PAMEKASAN, RadarMadura.id – Sepeda motor yang dikendarai JPRM harus pelan-pelan saat melintasi jalan berbatu dan berdebu di Desa Panaguan. Di sepanjang jalan sisi kiri terdapat perkebunan jeruk yang layu dan mengering milik warga. Itu mengindikasikan Dusun Morbedih benar-benar dilanda kekeringan.
Selama dalam perjalanan, seorang warga yang menjadi pemandu terus melihat spion. Tujuannya, memastikan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) tetap sejalur dengannya. Beberapa saat kemudian, sepeda motor sang pemandu berhenti di sebuah gubuk bambu yang sangat sederhana. JPRM ikut berhenti.
Dari rumah sederhana itu, muncul perempuan berusia lanjut menyambut kedatangan JPRM. Perempuan tersebut bernama Siya, nenek Lailiatul Badriyah. Siya tampak semringah menyambut kedatangan JPRM. ”Toju’, Bing (silakan duduk), beginilah keadaan kami,” katanya Rabu (4/10).
Air gelas mineral dan rengginang disuguhkan. Dikatakan, cucunya yang yatim piatu belum pulang dari sekolah. Itu seolah menjawab maksud dan tujuan JPRM ingin menemui Lailiatul Badriyah. ”Eli masih sekolah, sebentar lagi pulang dan akan dijemput pamannya,” tambahnya.
Setengah jam kemudian, deru sepeda motor Hasan Basri (paman Lailiatul Badriyah) berhenti di halaman rumah. Dia membonceng seorang gadis menggunakan seragam batik cokelat dengan tas ransel di punggung. Dia adalah Lailiatul Badriyah yang akrab dipanggil Eli.
Siya dengan senyum semringah menyambut cucu kesayangan satu-satunya itu. Dia lalu menyuruh Eli berganti pakaian. Sebab, dia telah menyiapkan makanan untuk Eli. Tampak Siya memunggungi dan berjalan ke arah gubuk yang kondisinya memprihatinkan.
Gubuk itu sangat sederhana. Tiang-tiang mulai keropos. Kayu-kayu plafon harus disambung agar bisa tetap utuh. Dinding anyaman bambu mulai berlubang dan tak utuh. Genting berlubang dan dipenuhi dedaunan.
Lantai yang retak menyangga rumah kuno peninggalan almarhum kedua orang tua Eli. Dari dalam terdengar suara Siya sedang menyiapkan makanan untuk cucunya. Siya lalu melangkah pelan membawa satu piring nasi putih tanpa lauk. ”Ini adalah rumah Eli, rumah peninggalan almarhum ayah dan ibunya,” terangnya.
Perempuan berusia 63 tahun itu mengatakan, Eli ditinggal ibunya semenjak usia 16 bulan. Sebab, ibunya meninggal karena kanker payudara. Sedangkan sang ayah meninggal saat Eli berusia tiga tahun. Kini Eli sudah berusia 12 tahun dan duduk di bangku kelas VI SDN Panaguan 2.
Gubuk yang dihuni Eli dan neneknya memang sangat tidak layak. Kondisinya sudah rapuh dan membahayakan jika tidak segera diperbaiki. ”Saya takut roboh. Untuk sementara, saya manfaatkan dapur saja,” ungkapnya.
Diterangkan, untuk sementara waktu Eli menumpang di rumah pamannya. Sebab, lebih layak setelah enam tahun lalu mendapatkan bantuan bedah rumah dari TNI. ”Numpang dulu, karena rumah Eli memang rusak begini,” jelasnya.
Setiap hari Siya bekerja serabutan dan mengurus kambing milik Eli. Kadang berjualan pisang. Sesekali tetangganya memberikan bantuan sekadarnya. ”Kadang malam jumat manis Eli diberi beras dan uang oleh tetangga. Kadang saya juga dapat bantuan dari kepala desa,” tuturnya.
Siya mengakui jika kondisinya terus melemah dan mulai sakit-sakitan. Dia berharap Eli menjadi anak yang salihah dan bermanfaat bagi sesama. ”Semoga saya dianugerahi umur panjang supaya bisa tetap merawat Eli,” katanya sambil mengelus kepala Eli dengan mata berkaca-kaca.
Eli mengaku ingin menjadi seorang guru. Dia ingin neneknya menyaksikannya menjadi guru kelak. Dia menyatakan tidak malu meskipun nasibnya tidak sama seperti anak seusianya. ”Saya doakan mbah panjang umur, supaya ada yang bisa merawat saya. Saya ingin belajar giat lagi,” ucapnya.
Hasan Basri menuturkan, selama ini dia bekerja sebagai kernet truk. Penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Namun, terkadang dia menyisakan uang untuk Eli dan ibunya. ”Saya kerja tidak menentu. Kalau ada, saya sisihkan untuk uang sekolah,” jelasnya.
Dulu, Hasan Basri bekerja sebagai buruh pabrik di Malang. Namun, akhirnya pulang karena mempertimbangkan kesehatan orang tuanya. ”Saya pulang karena ibu sakit-sakitan. Kini tinggal Eli dan saya yang bisa menemani ibu,” jelas pria berusia 30 tahun itu.
Sementara Saihah, warga desa setempat mengaku sangat prihatin dengan kondisi Eli. Dia juga sering memberi uang saku sekolah Eli. ”Kadang saya kasih uang kepada Eli. Saya juga minta pertolongan teman-teman anggota dewan agar membantu Eli,” tuturnya. (*/yan)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti