SUMENEP, RadarMadura.id – Layanan Perumda Air Minum (PUDAM) Sumekar kembali mendapat keluhan dari masyarakat.
Kali ini, warga Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, mengeluh karena debit air kecil dan sering mati.
Farhan, pelanggan PUDAM Sumekar asal Desa Pinggir Papas menuturkan, belakangan debit air yang mengalir kecil dan sering mati.
Hal ini berdampak terhadap aktivitas keseharian warga, seperti memasak, mencuci, mandi, dan lainnya.
”Kami harap, pihak PUDAM Sumekar mengambil langkah cepat dan konkret untuk menormalisasi pendistribusian air ini,” pintanya.
Direktur Utama PUDAM Sumekar Febmi Noerdiansyah mengaku sudah menormalisasi tersendatnya distribusi air di wilayah Desa Pinggir Papas.
Menurutnya, ada gangguan di sumber Telaga Kermata yang menjadi pasokan air di wilayah tersebut.
”Masalahnya disebabkan listrik PLN sering mati akibat angin kencang dan sebagainya. Kami secara teknis sudah memiliki generator set (genset) sebagai pembangkit listrik alternatif ketika listrik PLN mati,” ungkapnya.
Febmi menjelaskan, ketika memakai genset ternyata debit airnya lebih kecil sekitar 50 persen dibandingkan memakai listrik PLN.
Perbedaannya, ketika memakai PLN aliran air sebesar 30 liter per detik. Namun, ketika memakai genset, turun menjadi 18 liter per detik.
”Setelah dievaluasi lagi, dengan adanya debit air yang semakin kecil itu menyebabkan alirannya juga kecil karena pipa berisi udara,” jelasnya.
Menurutnya, pipa yang berisi udara akan mengganggu saluran air. Karena itu, untuk menormalisasi pihaknya harus membuang udara terlebih dahulu.
”Untuk desa Pinggir Papas sudah dilakukan normalisasi. Memang tidak bisa langsung selesai dalam satu waktu karena membutuhkan proses,” tuturnya.
Febmi mengaku sudah bekerja sama dengan PDAM Surabaya guna melakukan penelitian terhadap kondisi sumber air dan seluruh perangkat teknisnya.
Termasuk mengecek kondisi pipa besar, karena peralatan yang dimiliki PUDAM Sumenep kurang lengkap.
”Nanti kalau ada peralatan yang bermasalah seperti bocor dan sebagainya akan kami lakukan peremajaan,” tandasnya. (tif/bil)
Editor : Amin Basiri