan seluruh instrumen pemerintahan, instrumen negara benar-benar berkorelasi dengan peningkatan kecerdasan, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tutupnya.
Prof. Sutikno saat pidato menyampaikan, capaian akademik tersebut bukan hanya sekedar kehormatan pribadi.
Tapi, amanah intelektual dan moral untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan, pembangunan nasional, dan kemaslahatan umat.
"Ilmu ekonomi yang saya pelajari sangat menarik. Sebab, bersentuhan langsung dalam kehidupan sehari-hari," paparnya.
Sementara itu, Prof. Kukuh Winarso dalam pemaparannya menyampaikan, orasi ilmiah yang disampaikan bagian dari dedikasinya di bidang statistik dan manajemen data yang ditekuninya sejak 2006 lalu. Tepat saat dirinya menjadi dosen dan mengabdikan diri di UTM.
Dia meyakini tantangan di bidang tersebut tidak hanya sekedar bagaimana mengolah data yang besar.
Tapi, untuk memastikan analisis data dilakukan dengan integritas, transparan, dan tanggung jawab etis.
"Sebab di tangan orang yang salah, data dapat digunakan untuk menyesatkan, bukan lagi mencerahkan," tegasnya. (za/yan)
Editor : Abdul Basri