BANGKALAN, RadarMadura.id – Kericuhan yang terjadi saat patrol sahur di Desa Patereman, Kecamatan Modung, menuai banyak kritikan.
Sebab, aktivitas yang rutin digelar setiap malam minggu selama Ramadan tersebut dinilai tanpa pengawasan ketat aparat.
Ketua Umum PC PMII Bangkalan Abd. Kholik menyatakan, saat kericuhan berlangsung tidak ada satu pun aparat yang ada di lokasi.
Harusnya setiap kegiatan melibatkan banyak massa dipantau aparat aparat kepolisian.
”Tapi dalam acara dengan sebanyak pengunjung itu tanpa pantauan polisi,” jelasnya.
Dia menyesalkan kericuhan dan pertikaian antar pengunjung itu berlarut-larut. Itu mengindikasikan polsek setempat tidak becus untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat.
”Jika dijaga ketat oleh aparat, minimal bisa melerai kericuhan yang terjadi pada saat patrol sahur saat itu,” tambahnya.
Kholik mendesak agar Polres Bangkalan turun tangan dalam menangani insiden yang terjadi di Desa Patereman, Kecamatan Modung.
Semua yang terlibat dan mengakibatkan patrol sahur ricuh harus ditindak tegas.
Dia juga meminta agar Kapolres Bangkalan mengevaluasi kinerja aparat polsek setempat.
"Harus diusut tuntas siapa dalang dari kericuhan di acara patrol sahur itu," ucapnya.
Kasihumas Polres Bangkalan Ipda Agung Intama menyatakan, penyelesaian kericuhan antar kelompok warga masih dilakukan pendekatan dengan cara mediasi. Sebab, masalah itu hanya diakibatkan kesalahpahaman.
”Kami usahakan adanya mediasi antara kedua belah pihak yang bersitegang saat patrol sahur,” katanya. (za/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti