Anggota DPR RI, Wakil PDI Perjuangan dari Madura
TUMBUHNYA industri e-commerce menurunkan bisnis ritel konvensional di gerai-gerai modern. Pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas manusia semakin menggenapi suramnya bisnis di mal di kota-kota besar. Coba saja berkunjung ke pusat perbelanjaan elektronik di Jakarta Utara. Berbagai mal megah yang dulu menjadi landmark perdagangan Jakarta, kini kawasan itu sepi dari aktivitas perdagangan. Para pembeli beralih menggunakan layanan e-commerce untuk melakukan pembelian barang.
Para pengelola mal di berbagai kota mulai memutar otak. Selepas pembatasan sosial dilonggarkan, bahkan kini telah dicabut oleh pemerintah pusat, ada kecenderungan orang berkunjung ke mal lebih prioritas untuk menikmati kuliner, sambil hangout bersama keluarga, kekasih, atau rekan mereka. Peluang ini ditangkap oleh para pengelola mal dengan memperbanyak gerai kuliner. Sangat terlihat, porsi gerai kuliner di mal di berbagai kota makin banyak.
Lebih mencengangkan, makin banyak selebritas berbisnis kuliner dan mengangkat khazanah kuliner dari berbagai tempat. Saya kira ini kemajuan yang menggembirakan. Sebab, kuliner merupakan kekayaan budaya Nusantara yang menyerap produksi bahan makanan serta rempah-rempah dari para petani dan nelayan, yang artinya ikut menyerap hasil kerja mereka.
Bapak Proklamator Bung Karno menaruh perhatian terhadap kuliner Nusantara. Sebab, Bung Karno tahu persis, bangsa Eropa yang menjelajah Nusantara sampai akhirnya menjadi kolonialis di Indonesia hanya untuk mengambil kekayaan rempah Nusantara yang memang bernilai ekonomi tinggi. Masa tiga abad kolonialisme itu mereka curahkan untuk merampas rempah-rempah kita.
Untuk mengabadikan kekayaan kuliner Nusantara, sejak 1964 Bung Karno dibantu oleh Ibu Hartini mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara dan berhasil dituangkan melalui buku Mustika Rasa. Lebih dari 1.600 resep makanan dituliskan dalam buku ini. Sebuah kekayaan budaya yang tidak ternilai.
Meski berupa kumpulan resep makanan, buku Mustika Rasa seolah ingin berkata, tiada ribuan resep makanan tanpa kekayaan hayati Nusantara, tiada ribuan resep makanan tanpa kekayaan dan akulturasi budaya Nusantara. Sebab itu, lestarikan alamnya, hormati budayanya.
Tak terbantahkan, kuliner Nusantara menjadi bukti nyata keluhuran warisan budaya bendawi yang kaya rasa karena beragam kondimen dan tinggi nutrisi dari bumi pertiwi yang masih alami. Dari kuliner, kita bisa mendapati hikmah, sejak dulu nenek moyang kita tidak pernah menutup diri dari kebudayaan luar. Moyang kita tidak terbawa arus kebudayaan luar. Sebaliknya, kebudayaan luar disaring dan dilarutkan ke dalam, membentuk hibriditas baru yang lebih unggul. Hal itu tecermin pada kuliner Nusantara yang semakin kaya warna, rasa, dan ragam dengan menerima pengaruh dari Arab, India, Tiongkok, bahkan Eropa.
Namun, saat tersaji di meja makan keluarga Indonesia, menu makanan itu tetap berciri utama masakan Nusantara. Rendang Padang punya pengaruh dari India, tetapi saat tersaji di meja makan, namanya Rendang Padang, bukan goulash atau kalio India. Kuliner Nusantara juga terjaga lebih dari satu abad lalu. Masakan rawon sudah tertera dalam Prasasti Taji (910 M) yang ditemukan di dekat Ponorogo, Jawa Timur.
Ragam Kuliner Madura
Madura memiliki kekayaan kuliner yang tak kalah dahsyat seperti layaknya kuliner Nusantara lainnya yang kaya rasa. Memang dibandingkan dengan rendang, soto, atau rawon, kuliner Madura belum seterkenal itu. Sebut saja beragam kuliner dari Madura antara lain; topa’ ladha, kaldu kokot, bebek songkem, bebek sinjay, nasi serpang, rujak cingur, tajin sobih, lorjuk, nasi jagung, dan sate Madura.
Dari keseluruhan kuliner Madura di atas, saya kira hanya sate, bebek sinjay, dan lorjuk yang cukup terkenal. Sate Madura terkenal seiring berdiasporanya orang-orang Madura di seluruh penjuru negeri. Berjualan sate merupakan satu di antara sekian pilihan orang-orang Madura saat merantau. Karena migrasi sosial inilah yang membuat sate Madura populer. Berbeda dengan keterkenalan sate Madura melalui peran usaha mikro, bebek sinjay terkenal karena dukungan investasi rumah makan franchise di berbagai kota besar. Sementara lorjuk cukup terkenal karena hampir menjadi jajanan wajib yang dihidangkan saat Lebaran bagi warga Madura, Surabaya, dan sekitarnya.
Kuliner telah menjadi wisata kreatif yang sangat menjanjikan serta memiliki efek multiplayer yang cukup luas. Lebih penting lagi menggerakkan sektor primer, yakni pangan rakyat. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020 menyebutkan, PDB sektor kuliner sebesar Rp 455,44 triliun menyumbang 41 persen PDB sektor ekonomi kreatif. Ke depan bisnis kuliner sangat menjanjikan. Sebab, sektor ini mampu merangkum tiga hal sekaligus; makan sebagai kebutuhan pokok, bersosialisasi, dan berwisata.
Sebab itu, sangat baik bila pemerintah kabupaten se-Madura, termasuk warga Madura di rantau, mengangkat kuliner Madura. Setidaknya ada beberapa pola untuk mengangkat dan memopulerkan kuliner Madura. Pertama, pemerintah kabupaten se-Madura menyediakan destinasi kuliner bagi setiap kunjungan wisatawan ke Madura.
Kunjungan kuliner bagi orang luar daerah telah menjelma menjadi ”agenda wajib” karena itu market ini harus ditangkap dengan baik. Skalanya dapat dimulai dari level pujasera sebagai ruang uji coba. Namun, hospitality-nya harus bersandar minimal hotel bintang 3. Langkah ini bertujuan agar memberikan kesan mendalam atas Madura dan menopang identitas kemaduraan pada khazanah kuliner Nusantara.
Kedua, bagi warga Madura di rantau dapat meniru konsep warung tegal (warteg). Jaringan warteg telah menggurita di ibu kota dan sekitarnya. Skalanya warung, namun menyajikan beragam menu. Akan tetapi, harganya ramah di kantong untuk kelas pekerja dengan standar gaji upah minimum. Saya kira jaringan warung Madura sangat prospektif dikembangkan di luar Madura. Apalagi, diaspora orang madura ada di mana-mana.
Ketiga, pemerintah kabupaten se-Madura dapat memberikan data dan kalkulasi investasi bila menunjukkan kelayakan investasi atas beberapa kuliner Madura. Hasil kajian ini dapat ditawarkan kepada investor skala franchise. Terlebih bila pemerintah daerah memberikan dukungan berbagai insentif bagi mereka yang mau masuk bisnis kuliner Madura. Saya kira itu penawaran yang menarik bagi para pelaku usaha. (*) Editor : Abdul Basri