Oleh MOHAMMAD AFFAN
DALAM seminggu terakhir, jejaring media sosial, khususnya di wilayah Madura, dihebohkan dengan film berjudul Guru Tugas. Film yang diunggah pada akun YouTube Akeloy Production ini hampir menembus 1 juta tayangan hanya dalam tempo 5 hari. Angka yang cukup fantastis untuk sebuah film besutan lokal.
Dari sisi sinematografi, film ini digarap cukup apik. Komposisi, angel, pergerakan kamera, pencahayaan, dan estetika editing memenuhi aspek-aspek standar dalam sinematografi. Ironisnya, tingginya interes publik pada film ini bukan karena aspek sinematografinya, tapi karena narasinya yang kontroversial.
Film ini menggambarkan kisah seorang guru yang ditugaskan oleh pesantren untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan Islam di Madura. Namun, alur cerita yang mengarah pada tindakan pelecehan seksual yang dilakukan tokoh guru tersebut terhadap salah satu muridnya menuai kontroversi besar. Beberapa adegan juga dianggap tidak pantas dan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam maupun norma pesantren yang sangat kental dijunjung orang Madura.
Tentu saja, sebagai karya seni, film memiliki kebebasan ekspresi untuk mengangkat berbagai tema, termasuk yang sensitif. Namun, kebebasan tersebut juga harus diiringi dengan tanggung jawab seni yang tinggi. Penggambaran sebuah tokoh atau situasi dalam film haruslah dilakukan dengan cermat dan memperhatikan dampaknya terhadap penonton serta masyarakat secara luas.
Meskipun narasi yang diangkat film ini bersifat fiktif, namun penokohan guru yang melakukan pelecehan seksual bisa membentuk stereotipe negatif terhadap guru tugas dan institusi pesantren secara umum. Padahal, program guru tugas telah memberikan kontribusi positif yang besar dalam pendidikan agama di masyarakat. Mayoritas guru tugas juga menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh dedikasi.
Oleh karena itu, penting bagi para kreator film untuk lebih memperhatikan konteks sosial dan nilai-nilai yang dipegang masyarakat tempat cerita tersebut berkembang. Meskipun sebuah karya seni boleh saja mengangkat tema yang kontroversial, namun penggambarannya haruslah dilakukan dengan bijak agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan merugikan pihak-pihak yang terlibat.
Dalam hal ini, kreator film juga mesti terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, agar dapat memperbaiki dan menyempurnakan karya mereka ke depannya. Sebuah film yang baik tidak hanya ditentukan oleh kualitas sinematografi dan cerita yang menarik, tetapi juga oleh bagaimana pesan yang disampaikan dapat diterima dan memberikan dampak positif bagi penonton.
Bagi masyarakat yang merasa tidak setuju dengan isi atau pesan yang disampaikan film ini, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Mereka dapat menyuarakan ketidaksetujuannya melalui saluran komunikasi yang tersedia di kanal YouTube. Dengan menyampaikan pendapat secara terbuka, mereka dapat memicu dialog dan kesadaran akan isu-isu etis yang diangkat dalam film ini, sehingga dapat direkomendasikan untuk dihapus dari kanal YouTube.
Masyarakat juga dapat menggunakan hak mereka untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya melalui protes damai atau petisi. Protes dapat dilakukan dengan cara yang terorganisasi tanpa menimbulkan kerusuhan atau kekacauan yang dapat merugikan pihak lain. Petisi juga bisa menjadi sarana untuk mengumpulkan dukungan dan menuntut perubahan terkait dengan konten yang dianggap merugikan atau tidak pantas. Aspek hukum bisa menjadi opsi terakhir jika protes dan petisi tidak membuahkan hasil.
Menyuarakan ketidaksetujuan terhadap sebuah karya seni, termasuk film, merupakan hak yang dimiliki setiap individu dalam masyarakat. Namun, penting untuk melakukannya dengan cara yang terhormat, serta memperhatikan nilai-nilai kebebasan berekspresi dan hukum yang berlaku.
Sebagai produser dan pengunggah film, Akeloy Production memiliki tanggung jawab besar terhadap konten yang mereka hasilkan. Ada beberapa langkah yang sepatutnya dapat diambil oleh Akeloy Production. Pertama, Akeloy Production sebaiknya membuka diri untuk menerima kritik dan masukan dari masyarakat terkait konten film ini. Dengan mendengarkan pendapat orang-orang yang merasa terganggu atau tidak puas dengan film ini, Akeloy Production dapat memahami perspektif yang berbeda dan memperbaiki konten mereka di masa mendatang.
Setelah menerima kritik dan masukan, Akeloy Production seharusnya melakukan tinjauan menyeluruh terhadap konten film ini. Mereka perlu mengkaji secara cermat adegan-adegan yang dianggap kontroversial atau tidak pantas, serta mempertimbangkan apakah penggambaran tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat.
Jika diperlukan, Akeloy Production sebaiknya berdialog dengan pihak-pihak terkait, seperti kelompok advokasi atau perwakilan dari institusi pendidikan agama, untuk mendengarkan pandangan mereka dan mencari solusi yang dapat diterima bersama. Dengan berkolaborasi secara konstruktif, Akeloy Production dapat memperbaiki konten film mereka dan menghindari kontroversi yang tidak perlu.
Jika setelah tinjauan menyeluruh Akeloy Production menyadari bahwa konten film ini memang tidak pantas, mereka seharusnya bersedia untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Hal ini bisa berupa menghapus atau mengedit adegan-adegan tertentu, meminta maaf kepada masyarakat yang terganggu, atau memberikan klarifikasi terkait dengan pesan yang ingin disampaikan dalam film ini.
Dengan mengambil langkah-langkah tersebut, Akeloy Production dapat menunjukkan komitmennya terhadap tanggung jawab seni dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait. Kasus ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi konten kreator secara keseluruhan. Sebuah konten hendaknya tidak saja mengejar jumlah viewer dan rating dengan sengaja mengangkat isu sensitif, tapi harus mengedepankan unsur edukasi dan tanggung jawab sosial. (*)
*)Dosen STAI Darul Ulum Banyuanyar, pegiat Forum Doktor Peradaban (FDP)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti