Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

MBG OTW Indonesia Emas

Hera Marylia Damayanti • Senin, 26 Januari 2026 | 07:27 WIB
Bahrul Ulum, wartawan Jawa Pos Radar Madura
Bahrul Ulum, wartawan Jawa Pos Radar Madura

Oleh BAHRUL ULUM

 

PROGRAM makan bergizi gratis (MBG) kerap dibaca sebatas kebijakan pemenuhan gizi bagi siswa. Padahal, jika ditarik lebih jauh, MBG adalah simpul penting dari strategi besar negara dalam menyiapkan masa depan. Ia bekerja di dua jalur sekaligus: membangun kualitas sumber daya manusia dan menggerakkan ekonomi rakyat dari lapisan paling bawah.

Di sekolah-sekolah, MBG hadir sebagai jawaban atas masalah klasik yang kerap luput dari perhatian: anak-anak belajar dalam kondisi perut kosong atau asupan gizi yang tak seimbang. Situasi ini bukan hanya soal lapar, tetapi menyangkut daya pikir, konsentrasi, hingga kesehatan jangka panjang. 

Dengan MBG, negara memastikan bahwa proses belajar dimulai dari fondasi yang benar. Anak-anak yang tercukupi gizinya akan tumbuh lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap ditempa menjadi generasi muda yang andal dan digdaya prasyarat utama on the way (OTW) Indonesia Emas di masa yang akan datang.

Namun, daya dorong MBG tidak berhenti di ruang kelas. Program ini menjalar ke dapur-dapur produksi, ke pasar tradisional, hingga ke sentra-sentra pangan lokal. Setiap porsi makanan adalah hasil kerja banyak tangan. 

Ada petani yang menanam padi, sayur, dan buah. Ada peternak dan nelayan yang menyuplai protein. Ada UMKM yang mengolah bahan mentah menjadi makanan siap saji. Ada tenaga distribusi yang memastikan makanan tiba tepat waktu dan layak konsumsi. Rantai ini membentuk ekosistem ekonomi yang hidup.

Di titik inilah MBG bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi. Penyerapan tenaga kerja meningkat, perputaran uang di daerah menjadi lebih nyata, dan ketergantungan pada pasokan besar dari luar daerah bisa ditekan. MBG memberi ruang bagi ekonomi lokal untuk bernapas dan tumbuh. Bukan ekonomi elitis, melainkan ekonomi rakyat yang bergerak dari dapur ke dapur, dari desa ke sekolah-sekolah.

Lebih jauh, MBG juga memiliki dimensi pemerataan. Ketika bahan pangan diserap dari produsen lokal, maka manfaat ekonomi tidak menumpuk di pusat. Ia menyebar, menetes, dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Program ini, jika konsisten dijalankan, dapat menjadi bantalan sosial sekaligus pengungkit ekonomi di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global.

Tentu saja, program sebesar MBG bukan tanpa tantangan. Persoalan kualitas gizi, standar keamanan pangan, ketepatan waktu distribusi, hingga akuntabilitas anggaran menjadi pekerjaan rumah yang tak ringan.

MBG tidak boleh terjebak menjadi program seremonial atau sekadar angka di laporan. Pengawasan harus ketat, pelibatan masyarakat harus nyata, dan evaluasi harus dilakukan secara berkala. Kegagalan menjaga mutu bukan hanya merugikan negara, tetapi juga mengkhianati tujuan awal program ini.

Di sisi lain, MBG juga menuntut sinergi lintas sektor. Pendidikan, kesehatan, pertanian, koperasi, hingga pemerintah daerah harus berjalan seirama. Tanpa koordinasi yang rapi, potensi besar MBG bisa tereduksi. Padahal, di tangan pengelolaan yang tepat, MBG dapat menjadi contoh bagaimana kebijakan sosial dirancang sekaligus sebagai kebijakan ekonomi.

Pada akhirnya, MBG adalah pesan negara kepada warganya: bahwa masa depan tidak dibangun dengan retorika, tetapi dengan kerja konkret yang menyentuh kebutuhan paling dasar. Memberi makan anak-anak hari ini bukan sekadar soal mengenyangkan perut, melainkan menyiapkan generasi yang kuat dan mandiri. Menggerakkan dapur-dapur produksi hari ini bukan sekadar soal proyek, melainkan menghidupkan ekonomi rakyat.

Di sanalah MBG menemukan maknanya yang utuh. MBG menyehatkan siswa, MBG banyak serap tenaga kerja, MBG jadi motor penggerak ekonomi. Lebih tepatnya MBG disiapkan untuk menuju Indonesia Emas di masa depan. (*)

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Kebijakan Sosial #Mbg #indonesia emas #on the way #penggerak ekonomi #menyehatkan siswa #evaluasi #serap tenaga kerja #membangun kualitas sumber daya manusia #pemenuhan gizi