Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramadan, ”Hari Raya” bagi Santri

A
Penulis: Abdul Basri❯
Photo
Photo
Oleh AGUS HERIYANTO*

ADA yang mengatakan kalau Ramadan merupakan ”hari raya” bagi anak-anak muda yang aktif sebagai santri. Mungkin pandangan ini didasarkan pada kebiasaan kalau seluruh santri pondok pesantren, terutama di Jawa Timur, akan dipulangkan (boyong) ketika tiba bulan Ramadan. Mereka akan libur satu bulan penuh dan kembali selepas Hari Raya Ketupat.

Tradisi semacam ini tidak akan ditemukan di lembaga pendidikan nonpesantren, yang biasanya ketika Ramadan tetap masuk sekalipun ada pengurangan jam belajar supaya jam pulang siswa tidak terlalu siang. Biasanya juga di Ramadan mereka diberikan bekal-bekal materi keagamaan bertajuk Pondok Ramadan.

Libur nyantri Ramadan merupakan tradisi yang bagus, paling tidak ini kesempatan bagi santri untuk menularkan ilmu dan gerak spiritualitasnya di masyarakat, minimal di kampungnya. Termasuk menghidupkan salat Tarawih, menjadi penggerak pemuda desa untuk tadarus, meramaikan acara majelis taklim, dan salawatan di musala sebelah atau sekadar morok bagi adik-adiknya.

Di sisi lain, libur pondok pesantren setiap Ramadan juga bisa dijadikan program deteksi dini tentang jiwa sosial santri. Seperti memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbuka bersama dengan tetangga, bagi-bagi takjil di jalan-jalan kampung, menyalurkan zakat fitrah, ikut bersih-bersih masjid hingga bersilaturahmi kepada handai tolan. Aktivitas-aktivitas interaksi humanitas semacam ini agak sukar dilakukan jika mereka masih berada di lingkungan pondok.

Idealisme pesantren semacam ini bukan tanpa masalah. Karena tidak sedikit santri yang justru ketika libur mereka kembali ke satu fase kehidupan yang serba ”liar”. Tidak sedikit mereka justru melakukan kegiatan-kegiatan yang terlepas dari kesantriannya. Semisal nongkrong di pinggir jalan melihat yang ”asyik-asyik” sebelum berbuka, busana sarungan yang mulai ditanggalkan, bermain petasan tengah malam, hingga adu joki sepeda motor.

Nah, fenomena ini yang harus tetap diperhatikan oleh pengelola pondok pesantren. Paling tidak harus ada koordinasi yang ”aduhai” antara pengurus dengan wali santri supaya kegiatan harian si santri/anak tetap bisa terpantau dengan baik. Bukan justru saling menyalahkan, apalagi menganggap pondok telah gagal mengajarkan pendidikan budi pekerti dan religiositas kepada putra dan putri mereka.

Pondok pesantren merupakan gudang literasi, terutama yang terkait dengan keilmuan dan informasi seputar keagamaan, utamanya Islam. Selain itu, di ponpes juga digodok pengembangan karakter, budi pekerti, moralitas, humanitas/sosial, hingga pembentukan jasmani. Nah, ketika santri diliburkan saat Ramadan, maka itu merupakan kesempatan pihak pondok untuk menilai apakah literasi santri sudah mumpuni atau tidak.

Apakah di rumahnya mereka masih mau belajar, mengaji, mau hidup bersosial, mampu menampilkan budi pekerti dan moralitas yang baik, atau justru sebaliknya. Semua penilaian ini harus direfleksikan kembali ketika si santri ”pulang” ke kawah candradimukanya itu. Harus ada evaluasi komprehensif apakah si santri sudah layak menyandang titel ”santri” atau tidak. Anomali kesantrian semacam ini bisa diatasi dengan adanya kerja sama apik antara pihak pengurus pondok pesantren dengan wali santri.

Artinya, santri tidak dilepas begitu saja serta tidak dibiarkan menafsirkan hari ”libur” pondok sebagaimana makna aslinya, yaitu lepas dari belajar dan belajar. Justru di masa tersebut mereka mengaktualisasyikan keilmuan dan kepribadiannya di kehidupan nyata, sekalipun masih dalam ruang lingkup keremajaan dan kepemudaan.

Ada lagi satu hal yang unik dan sedikit miris, yaitu keengganan santri untuk kembali mondok ketika masa libur Ramadan (hari raya santri) sudah habis. Padahal mereka ada yang sudah 5 sampai 6 tahun mencicipi alam pesantren. Alasannya sangat sederhana, ”pesantren itu ketat dan pelajaran agamanya bikin pusing kepala”. Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka pun mengambinghitamkan materi-materi tertentu seperti bahasa Arab, Ihya’ Ulumuddin, nahwu sharraf, hingga hafalan Nadhom Maqsud yang ”katanya” sulit mereka cerna.

Apa sih yang menjadi penyebab mereka 6 tahun betah, kok akhirnya merasa bosan hanya karena libur selama satu bulan? Ini belum terkalkulasi kasus lain, seperti santri enggan kembali mondok karena menikah atau dinikahkan, pindah sekolah, dan lain sebagainya.

Ramadan memang layak disebut ”hari raya” santri. Terlepas dari konflik kenakalan ala santri di atas. Memang uniknya di sini, dan ini bisa dijadikan sebagai tantangan bagi pondok pesantren dan wali santri untuk lebih meningkatkan girahnya menanamkan bekal religiositas dan moralitas di dalam jiwa mereka, sekalipun hanya sebesar biji zarah dan sehalus pasir pantai. Yang terpenting si santri tetap kepengin nyantri selepas Hari Raya Ketupat nanti. Bukan justru enggan karena sudah kekenyangan. (*)

*)Guru MA di Pondok Pesantren Terate, Pandian, Sumenep

Advertisement
Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Adaptasi Santri di Tengah Arus Modernisasi

Adaptasi Santri di Tengah Arus Modernisasi

Santri dan teknologi merupakan instrumen yang harus beriringan. Santri tidak boleh hanya terpaku pada metode pembelajaran tradisional, tetapi juga harus terbuka terhadap kemajuan zaman.

Ansari: Pesantren Fondasi Hadapi Era Digital

Ansari: Pesantren Fondasi Hadapi Era Digital

Anggota Komisi VIII DPR RI Ansari mengingatkan, budaya literasi harus terus diperkuat. Masyarakat dituntut mampu berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum teruji kebenarannya.

Ketika Sorba Beradu dengan Zaman  (Meniti Jalan Kemerdekaan dengan Warisan Pesantren dan Harapan Masa Depan) 

Ketika Sorba Beradu dengan Zaman (Meniti Jalan Kemerdekaan dengan Warisan Pesantren dan Harapan Masa Depan) 

Pesantren menjadi basis perlawanan dan pusat pengaderan perjuangan, dengan kiai sebagai pemimpin spiritual sekaligus gerakan. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer