
“Ia [MH Said Abdullah] tidak segan-segan memberikan bantuan pada masyarakat yang serba kekurangan. Misalnya, memberikan bantuan sejuta pohon jarak, membagikan 150 ekor kambing, memberikan bantuan pada lembaga-lembaga pendidikan swasta tanpa melihat apakah lembaga itu sealiran dengan ideologi politik.” (Edhisetiawan, Januari 2012)
Setidaknya begitulah penggalan narasi tentang sosok MH Said Abdullah (MHSA) yang penulis temukan dalam teks tulisan bang Edhisetiawan (alm) dengan judul : “Said Abdullah (Jalan Panjang Pejuang Kebudayaan)”.
Tulisan Bang Edhisetiawan ini, secara utuh mengapresiasi praktik transformasi nilai-nilai uswah hasanah dan kedermawanan yang dilakukan oleh MHSA dalam semua lintasan kehidupan sosial dan kebudayaan di Madura. Intinya, MHSA telah mampu memerankan dirinya sebagai sosok yang dapat memberikan manfaat nyata dalam kehidupan dan pembangunan masyarakat secara umum.
Sebuah hadist menegaskan dengan sangat gamblang ; manusia terbaik adalah ia yang bermanfaat terhadap manusia yang lain. “Khoirunnasi anfa’uhum linnasi”, begitulah bunyi teks arabnya. Subtansi hadist itu jelas sekali, mengajarkan tentang pentingnya memberikan manfaat kepada orang lain dan lingkungan sekitar.
Agama mengajak setiap manusia untuk menjadi yang terbaik bagi manusia yang lainnya. Menebarkan manfaat (beramal salih) merupakan jalan sejati bagi siapapun; tak pandang bulu, tak pandang jabatan, tak pandang status sosial dan tak pandang kaya atau miskin.
Karena menjadi bermanfaat itu, salah satunya bisa diukur dengan satu pertanyaan “apakah manfaat yang diberikan benar-benar dirasakan atau tidak?” Untuk MHSA, insyaallah, jawabannya sama : “masayarakat merasakan manfaat atas kiprah dan pengabdiannya”.
Tulisan ini mungkin saja dianggap terlalu subyektif, tetapi juga tetap membuka ruang untuk objektif. MHSA tetaplah manusia, yang tidak mungkin sempurna sesempurna mungkin. Subyektivitas dan objektivitas tetap ada dala membaca seorang tokoh, tetapi kiprah dan peran yang dilakukan oleh MHSA selama ini, lebih mendekati pandangan yang objektif.
Mencoba membaca tentang kapasitas seorang sosok MHSA, yang mulai melegenda, bukan saja karena ia seorang politisi, pejabat negara sebagai ketua Banggar DPR RI, bukan karena dia sebagai ketua DPD PDI-P Jawa Timur.
Tetapi yang jauh lebih penting adalah terletak pada kedermawanan yang menjadi ciri khas pada diri politisi asal Kota Keris ini. MHSA, Fainnahu Sakhiyyun yang berarti ia termasuk sosok yang sangat dermawan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




