
Moh. Riski Kohar*
Ada ironi kecil yang berulang setiap 17 Agustus. Di satu sisi, kita merayakan kemerdekaan sebagai kemenangan seluruh rakyat. Di sisi lain, di sejumlah tempat, peserta upacara harus berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, sementara pejabat dan tamu kehormatan berada di tempat yang jauh lebih teduh dan nyaman.
Tentu, tidak semua perbedaan fasilitas merupakan persoalan. Protokol memiliki alasan keamanan, kesehatan, dan kebutuhan tugas.
Namun, persoalannya bukan semata-mata siapa yang duduk di bawah tenda dan siapa yang berdiri di bawah matahari.
Persoalannya adalah pesan yang dipancarkan oleh perbedaan itu dalam sebuah seremoni yang seharusnya menjadi simbol kesetaraan.
Di sinilah 17 Agustus layak menjadi ruang untuk bercermin, sudahkah kemerdekaan membebaskan kita bukan hanya dari penjajahan, tetapi juga dari mentalitas feodal?
Ketika Jabatan Menciptakan Jarak
Kemerdekaan politik tidak otomatis menghapus warisan cara berpikir yang hierarkis.
Feodalisme modern tidak selalu tampil dalam bentuk bangsawan, gelar, atau penghormatan berlebihan kepada penguasa. Ia dapat hadir secara lebih subtil, ketika jabatan dianggap sebagai sumber keistimewaan, ketika fasilitas publik lebih mudah dinikmati oleh mereka yang berada di lingkar kekuasaan, atau ketika jarak antara pejabat dan masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang alamiah.
Karena itu, tenda dalam upacara bukanlah persoalan utama.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




