Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Batik Madura

Abdul Basri • Minggu, 27 November 2022 | 18:04 WIB
Photo
Photo
Oleh M. H. Said Abdullah*
(Ketua Badan Anggaran DPR RI)

GELARAN KTT G20 di Bali baru saja usai dan menuai banyak apresiasi kekaguman dan penghormatan oleh banyak pemimpin dunia. Di tengah tengah jamuan-jamuan makan malam oleh Presiden Jokowi kepada para pemimpin dunia dan para delegasi, muncul insiden kecil, namun menjadi blessing in disguise. Seperti biasa, sudah menjadi tradisi lama, saat acara-acara kenegaraan, Indonesia selalu memperkenalkan kekayaan budaya yang dimilikinya.

Saat jamuan makan malam, seorang jurnalis, dan anggota Partai Konservatif Inggris, Sophie Corcoran mengunggah foto Presiden FIFA Gianni Infantino, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, Ketua Eksekutif Forum Ekonomi Dunia Klaus Schwab, dan lainnya melalui Twitter-nya. Pada foto tersebut, ia memberi caption, Why are they all dressed the same–and like that (Kenapa mereka pakai baju yang sama–dan seperti itu)”. Cuitan Sophie yang bernada merendahkan itu sontak mengundang reaksi netizen Indonesia yang selalu kompak dan gercep. Mereka ramai-ramai merujak” Sophie Corcoran di Twitter-nya.


Nasib yang sama juga dialami oleh youtuber Inggris Mahyar Tousi. Ia mengunggah foto yang sama, seperti yang diunggah Sophie Corcoran, lantas memberi caption, What on earth are these idiots wearing?! (Apa yang dikenakan para idiot ini?!”). Cuitan kasar Tousi ini kian mengundang reaksi keras dari netizen, bahkan netizen Malaysia ikut menyerbu beranda Tousi. Sebagian besar netizen juga menjelaskan bahwa baju yang dipakai oleh para pemimpin KTT G20 tersebut adalah motif batik endek Bali yang ditenun dengan tangan, dan menggunakan bahan ramah lingkungan, yang merupakan kekayaan budaya batik Nusantara.


Atas tragedi ini, perbincangan tentang batik menjadi mengemuka. Batik menjadi kata yang banyak di cari di google, menandakan banyak orang ingin mengetahui lebih banyak tentang batik.


Representasi Kultural


Tiap tiap daerah di Nusantara selalu memiliki batik dengan beragam motifnya. Bagi banyak daerah, batik telah mewakili karakter, status sosial, corak produksi, dan gambaran alam setempat. Sadar memiliki kekayaan batik di seantero Nusantara yang beragam dan kaya motif, Pemerintah Indonesia dan Komunitas Batik Indonesia pada 9 Januari 2009 mengajukan batikIndonesia kepada UNESCO agar mendapatkan status Intangible Cultural Heritage (ICH).


Selanjutnya, pada 2 Oktober 2009, sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi meresmikan batik menjadi bagian dari Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi di UNESCO. Batik menjadi satu-satunya warisan budaya milik Indonesia dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO. Sebulan berikutnya, 17 November 2009, Presiden Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 tentang penetapan Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober.


Batik telah menjelma menjadi harga diri bangsa. Meminjam pendekatan representasi dari Stuart Hall (1997), batik telah menjadi representasi kultural, menjadi bahasa simbolik, yangsetiap penghasil karya (pembatik) meletakkan makna atas apa yang mereka karyakan. Seperti halnya benda-benda budaya lainnya, seperti keris, odheng, belangkon, wayang, dan lain-lain, dikerjakan melalui tangan-tangan terampil yang dikombinasikan dengan pribadi yang menjalani laku suci.


Maka, memaknai produk-produk budaya seperti itu tidak hanya melihat produk akhir, apalagi sekadar harga yang diperdagangkan. Justru dari maknai intrinsik dari proses produksi” yang penuh laku spiritual, pengabdian, dan penghormatan terhadap jagat raya,membentuk nilai-nilai kebudayaan yang sangat mendalam. Proses inilah yang membedakan dengan produk budaya massa yang dihasilkan melalui industri yang memudahkan replikasi dan proses produksi yang eksploitatif karena mengejar keuntungan ekonomi.


Rasa Bermadura


Berbeda dengan batik rasa mataraman (Jogjakarta, Solo dan sekitarnya), batik Madura lebih menghadirkan tampilan merepresentasikan karakter berani, dengan guratan warna warna yang mencolok seperti merah, biru, kuning, dan hijau. Proses pewarnaan menggunakan berbagai produk alam sekitar yang ada. Misalnya, pewarna alami soga alam, seperti mengkudu dan tingidigunakan sebagai pewarna merah. Sedangkan daun tarumdigunakan untuk pewarna biru, serta kulit mundu yang ditambah tawas untuk memberikan efek warna hijau pada kain batik Madura.


Warna-warna tajam ini sangat terlihat dalam motif batik sepertisekarjagat, matahari, keong mas, daun memba atau daun mojo, serta gorek basi. Warna-warna berani sangat jelas mewakili karakter orang pada umumnya, yakni berani, lugas, dan apa adanya. Bahkan, pada 1970-an, di Sumenep muncul corak batik ayam dengan merah sebagai warna dasar. Sekali lagi, pilihan warna dan simbol ini menandakan karakter orang Madura yang berani.


Pada zaman dulu, proses perendaman kain batik Madura dilakukan untuk menentukan tingkat terang dan gelapnya warna yang dihasilkan. Lama perendaman kain batik Madura biasanya antara 13 bulan. Selain untuk menentukan gelap terang kain, juga bertujuan untuk membuat warna kain batik Madura lebih tahan lama.


Sangat terlihat proses produksi kain batik Madura lebih menghadirkan karya estetis-spiritualis, sebagaimana karakter orang Madura pada umumnya yang agamais, ketimbang karya ekonomi yang mementingkan kecepatan produksi dan sirkulasi, seperti halnya karya-karya pabrikan.


Namun seiring berjalannya waktu, bisa jadi proses produksi batik tradisional Madura belakangan telah mengalami modernisasi dan fabrikasi, sebagaimana layaknya produk-produk budaya massa, yakni mengedepankan proses produksi yang efisien, murah, namun menghasilkan jumlah produksi yang sangat banyak.


Saya sangat berharap sentra batik tulis Tanjungbumi di Bangkalan, sentra batik tulis Banyumas Klampar, Pamekasan, dan sentra batik tulis Pakandangan, Sumenep, yang masih menjalankan proses produksi tradisional” dan mengedepankan karya estetis-spiritualis dipromosikan oleh pemerintah daerah, baik sebagai sarana pendidikan karakter dan seni budaya kepada anak anak di Madura. Selebihnya, dinas pariwisata masing-masing kabupaten mempromosikan beragam hasil karya batik tulis tradisional se-kawasan Madura sebagai produk seni tinggi, yang mengedepankan proses produksi ramah lingkungan (go green) serta menjalankan ekonomi sirkuler.


Dengan promosi yang tepat, dibungkus dengan kekuatan naratif yang aktual dengan isu-isu kekinian, seperti ramah lingkungan, saya berkeyakinan produk batik tulis tradisional se-Madura akan menjadi kekuatan budaya yang sangat bernilai tinggi, bukan hanya di dalam negeri, bahkan di mancanegara. Tocca toccer rasa bermadura. (*)

Editor : Abdul Basri
#ketua badan anggaran dpr ri #dpr ri #said abdullah