Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

17 Agustus dan Sisa Feodalisme

A
Penulis: Amin Basiri❯
Moh. Riski Kohar
Moh. Riski Kohar

Advertisement


Moh. Riski Kohar*


Advertisement

Ada ironi kecil yang berulang setiap 17 Agustus. Di satu sisi, kita merayakan kemerdekaan sebagai kemenangan seluruh rakyat. Di sisi lain, di sejumlah tempat, peserta upacara harus berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, sementara pejabat dan tamu kehormatan berada di tempat yang jauh lebih teduh dan nyaman.

Tentu, tidak semua perbedaan fasilitas merupakan persoalan. Protokol memiliki alasan keamanan, kesehatan, dan kebutuhan tugas.

Namun, persoalannya bukan semata-mata siapa yang duduk di bawah tenda dan siapa yang berdiri di bawah matahari.

Advertisement

Persoalannya adalah pesan yang dipancarkan oleh perbedaan itu dalam sebuah seremoni yang seharusnya menjadi simbol kesetaraan.

Di sinilah 17 Agustus layak menjadi ruang untuk bercermin, sudahkah kemerdekaan membebaskan kita bukan hanya dari penjajahan, tetapi juga dari mentalitas feodal?

Ketika Jabatan Menciptakan Jarak

Kemerdekaan politik tidak otomatis menghapus warisan cara berpikir yang hierarkis.

Feodalisme modern tidak selalu tampil dalam bentuk bangsawan, gelar, atau penghormatan berlebihan kepada penguasa. Ia dapat hadir secara lebih subtil, ketika jabatan dianggap sebagai sumber keistimewaan, ketika fasilitas publik lebih mudah dinikmati oleh mereka yang berada di lingkar kekuasaan, atau ketika jarak antara pejabat dan masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang alamiah.

Karena itu, tenda dalam upacara bukanlah persoalan utama.

Advertisement
Editor : Amin Bashiri
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Ijazah Bukan Tiket Antre: Catatan untuk Wisudawan Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Ijazah Bukan Tiket Antre: Catatan untuk Wisudawan Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Banyak sarjana hanya mengenal satu pintu: PNS, pegawai instansi pemerintah, atau karyawan bergaji tetap. Pintu itu sempit sejak dirancang; setiap seleksi CPNS, jutaan pelamar berebut formasi yang hanya ratusan ribu

MH Said Abdullah, ”Fa’innahu Sakhiyyun”

MH Said Abdullah, ”Fa’innahu Sakhiyyun”

Agama mengajak setiap manusia untuk menjadi yang terbaik bagi manusia yang lainnya.

Siap-Siap, Mulai 2027/2028 Naik Kelas Nggak Lagi “Aman Jaya”

Siap-Siap, Mulai 2027/2028 Naik Kelas Nggak Lagi “Aman Jaya”

Pemerintah berharap siswa lebih termotivasi, menguasai materi lebih baik, dan memiliki karakter serta mental yang kuat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer